.

Selasa, 26 Maret 2013

Menghilangkan Virus Ramnit Shortcut


Apakabar semuanya.. dah lama ndak nulis, kali ini kepengin nulis cara aman menghilangkan virus ramnit atau shortcut. Yap diawal tahun ini kayaknya lagi terserang beberapa masalah, salah satunya ya virus ramnit ini. Pedoman aku sih Bukan pengguna windows namanya kalo gak pernah berhubungan dengan yang namanya ‘VIRUS’ dan bukan anak TI namanya kalo laptop kena virus langsung install ulang, , :v haha..



Owh ya, sebelum kena virus ini di laptop aku itu cuma aku pasangin antivirus lokal yang merknya smadav itu, dan selama ini juga belom pernah kejadian yang aneh2 dilaptop aku.. makanya fine fine aja cuma make smadav . Eh tadi sore pas nyolokin flashdisk dung dung dung.. si smadav teriak-teriak kalo ada virus shortuct atau ramnit yang terdeteksi, aku

coba fix/bersihkan menggunakan di ijo smadav.. ternyata hasilnya ndak bisa..

Mulai dah otaknya bekerja.. pertama cek dulu di startupnya windows.. ada di direktori berikut….

C:\Users\pratama\AppData\Roaming\Microsoft\Windows\Start Menu\Programs\Startup>

ternyata ada sebuah file .exe yang tidak biasanya.. karena aku udah inget yang dijalanin secara otomatis ketika windowsku hidup itu hanyalah Dropbox sama megacloud. . binggo itu virusnya..


Dan segera didelete.. coba bersihkan flashdisk lagi.. tapi masih muncul lagi virusnya.. muke gile ini virus.. oke.. kembalilah ke tempat biasanya nongkrong (*macam anak gaul) ya kemana lagi,, kaskus.com men.. masuk dah ke trit mastah virus dan tetekbengek.. kesini kalo mau masuk klik buka halaman pertamax (halaman pertama) kemudian pake jurus CTRL+F ketik ramnit dan bingo :matabelo: dapet ini..





Download dah.. dan jalanin.. dan akhirnya semua masalah beres..

Pengen download juga..?? download disini gan.. klik

Shorce: http://pratamawijaya.com

Minggu, 24 Maret 2013

Bahaya Obat-Obatan





Bahaya obat-obatan tidak semua orang tau. Sedikit sakit, langsung sering ke dokter. Padahal sering ke dokter bukan hal yang bijak. Obat tidak selamanya baik, kadang obat justru berbahaya dan punya dampak buruk terutama bagi anak. Mari kita dapatkan pencerahan dari tulisan mengapa sebaiknya kita menghindari obat-obatan bagi balita. Walau secara tidak langsung menjelaskan bahaya obat-obatan, saya ingin pembaca bisa menilai dampak buruk dari obat bagi anak dari postingan ini.

Bahaya Obat-obatan bagi Anak

Sebagian Alasan Kenapa Dokter Dokter Di Negara Maju "pelit" Kasih Obat ke Anak yg Sakit

** Dimana Salahnya?**

Malik tergolek lemas. Matanya sayu. Bibirnya pecah-pecah. Wajahnya kian tirus. Di mataku ia berubah seperti anak dua tahun kurang gizi. Biasanya aku selalu mendengar celoteh dan tawanya di pagi hari. Kini tersenyum pun ia tak mau. Sesekali ia muntah. Dan setiap melihatnya muntah, hatiku ...tergores-gores rasanya. Lambungnya diperas habis-habisan seumpama ampas kelapa yang tak lagi bisa mengeluarkan santan. Pedih sekali melihatnya terkaing-kaing seperti itu.

Waktu itu, belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak juga ada perbaikan aku membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dokter Knol namanya.

"Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection." kata dokter tua itu.

"Ha? Just wait and see? Apa dia nggak liat anakku dying begitu?" batinku meradang. Ya…ya…aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain. Dikasih obat juga enggak! Huh! Dokter Belanda memang keterlaluan! Aku betul-betul menahan kesal.

"Obat penurun panas Dok?" tanyaku lagi.
"Actually that is not necessary if the fever below 40 C."

Waks! Nggak perlu dikasih obat panas? Kalau anakku kenapa-kenapa memangnya dia mau nanggung? Kesalku kian membuncah.

Tapi aku tak ingin ngeyel soal obat penurun panas. Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat jenis lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit obat. Karena itu aku membawa setumpuk obat-obatan dari Indonesia, termasuk obat penurun panas.
Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya juga bertambah. Aku segera kembali ke dokter. Tapi si dokter tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium baru akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.

"Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok," kataku.
Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. "Apakah dia sudah minum suatu obat?"

Aku mengangguk. "Ibuprofen syrup Dok," jawabku.

Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah ngomel-ngomel,"Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri paracetamol saja."


Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku betul-betul jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau! Nah kalau buat anak nggak baik kenapa di Indonesia obat itu bertebaran! Batinku meradang.

Untungnya aku masih bisa menahan diri. Tapi setibanya dirumah, suamiku langsung menjadi korban kekesalanku."Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya je. Mau 37 keq, 38 apa 39 derajat keq, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih. Sirup ibuprofen juga dikasih koq ke anak yang panas, bukan cuma parasetamol. Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!" Seperti rentetan peluru, kicauanku bertubi-tubi keluar dari mulutku.

"Mana Malik nggak dikasih apa-apa pulak, cuma suruh minum parasetamol doang, itu pun kalau suhunya diatas 40 derajat C! Duuh memang keterlaluan Yah dokter Belanda itu!"

Suamiku menimpali, "Lho, kalau Mama punya alasan, kenapa tadi nggak bilang ke dokternya?"
Aku menarik napas panjang. "Hmm…tadi aku sudah kadung bete sama si dokter, rasanya ingin buru-buru pulang saja. Tapi…alasannya apa ya?"

Mendadak aku kebingungan. Aku akui, sewaktu praktek menjadi dokter dulu, aku lebih banyak mencontek apa yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi hanya secuil-secuil ilmu yang kudapat. Persis seperti orang yang katanya travelling keliling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, lalu dua hari pergi ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas beberapa hari berdiam di Berlin dan Swiss, kemudian waktu habis. Tibalah saatnya pulang lagi ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa, padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama saja. Masih banyak sekali negara dan kota-kota di Eropa yang belum disambanginya. Dan itu lah yang terjadi pada kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah kadang-kadang apa yang sudah kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng seperti dokter-dokter senior, akhirnya kami pun sering mengintip resep ajian senior!


Setelah Malik sembuh, beberapa minggu kemudian, Lala, putri pertamaku ikut-ikutan sakit. Suara Srat..srut..srat srut dari hidungnya bersahut-sahutan. Sesekali wajahnya memerah gelap dan bola matanya seperti mau copot saat batuknya menggila. Kadang hingga bermenit-menit batuknya tak berhenti. Sesak rasanya dadaku setiap kali mendengarnya batuk. Suara uhuk-uhuk itu baru reda jika ia memuntahkan semua isi perut dan kerongkongannya. Duuh Gustiiii…kenapa tidak Kau pindahkan saja rasa sakitnya padaku Nyerii rasanya hatiku melihat rautnya yang seperti itu. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia pada putriku. Tapi batuknya tak kunjung hilang dan ingusnya masih meler saja. Lima hari kemudian, Lala pun segera kubawa ke huisart. Dan lagi-lagi dokter itu mengecewakan aku.

"Just drink a lot," katanya ringan.

Aduuuh Dook! Tapi anakku tuh matanya sampai kayak mata sapi melotot kalau batuk, batinku kesal.

"Apa nggak perlu dikasih antibiotik Dok?" tanyaku tak puas.

"This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik," jawabnya lagi.

Ggrh…gregetan deh rasanya. Lalu ngapain dong aku ke dokter, kalo tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat. Paling enggak kasih vitamin keq! omelku dalam hati.
"Lalu Dok, buat batuknya gimana Dok? Batuknya tuh betul-betul terus-terusan," kataku ngeyel.

Dengan santai si dokter pun menjawab,"Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat juga banyak koq."
Hmm…lumayan lah… kali ini aku pulang dari dokter bisa membawa obat, walau itu pun harus dengan perjuangan ngeyel setengah mati dan walau ternyata isi obat Thyme itu hanya berisi ekstrak daun thyme dan madu.

"Kenapa sih negara ini, katanya negara maju, tapi koq dokternya kayak begini." Aku masih saja sering mengomel soal huisart kami kepada suamiku. Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim dengan internet. Jadi yang ada di kepalaku, cara berobat yang betul adalah seperti di Indonesia. Di Indonesia, anak-anakku punya langganan beberapa dokter spesialis anak. Dokter-dokter ini pernah menjadi dosenku ketika aku kuliah. Maklum, walaupun aku lulusan fakultas kedokteran, tapi aku malah tidak pede mengobati anakanakku sendiri. Dan walaupun anak-anakku hanya menderita penyakit sehari-hari yang umum terjadi pada anak seperti demam, batuk pilek, mencret, aku tetap membawa mereka ke dokter anak. Meski baru sehari, dua atau tiga hari mereka sakit, buru-buru mereka kubawa ke dokter. Tak pernah aku pulang tanpa obat. Dan tentu saja obat dewa itu, sang antibiotik, selalu ada dalam kantong plastik obatku.

Tak lama berselang putriku memang sembuh. Tapi sebulan kemudian ia sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini termasuk ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit. Karena khawatir ada yang tak beres, lagi-lagi aku membawanya ke huisart.

"Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya, kenapa ya Dok.?

Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan lubang hidungnya,huisart-ku menjawab,"Nothing to worry. Just a viral infection."

Aduuuh Doook… apa nggak ada kata-kata lain selain viral infection seh! Lagilagi aku sebal.

"Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok," aku ngeyel seperti biasa.

Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum. "Do you know how many times normally children get sick every year?"

Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. "enam kali," jawabku asal.

"Twelve time in a year, researcher said," katanya sambil tersenyum lebar. "Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat," sambungnya.

Glek! Aku cuma bisa menelan ludah. Dijawab dengan data-data ilmiah seperti itu, kali ini aku pulang ke rumah dengan perasaan malu. Hmm…apa aku yang salah? Dimana salahnya? Ah sudahlah…barangkali si dokter benar, barangkali memang aku yang selama ini kurang belajar.

Setelah aku bisa beradaptasi dengan kehidupan di negara Belanda, aku mulai berinteraksi dengan internet. Suatu saat aku menemukan artikel milik Prof. Iwan Darmansjah, seorang ahli obat-obatan dari Fakultas Kedokteran UI. Bunyinya begini: "Batuk - pilek beserta demam yang terjadi sekali-kali dalam 6 - 12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar. Tetapi observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi setiap 2 - 3 minggu selama bertahun-tahun." Wah persis seperti yang dikatakan huisartku, batinku. Dan betul anak-anakku memang sering sekali sakit sewaktu di Indonesia dulu.

"Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan dalam penanganannya," Lanjut artikel itu. "Pertama, pengobatan yang diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 - 3 minggu dan perlu berobat lagi.


Lingkaran setan ini: sakit –antibiotik - imunitas menurun - sakit lagi, akan membuat si anak diganggu panas-batuk-pilek sepanjang tahun, selama bertahun-tahun."

Hwaaaa! Rupanya ini lah yang selama ini terjadi pada anakku. Duuh…duuh..kemana saja aku selama ini sehingga tak menyadari kesalahan yang kubuat sendiri pada anak-anakku. Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho! Masa sih aku tak percaya kepada mereka. Dan rupanya, setelah di Belanda 'dipaksa' tak lagi pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak sehari-hari, sekarang kondisi anak-anakku jauh lebih baik. Disini, mereka jadi jarang sakit, hanya diawal-awal kedatangan saja mereka sakit.

Kemudian, aku membaca lagi artikel-artikel lain milik prof Iwan Darmansjah. Dan di suatu titik, aku tercenung mengingat kata-kata 'pengobatan rasional'. Lho…bukankah dulu aku juga pernah mendapatkan kuliah tentang apa itu pengobatan rasional. Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yang selama ini kulakukan, tidak meneliti baik-baik obat yang kuberikan pada anak-anakku, sedikit-sedikit memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan seperti, batuk, pilek, demam, mencret, aku sudah panik dan segera membawa anak ke dokter, serta sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional! Hmm... kalau begitu, sistem kesehatan di Belanda adalah sebuah contoh sistem yang menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.

Belakangan aku pun baru mengetahui bahwa ibuprofen memang lebih efektif menurunkan demam pada anak, sehingga di banyak negara termasuk Amerika Serikat, ibuprofen dipakai secara luas untuk anakanak. Tetapi karena resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen juga tersedia di apotek dan boleh digunakan untuk usia anak diatas 6 bulan, namun di kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan pertama pada anak yang mengalami demam. "Duh, untung ya Yah aku nggak bilang ke huisart kita kalo aku ini di Indonesia adalah seorang dokter. Kalo iya malu-maluin banget nggak sih, ketauan begonya hehe," kataku pada suamiku.

Jadi, bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Aku tak ingin berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang terpinggirkan, ceritanya bisa lain. Karena kekurangan dan ketidakmampuan, untuk kasus penyakit anak sehari-hari, orang-orang desa itu malah relatif 'terlindungi' dari paparan obat-obatan yang tak perlu. Sementara kita yang tinggal di kota besar, yang cukup berduit, sudah melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan media. Batuk pilek sedikit ke dokter, demam sedikit ke dokter, mencret sedikit ke dokter. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat, biasanya kita malah ngomel-ngomel, 'memaksa' agar si dokter memberikan obat. Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter 'menjual' obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.

Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?





Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini seharusnya? Uh! Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh!

Tapi yang pasti kini aku sadar…telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya 'hanya' untuk konsultasi, memastikan diagnosa penyakit anakku dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik saja.
Tapi di Indonesia, bukankah paradigma yang masih kerap dipegang adalah ke dokter = dapat obat? Sehingga tak jarang dokter malah tidak bisa bertindak rasional karena tuntutan pasien. Aku juga sadar sistem kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi. Intinya, sistem kesehatan yang ada di Indonesia saat ini membuat dokter menjadi sulit untuk bersikap rasional.

Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Ah rasanya percuma mencari-cari ujung pangkal salahnya. Menunjuk siapa yang salah pun tak ada gunanya. Tapi kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Yang pasti, sebagai pasien kita pun tak bisa tinggal diam. Siapa bilang pasien tak punya kekuatan untuk merubah sistem kesehatan? Setidaknya, bila pasien 'bergerak', masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan.

Dikutip dari buku "Smart Patient" karya dr. Agnes Tri Harjaningrum.


Semoga kita bisa membesarkan anak tanpa obat, karena obat ada bahaya tersendiri bagi perkembangan anak. Dampak buruk obat bagi anak terutama adalah memperlemah kekebalan tubuh anak terhadap penyakit.
http://www.ronywijaya.web.id/2012/05/bahaya-obat-obatan.html

Kamis, 21 Maret 2013

Pemilik Mahar Paling Cantik



Pemilik Mahar Paling Cantik: Ummu Sulaim Binti Milhan

Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 
“Aku masuk ke syurga lalu terdengar sebuah suara di hadapanku. Ternyata beliau ialah Al-Ghumaisha’ bintu Milhan”[HR Bukhari]

“ Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu kekal di dalam taman-taman dan sungai-sungai di tempat yang disenangi, di sisi Yang Maha Berkuasa” [Al-Qamar: 54-55]”

Bersama orang-orang Ansar
Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam pernah mendoakan orang-orang Ansar dengan doa baginda yang sangat istimewa;

“ Ya Allah, rahmatilah orang-orang Ansar dan anak orang-orang Ansar serta cucu orang-orang Ansar” [HR Bukhari dan Muslim]

Srikandi tauladan kita kali ini ialah salah seorang wanita Ansar, yang termasuk di kalangan sahabiyah yang mulia dan paling utama. Beliau menghimpunkan ilmu, kebijaksanaan, keberanian, kemurahan hati, kesucian peribadi dan keikhlasan yang tulus semata-mata bagi Allah dan RasulNya.

Jiwa wanita yang bijaksana ini telah dipenuhi dengan iman sejak pertama kali beliau mendengarnya, lalu beliau menghadirkan fenomena tersendiri yang menyaksikan kecemerlangan, kemuliaan dan kebaikan dirinya sepanjang zaman. Sahabiyah terbaik ini juga ialah ibu kepada seorang sahabat yang terbaik, yang mendapatkan kedudukan khusus di sisi Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, iaitu Anas bin Malik. Abu Nu’aim Al-Asybahany mengungkapkan jati diri wanita ini dengan berkata, “Ummu Sulaim adalah wanita yang tunduk kepada keputusan orang yang dicintainya, yang biasa membawa tombak di dalam peperangan!”

Di kesempatan ini, marilah kita susuri nasab sahabiyah yang mulia ini, yang biografinya harum semerbak, enak didengar dan menyenangkan hati. Beliaulah Ummu Sulaim bintu Milhan bin Khalid bin Zaid bin Haram An-Najariyah Al-Anshariyah Al-Khazrajiyah. [Siyar Alamin-Nubala, 2/304]. Semoga mujahidah yang sabar, khusyuk, mulia, patuh beragama serta berkedudukan ini menjadi tauladan buat kita semua.

Keteguhan Iman Ummu Sulaim
Sejak hari pertama keIslamannya, Ummu Sulaim telah menyajikan keteguhan peribadi yang mengagumkan dan layak untuk diteladani. Ini menunjukkan barakah dan ketajaman akalnya, disamping iman, keikhlasan dan kebenarannya. Beliau telah memeluk Islam dan ikut berbaiat di saat suaminya ketika itu (Malik bin An-Nadhar, ayah kepada Anas bin Malik) berada di luar Madinah. Iman meresap ke dasar hatinya dan kekal terpateri di sana. Beliau mencintai Islam dengan kecintaan yang sangat mendalam, sehingga kerana itu beliau tetap teguh di hadapan suaminya yang masih musyrik. Kisah menarik ini merupakan kisah yang mengangkat martabat Ummu Sulaim dan menempatkan beliau setaraf dengan para muslimin di awal dakwah Islam di kalangan kaum Ansar. Ayuh kita ikuti kisah ini.

Sejurus selepas pengislaman Ummu Sulaim, suaminya kembali seraya memarahi beliau dengan berkata, “Apakah engkau telah murtad?”. Ummu Sulaim lantas menjawab dengan tegas, “Aku tidak murtad, tetapi aku telah beriman dengan orang ini (Rasulullah)”. Tidak cukup dengan itu, beliau turut memimpin tangan anaknya, Anas dan mengisyaratkan Anas agar mengucapkan lafaz syahadatain. Anas akur. Malik, suami Ummu Sulaim semakin marah dengan tindakan isterinya sehingga beliau menengking dengan kasar, “Jangan kau rosakkan anakku!”. Tetapi dengan penuh kebijaksanaan Ummu Sulaim menjawab, “Sesungguhnya aku tidak merosakkannya, tetapi menunjukinya kepada kebenaran”. Dengan membawa kemarahan yang menggumpal, Malik bin An-Nadhar memulakan perjalanan ke Syam, tetapi dibunuh musuhnya di pertengahan perjalanan tersebut. Ketika berita kematian suaminya sampai ke pengetahuan Ummu Sulaim, beliau menerimanya dengan berlapang dada dan bertekad untuk memelihara Anas sebaik-baiknya. Beliau juga berjanji tidak akan berkahwin semula sehinggalah Anas membenarkannya berbuat demikian. 

Sejak itu, perhatian beliau tertumpah kepada pendidikan anaknya. Beliau mengajarkan Anas tentang kecintaan kepada RasulullahSallallahu Alaihi wa Sallam dan Islam. Setelah Baginda Rasul tiba di Madinah sebagai muhajir, Ummu Sulaim segera mendatangi baginda dengan membawa Anas yang ketika itu masih kanak-kanak dan belum mencapai usia baligh. Beliau berkata kepada RasulullahSallallahu Alaihi wa Sallam:

“Wahai Rasulullah, ini Unais (nama kecil Anas). Aku mendatangi engkau agar dia mengabdi kepada engkau. Maka berdoalah kepada Allah bagi dirinya” Maka, baginda bersabda, “Ya Allah, perbanyakkanlah harta dan anaknya” (Dala’ilun-Nubuwwah, 6/194-195).

Anas mendapat bimbingan dan pengasuhan di rumah Rasulullah yang kemudiannya menghantarkan beliau kepada kedudukan mulia sebagai salah seorang sahabat terkemuka. 

Ummu Sulaim benar-benar mengotakan janji yang pernah diucapkan kepada anaknya. Beliau mendidik Anas dengan sebaik-baik didikan, sehingga Anas pernah berkata, “Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada ibuku kerana beliau telah mengasuhku dengan sangat baik” . 

Mahar Yang Paling Indah


Ummu Sulaim juga tidak menerima lamaran-lamaran yang datang kepadanya sehinggalah Anas berusia cukup dewasa. Beliau kemudiannya dilamar oleh Abu Talhah Al-Anshary yang ketika mengajukan lamaran tersebut masih seorang musyrik. Ummu Sulaim dituntut untuk mempertimbangkan lamaran lelaki tersebut kerana Abu Talhah merupakan seorang yang berpengaruh di dalam masyarakat. Ketika Abu Talhah menemui beliau buat kali kedua untuk tujuan yang sama, Ummu Sulaim menjawab lamaran tersebut dengan berkata

“Wahai Abu Talhah, lelaki seperti engkau tidak layak untuk ditolak. Tetapi engkau seorang kafir, sementara aku wanita Muslimah dan tidak mungkin bagiku untuk menikahi engkau”

“ Apa yang perlu kulakukan untuk tujuan itu?” tanya Abu Talhah.

“Hendaklah engkau menemui Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam” Jawab Ummu Sulaim.

Abu Talhah segera beranjak untuk menemui Rasulullah yang ketika itu sedang duduk di tengah-tengah para sahabat. Ketika melihat kehadiran Abu Talhah, baginda Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Abu Talhah mendatangi kalian, dan tanda-tanda keislaman tampak di antara kedua matanya”. Abu Talhah memberitahu Rasulullah apa yang dikatakan Ummu Sulaim. Akhirnya, Abu Talhah memeluk Islam di hadapan baginda dan para sahabat. Beliau juga bersetuju menikahi Ummu Sulaim dengan mahar keIslamannya. Ummu Sulaim berkata kepada anaknya, “ Wahai Anas, bangkitlah dan nikahkanlah Abu Talhah”.

Tentang kisah pernikahan yang diberkati ini, Tsabit bin Aslam Al-Banany, salah seorang Tabi’in berkata, “Kami tidak pernah mendengarkan mahar yang lebih indah dari maharnya Ummu Sulaim, iaitu Islam!” (Shifatush Shafwah, 2/66; Siyar A’lamin-Nubala’, 2/29).

Firasat Ummu Sulaim terhadap Abu Talhah ternyata benar, sehingga beliau meraih kebahagiaan kerana kebaikan, keikhlasan dan kemuliaan suaminya. Abu Talhah juga berhak mengecap kebahagiaan kerana pernikahannya dengan seorang wanita Mukminah yang bertakwa, Ummu Sulaim, yang kerana beliaulah, Abu Talhah keluar dari kegelapan syirik ke cahaya tauhid, Islam dan jihad. Allah kemudiannya memuliakan suami isteri ini dengan kelahiran seorang anak lelaki yang diberi nama Abu Umair.

Ternyata Allah Subhanahu wa Taala berkehendak untuk menguji keluarga suci ini, yang sedari hari pertamanya lagi telah dibangun dengan ketakwaan. Di sinilah Ummu Sulaim tampil dengan gambaran istimewa lagi mengagumkan dari kisah-kisah sahabayiyah sezaman beliau. Beliau menghadirkan keutamaan sehingga tindakannya ini mekar sepanjang sejarah hingga Allah Subhanahu wa Taala mempusakakan dunia dan seisinya.

Suatu hari, Umair jatuh sakit dan meninggal dunia ketika Abu Thalhah pergi ke masjid. Ummu Sulaim menerima pemergian anak kecil itu dengan jiwa yang redha dan sabar seraya berucap, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Beliau membaringkan jasad anaknya di atas tempat tidurnya dan berkata kepada ahli keluarganya yang lain,”Jangan kalian sampaikan khabar ini kepada Abu Talhah berkenaan anaknya. Biar aku saja yang menyampaikan hal ini kepadanya”.

Sekembalinya dari masjid, Abu Talhah bertanyakan keadaan Umair, “Bagaimanakah keadaan anakku?”

“Dia lebih tenang dari keadaan sebelumnya” jawab Ummu Sulaim. Kemudian Ummu Sulaim menghidangkan makan malam kepada Abu Talhah dan menghiaskan dirinya secantik mungkin. Pada malam tersebut, mereka berjima’ dan setelah selesai, Ummu Sulaim mengkhabarkan kematian Umair kepada suaminya. Abu Talhah bersedih serta timbul kemarahan di hatinya. Beliau mendatangi Rasulullah dan menceritakan perlakuan isterinya. Mendengarkan kisah tersebut, Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan di tengah umatku seorang wanita yang sabar seperti kesabaran wanita Bani Israel”. (As-Sirah Al-Halabiyah, 3/74)

Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bertanya kepada Abu Talhah, “Apakah semalam kalian telah berjima’?”. “Ya”. Jawab Abu Talhah. Rasulullah mendoakan keberkahan bagi pasangan tersebut dan doa baginda Sallallahu Alaihi wa Sallam ini dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Taala,. Ummu Sulaim melahirkan anak lelaki yang diberi nama Abdullah hasil dari perhubungan tersebut. Diriwayatkan, Abdullah bin Abu Talhah termasuk orang-orang yang soleh. Tanda itu jelas terlihat di wajahnya. Abayah bin Rafi’ berkata, “ Aku melihat anak itu di kemudian hari mempunyai tujuh anak lelaki yang kesemuanya hafal Al-Quran” (Ath-thabaqat, 8/334; Sifathush-Shafwah, 2/69; Dala’ilun-Nubuwwah, 6/199)

Apakah Yang Engkau Miliki Wahai Ummu Sulaim?



Ummu Sulaim radhiallahu anha sentiasa memberikan hadiah dan makanan kepada RasulullahSallallahu Alaihi wa Sallam. Allah Subhanahu wa Taala juga memuliakan beliau dan memberkati pemberiannya kepada baginda Rasul. Kisah ini dituturkan sendiri oleh Anas bin Malik ketika mengkhabarkan barakah dari kebiasaan ibunya itu. Ummu Sulaim pernah mengarahkan seorang pembantunya untuk menghantarkan makanan berupa daging kambing kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam. Selesai menghantarkan pemberian tersebut, kantung kosong tersebut dikembalikan ke rumah Ummu Sulaim di saat beliau tiada di rumah. Sekembalinya ke rumah, Ummu Sulaim mendapati kantung tersebut masih penuh berisi. Lantas, beliau kembali kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam untuk meminta kepastian. 

Ummu Sulaim berkata, ” Demi yang mengutusmu dengan kebenaran dan agama yang benar, kantung ini masih penuh berisikan makanan yang kuberikan padamu sedangkan engkau wahai Rasulullah telah menerimanya dari pembantuku”

Baginda lantas menjawab, ”Wahai Ummu Sulaim, apakah engkau hairan kerana Allah telah memberikan makanan kepadamu sebagaimana engkau telah memberikan makanan kepada RasulNya? Makanlah dan berikanlah makanan itu kepada yang lain”. Ummu Sulaim kembali ke rumahnya dan membahagikan makanan itu di dalam sebuah mangkuk besar untuk 2000 orang sehingga ia menjadi bekalan makanan untuk tempoh sebulan atau dua bulan! (Hayatus-Sahabah, 3/635)

Anas turut menceritakan bahawa ibunya sering mengirimkan talam yang berisi kurma segar kepada baginda Sallallahu Alaihi wa Sallam kerana mengetahui kesukaan Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam itu. Dalam kisah yang lain, Abu Talhah pernah memberitahu kepada Ummu Sulaim tentang keadaan Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam yang sedang menahan lapar yang teramat sangat dengan berkata, ” Aku mendengar suara Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam melemah. Aku melihat beliau merasa lapar. Maka, apakah engkau mempunyai sesuatu yang boleh diberikan kepada baginda?”. Ummu Sulaim segera mengeluarkan beberapa gumpalan adunan roti dari tepung gandum dan menyuruh anaknya, Anas untuk mengirimkannya kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi wa sallam yang sedang berada di masjid bersama dengan para sahabat. Oleh kerana ramainya para sahabat yang mengelilingi Rasulullah ketika itu, Anas merasa malu untuk menyampaikan pemberian yang sedikit itu. Menyedari kehadiran Anas, Rasulullah segera menyapanya dengan berkata, ” Adakah orang tuamu mengutusmu ke sini?”. Anas mengiyakan. Rasulullah segera bersabda kepada para sahabat untuk berangkat ke rumah Abu Talhah. Di saat itu, Abu Talhah mulai ragu kerana mereka tidak memiliki sesuatu apapun untuk dihidangkan kepada para tetamu yang ramai tetapi Ummu Sulaim mencelah, ”Percayalah, Allah dan RasulNya lebih mengetahui!”

” Wahai Ummu Sulaim! Apakah yang engkau miliki saat ini?” Tanya Rasulullah.

Ummu Sulaim membawakan beberapa gumpalan roti yang ingin diberikannya kepada Rasulullah sebelumnya. Baginda mendoakan barakah ke atas pemberian tersebut, maka mereka semua menikmati makanan tersebut sehingga kekenyangan, walhal bilangan para sahabat ketika itu mencecah 90 orang lelaki. Subhanallah! (Tarikhul Islam, Adz-Zahaby, 1/357; Dala’ilun-Nubuwwah,2/532; Wafa’-ul-wafa’, 3/881-882. Diriwayatkan oleh Muttafaq Alaih. Imam Malik turut meriwayatkannya di dalam Al-Muwaththa’). 

Kedermawanan dan kemurahan hati Ummu Sulaim tidak berhenti setakat di situ sahaja. Ketika Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallammenikahi Zainab binti Jahsy, beliaulah yang menyediakan jamuan walimatul urus tersebut dengan menghidangkan makanan kegemaran Rasulullah sendiri. Barakah dari pemberian tersebut juga (dengan izin Allah) dapat menampung bilangan para sahabat yang ramai menghadiri majlis tersebut.

Maha suci Allah di atas segala kebaikan dan keberkatan yang dikurniakan kepada hamba-hambaNya yang beriman!

Wanita Yang Memenuhi Hak dan Kebajikan
Ummu Sulaim radhiallahu anha termasuk di kalangan para sahabiyah utama yang bijaksana, memiliki pendapat yang lurus, kecerdikan dan firasat yang tinggi disamping berada pada akhlak-akhlak yang mulia serta menghimpun beberapa sifat yang baik dan suci. Lantaran keperibadiannya inilah, beliau sering mengajukan persoalan-persoalan berkaitan agama kepada Rasulullah.

Tentang sikap beliau ini, Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu anha pernah berkata, ” Sebaik-baik wanita ialah wanita-wanita Ansar. Mereka tidak merasakan malu untuk bertanya tentang masalah-masalah agama dan untuk memahaminya” (Ath-Thabaqat, 8/421).

Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam juga sering mengajarkan pelbagai masalah agama dan ibadah kepada beliau. Di antaranya seperti yang diungkapkan oleh Anas bin Malik, ”Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam mengunjungi Ummu Sulaim lalu mendirikan solat tathawu’ di rumah beliau, lalu beliau bersabda, ”Wahai Ummu Sulaim, jika engkau sudah selesai mendirikan solat wajib, maka ucapkanlah subhanallah sepuluh kali, alhamdulillah sepuluh kali dan Allahu Akbar sepuluh kali, kemudian mohonlah kepada Allah menurut apapun kehendakmu, kerana dengan demikian akan dikatakan kepadamu, ’Ya, ya,ya!’”

Dengan akhlak dan kecintaan beliau kepada Allah dan RasulNya jualah yang menghantarkan beliau kepada kedudukan yang tinggi di sisi baginda Rasul, sehingga baginda sering mengajarkan dan memberikan pengarahan secara halus dalam pelaksanaan ibadah beliau. Ibnu Sa’d menyebutkan bahawa Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam pernah bertanya, ”Mengapa Ummu Sulaim tidak menunaikan haji bersama kami pada tahun ini?”

Ummu Sulaim menjawab, ”Wahai Nabi Allah, suamiku hanya memiliki dua ekor unta. Yang satu digunakannya untuk menunaikan haji dan satunya lagi dia tinggalkan untuk mengairi kebun kurmanya”

Maka baginda bersabda,” Jika tiba bulan Ramadhan, maka kerjakanlah umrah, kerana umrah pada bulan tersebut setara dengan haji di bulan Zulhijjah”. Dalam hadith lain, beliau bersabda,”Umrah pada bulan Ramadhan itu akan menggantikan hajimu bersamaku”.

Keberanian dan Jihadnya
Kita telah mengenali tokoh wanita kali ini sebagai seorang wanita yang terpandang, mulia dan terhormat, termasuk golongan wanita yang terawal menerima Islam. Kita juga telah mengenalinya sebagai isteri yang solehah, ibu yang penuh kasih sayang, ahli ibadah yang taat, dermawan dan murah hati. Lalu, bagaimana pula dengan jihadnya?


Tidak dapat diragukan bahawa beliau sering terlibat dalam pelbagai peristiwa penting, malah menyertai sejumlah wanita lain yang ikut berjihad bersama Rasulullah. Ath-Thabrany mentakhrij dari Ummu Sulaim radhiallahu anha, beliau berkata, ”Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam berperang yang disertai beberapa wanita dari kalangan Ansar, lalu kami memberikan minum orang-orang yang sakit dan mengubati orang-orang yang terluka”

Diriwayatkan juga dari Anas bin Malik ra, beliau berkata, "Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam pernah berperang bersama Ummu Sulaim serta beberapa wanita lain di kalangan Ansar, yang bertugas memberikan minuman dan mengubati orang-orang yang terluka.” (Ditakhrij Muslim)

Al Imam Adz-Zahaby Rahimahullah menyebutkan bahawa Ummu Sulaim radhiallahu anha ikut bersama di dalam Perang Hunain dan Uhud, dan dia termasuk wanita yang utama. (Siyar A’lamin-Nubala’, 2/304).

Muhammad bin Sirin, seorang tabi’in mulia pernah menyebutkan bahawa Ummu Sulaim menyertai Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallamdi Perang Uhud padahal ketika itu beliau sedang mengandungkan anaknya, Abdullah bin Abu Thalhah. Beliau membawa bersamanya sebuah tombak pendek yang diselitkan di pinggangnya. Abu Thalhah menemui Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam untuk mengkhabarkan tindakan isteri beliau. Hasilnya, Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam tersenyum mendengarkan tingkah sahabiyyah terdekat tersebut. Baginda lantas bertanya kepada Ummu Sulaim tentang kegunaan tombak pendek itu dan dijawab dengan berani oleh beliau, ”Jika ada salah seorang antara orang-orang Musyrik mendekatiku, maka aku akan menikamnya dengan tanganku sendiri!”

Inilah dia salah seorang sahabiyyah yang mendapat kemuliaan jihad di sisi barisan kaum Muslimin. Semoga Allah Subhanahu wa Taalamengurniakan balasan setimpal buat beliau. 

Kerana Aku Sangat Menyayanginya! 
Di antara bukti yang menunjukkan bahawa Ummu Sulaim memiliki kedudukan yang khusus dan istimewa di sisi Rasulullah boleh dinilai dari pertuturan Anas bin Malik, ”Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam tidak biasa memasuki rumah lain selain rumah Ummu Sulaim.Ketika hal ini ditanyakan kepada Baginda Rasul, Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ’Kerana aku sangat menyayanginya, saudaranya terbunuh ketika bersama aku” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Saudaranya yang dimaksudkan di sini ialah Haram bin Milhan, yang turut sama berjihad di medan Badar, Uhud, lalu gugur syahid fi sabilillah dalam Perang Bi’r Ma’unah pada tahun keempat setelah hijrah. Beliaulah yang mengucapkan kata-kata terkenal ”Demi Rabb Kaabah! Aku telah meraih keberuntungan yang besar” sejurus selepas beliau ditikam musuh dari arah belakang sehingga hujung tombak menembusi dadanya dan mata tombak terlihat dari arah hadapan tubuhnya. Semoga Allah redha kepadaNya seperti redhanya beliau kepada Tuhannya. (Siyar A’lamin-Nubala’, 2/307; Al-Ibtishar, hal. 36).

Rasulullah sangat sering mengunjungi Ummu Sulaim di rumah beliau, memberikan sesuatu dan mendoakan keluarga tersebut. Anas meriwayatkan hal ini dengan berkata,” Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam datang ke rumah kami, sementara yang ada di rumah hanya aku, ibuku, dan ibu saudaraku, lalu beliau bersabda, ’Bangunlah kalian, kerana aku akan solat bersama kalian. Para wanita solat di sebelah kanan baginda. Selesai solat, baginda mendoakan segala kebaikan dunia dan akhirat bagi kami” (Al-Ibtishar, hal. 39-40).

Anas juga pernah menuturkan, ”Jika Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam lalu tidak jauh dari tempat Ummu Sulaim, maka baginda akan menemuinya dan mengucapkan salam kepadanya” (Diriwayakan oleh Al-Bukhari, Muslim dan Nasaei)

Maka, cukuplah kebanggaan dan kemuliaan bagi Ummu Sulaim kerana Rasulullah sendiri telah mengkhususkan kunjungan, salam, doa dan solat di rumahnya.

Nisa’ Mubasysyarat Bil Jannah!
Sahabiyah Ummu Sulaim radhiallahu anha adalah salah seorang wanita utama yang meninggalkan jejak yang abadi di dalam sejarah Islam. Al Imam An-Nawawy Rahimahullah berkata tentang dirinya, ” Dia termasuk wanita-wanita yang utama” (Tahdzibul-Asma’, 2/363).

Beliau seorang isteri yang solehah, daie yang bijaksana dan pendidik yang utama dengan cara menyerahkan anaknya ke madrasah Nubuwwah untuk menceduk ilmu dan hikmah langsung dari sumbernya sehingga anak beliau meraih gelar dan darjat yang tinggi di sisi Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam.

Di samping itu, Ummu Sulaim radhiallahu anha juga seorang penghafal hadis Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau meriwayatkan empat belas hadis dari baginda, dua hadis Muttafaq Alaihi, satu hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan dua hadis diriwayatkan oleh Muslim.

Ummu Sulaim radhiallahu anha juga mendapatkan khabar gembira sebagai salah seorang nisa’ mubasysyarat bil jannah (wanita yang dijamin syurga). Khabar ini disampaikan melalui Anas bin Malik radhiallahu anhu yang menuturkan dari sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, ”Aku masuk syurga lalu aku terdengar sebuah suara di hadapanku. Ternyata aku sedang berhadapan dengan Al-Ghumaisya’ bintu Milhan” [HR Bukhari]

Al-Ghumaisya’ dalam hadis di atas ialah Ummu Sulaim radiallahu anha. Sesungguhnya keberuntungan yang besar bagi diri sahabiyah utama ini atas keredhaan Allah dan kecintaan Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam terhadapnya. 

Wallahu 'alam

Source: http://www.mykhilafah.com/srikandi-tauladan/1293-pemilik-mahar-paling-indahummu-sulaim-binti-milhan

Jumat, 15 Maret 2013

Jangan Memberi Harapan Jika Benar-Benar Tidak Cinta.






Jika kamu tak yakin dengan hatimu,
Jangan beri harapan pada dia yang tulus mencintaimu.
Kamu bukan saja akan menyakitinya, tapi akan menyiksa dirimu sendiri.

Kenapa..??

Saat ini bolehlah dia mencintaimu tanpa kamu cintai,
Tapi suatu saat ketika dia udah jenuh menunggu tanggapan darimu,
Dia akan pergi meninggalkanmu dan setelah itu kamu baru sadar kalau kamu mencintainya juga....

Oke nice banget kata-katanya..





Source: http://anehdan-nyata.blogspot.com/2012/11/jangan-memberi-harapan.html

Rabu, 13 Maret 2013

Aritmia, etiologi dan mekanisme terjadinya



Bila yang dimaksud dengan irama jantung normal adalah irama yang berasal dari nodus SA, yang datang secara teratur dengan frekuensi antara 60-100/menit, dan dengan hantaran yang tak mengalai hambatan pada tingkat manapun, maka irama jantung yang lainnya dapat dikatakan sebagai aritmia.

Istilah aritmia merujuk pada setiap gangguan frekuensi, regularitas, tempat asal, atau konduksi impuls listrik jantung.

Jadi yang dapat didefinisikan sebagai aritmia adalah:
irama yang berasal bukan dari nodus SA
irama yang tidak teratur, sekalipun ia berasal dai nodus SA, misalnya sinus aritmia
frekuensi kurang dari 60x/menit (sinus bradikardia) atau lebih dari 100x/menit (sinus takikardia)
terdapatnya hambatan impuls supra atau intraventrikular.

Faktor-faktor aritmogenik
Hipoksia: miokardium yang kurang oksigen adalah miokardium yang tidak sehat. Kelainan paru entah itu penyakit paru kronik berat atau emboli paru akut adalah pencetus utama aritmia jantung


Iskemia dan iritabilitas: infark miokardium merupakan keadaan yang umumnya menyebabkan aritmia. Angina juga merupakan pencetus utama, bahkan tanpa perlu adanya Kematian sel miokardium akibat infark. Miokarditis, yaitu peradangan otot jantung yang sering disebabkan oleh infeksi virus berulang dapat mencetuskan aritmia.
Stimulasi simpatis: tonus simpatis yang meningkat karena hipertiroidisme, gagal jantung kongestif, gugup, olahraga, dll dapat mencetuskan aritmia.

Drugs (obat-obatan): banyak obat yang dapat menyebabkan aritmia. Bahkan obat-obatan antiaritmia sendiri seperti kuinidin turut menjadi penyebab aritmia.

Gangguan elektrolit: hipokalemia ditakuti karena krmampuannya mencetuskna aritmia tetapi ketidakseimbangan kalsium dan magnesium turut bertanggung jawab.

Bradikardia: frekuensi jantung yang sangan lambat tampaknya cenderung berubah menjadi aritmia.
Strecth (regangan): pembesaran dan hipertropi atrium dan ventrikel dapat mencetuskan aritmia.
Kelainan struktur sistem konduksi: penderita yang memiliki fetal despersi di AV node dan fasciculo ventricular connection atau yanmemiliki jalur tambahan seperti pada sindrom wollf-parkinson-White sangat mudah mengalami aritmia melalui mekanisme preeksitasi

Interval QT yang memanjang: pada penderita penyakit jantung koroner, kelainan struktur jantung atau gangguan elektrolit yang disertai interval QT memanjang akan lebih sering terjadi aritmia dibandingkan dengan individu normal.

Beberapa etiologi ini dapat saling memberatkan, artinya bila telah ada hipertropi otot jantung misalnya, kemudian pula timbul iskemia dan gannguan keseimbangan elektrolit maka aritmia akan lebih mudah timbul sedangkan mengontrolnya lebih sulit pula.

Mekanisme aritmogenik

Mekanisme aritmogenik dapat dibagi menjadi : ganguan pembentukan impuls dan gangguan konduksi

1.1 gangguan pembentukan impuls

gangguan ini dapat dibagi menjadi:

1.1.1 kelainan automatisasi

pada keadaan normal, automatisasi (depolarisasi spontan) hanya terjadi pada nodus SA. Hal ini disebabkan karena impuls-impuls yang dicetuskan di nodus SA sedemikian cepatnya sehingga menekan proses automatisasi di sel lain.

Apabila terjadi perubahan tonus susunan saraf pusat otonom atau karena suatu penyakit di Nodus SA sendiri maka dapat terjadi aritmia

1.1.2 trigger automatisasi

dasar mekanisme trigger automatisasi ialah adanya early dan delayed after-depolarisation yaitu suatu voltase kecil yang timbul sesudah sebuah potensial aksi,

apabila suatu ketika terjadi peningkatan tonus simpatis misalnya pada gagal jantung atau terjadi penghambatan aktivitas sodium-potassium-ATP-ase misalnya pada penggunaan digitalis, hipokalemia atau hipomagnesemia atau terjadi reperfusi jaringan miokard yang iskemik misalnya pada pemberian trombolitik maka keadaan-keadaan tersebut akan mnegubah voltase kecil ini mencapai nilai ambang potensial sehingga terbentuk sebuah potensial aksi prematur yang dinamakan “trigger impuls”

trigger impuls yang pertama dapat mencetuskan sebuah trigger impuls yang kedua kemudian yang ketiga dan seterusnya samapai terjadi suatu iramam takikardai.

1.2 gangguan konduksi

1.2.1 re-entry

bilamana konduksi di dalah satu jalur tergaggu sebagai akibat iskemia atau masa refrakter, maka gelombang depolarisasi yang berjalan pada jalur tersebut akan berhenti, sedangkan gelombang pada jalur B tetap berjalan sepetisemual bahkan dapat berjalan secara retrograd masuk dan terhalang di jalur A. Apabila bebrapa saat kemudian terjadi penyembuhan pada jalur A atau masa refrakter sudah lewat maka gelombang depolarisasi dari ajlur B akan menemus rintangan jalur A dan kembali mengkatifkan jalur B sehingga terbentuk sebuah gerakan sirkuler atau reentri loop. Gelombang depolarisasi yang berjalan melingkar ini bertindak seagi generator yang secara terus-menerus mencetuskan impuls.

Reentr loop ini dapat berupa lingkaran besar melalui jalur tambahan yang disebut macroentrant atau microentrant.

1.2.2 concealed conduction (konduksi yang tersembunyi)

impuls-impuls kecil pada janutng kadang-kadang dapat menghambat dan menganggu konduksi impuls utama. Keadaan ini disebut concealed conduction. Contoh concealed conduction ini ialah pada fibrilasi atrium, pada ekstrasistol ventrikel yang dikonduksi secara retrograd. Biasanya gangguan konduksi jantung ini tidak memiliki arti klinis yang penting.

1.2.3 Blok

Blok dapat terjadi di berbagai tempat pada sistem konduksi sehingga dapat dibagi menjadi blok SA (apabila hambatan konduksi pada perinodal zpne di nodus SA); blok AV (jika hambatan konduksi terjadi di jalur antara nodus SA sampai berkas His); blok cabang berkas (bundle branch block=BBB) yang dapat terjadi di right bundle branch block atau left bundle branch block.

Aritmia yang berasal dari sinus

Takikardia sinus

Baradikardia sinus

Aritmia sinus

Henri sinus, asistol, dan denyut lolos (escape beats)

Pacu jantung non sinus

Irama ektopik

Irama-irama re-entri

Aritmia supraventrikular

Takikardia supraventrikular paroksismal

Flutter atrium

Fibrilasi atrium

Takikardia atrium multifokal

Takikardia atrium paroksismal

Aritmia ventrikular

Takikardia ventrikular

Fibrilasi ventrikular

Irama idioventrikular yang dipercepat

Torsades de pointes

Sabtu, 02 Maret 2013

PELAJARAN HIDUP DARI ZHANG DA



Seorang anak di China pada 27 Januari 2006 mendapat penghargaan tinggi dari pemerintahnya karena dinyatakan telah melakukan “Perbuatan Luar Biasa”. Diantara 9 orang peraih penghargaan itu, ia merupakan satu-satunya anak kecil yang terpilih dari 1,4 milyar penduduk China.

Yang membuatnya dianggap luar biasa ternyata adalah perhatian dan pengabdian pada ayahnya, senantiasa kerja keras dan pantang menyerah, serta perilaku dan ucapannya yang menimbulkan rasa simpati.

Sejak ia berusia 10 tahun (tahun 2001) anak ini ditinggal pergi oleh ibunya yang sudah tidak tahan lagi hidup bersama suaminya yang sakit keras dan miskin. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan.

Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuk Papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang pasti tidak murah untuk dia. Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai.

Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini. Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah.

Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggungjawab untuk meneruskan kehidupannya dan Papanya. Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya.

Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui.

Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan.

Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya.

Hidup seperti ini ia jalani selama 5 tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat. Zhang Da merawat Papanya yang sakit sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggungjawab untuk merawat papanya.

Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikan papanya, ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan papanya, semua dia kerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih. Semua pekerjaan ini menjadi tanggungjawabnya sehari-hari.

Zhang Da menyuntik sendiri papanya. Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli.

Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan injeksi / suntikan kepada pasiennya. Setelah ia rasa mampu, ia nekat untuk menyuntik papanya sendiri. Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannya selama lebih kurang lima tahun, maka Zhang Da sudah terampil dan ahli menyuntik.

Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da, pembawa acara (MC) bertanya kepadanya, “Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu? Berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah? Besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat, pengusaha, dan orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!”

Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa. MC pun berkata lagi kepadanya, “Sebut saja, mereka bisa membantumu.”

Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar ia pun menjawab, “Aku mau mama kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama kembalilah!”

Semua yang hadir pun spontan menitikkan air mata karena terharu. Tidak ada yang menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya. Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya, mengapa ia tidak minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya?

Mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit? Mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, pasti semua akan membantunya.

Mungkin apa yang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya. Aku mau Mama kembali, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya.

Kisah di atas bukan saja mengharukan namun juga menimbulkan kekaguman. Seorang anak berusia 10 tahun dapat menjalankan tanggung jawab yang berat selama 5 tahun. Kesulitan hidup telah menempa anak tersebut menjadi sosok anak yang tangguh dan pantang menyerah.

Zhang Da boleh dibilang langka karena sangat berbeda dengan anak-anak modern. Saat ini banyak anak yang segala sesuatunya selalu dimudahkan oleh orang tuanya. Karena alasan sayang, orang tua selalu membantu anaknya, meskipun sang anak sudah mampu melakukannya.

BY Mutiara Hikmah (http://www.fb.unblock-us.com/hikmahpelajaran?group_id=0)