Rabu, 30 Oktober 2013
Merawat Tulang Belakang Dengan Menjaga Posisi Tubuh Anda
Pernahkah anda merasakan nyeri tulang belakang saat bekerja atau dalam aktivitas sehari-hari? Nyeri tulang belakang kerap kali diabaikan. Padahal, begitu tulang penopang utama tubuh itu terganggu, rasa sakit menyerang dan produktivitas terganggu. Tak mengherankan mengingat tulang belakang merupakan benda dinamis yang menahan beban dari setiap aktivitas kita.
Belakangan, Andi kerap diganggu nyeri di punggung sebelah kiri. Hasil pemindaian di rumah sakit ternyata terdapat bantalan yang menonjol di leher sehingga menjepit saraf. ”Sakitnya hilang timbul,” ujarnya.
Dokter menyarankan agar bagian yang rusak tersebut diganti dengan implan. Namun, dia khawatir karena banyak orang yang mengatakan tingginya risiko operasi di rangkaian tulang belakang. Ragu dengan risiko operasi tersebut, nyeri pun terpaksa ditahan-tahan.
Sebagai makhluk berkaki dua yang berdiri tegak, tulang belakang manusia merupakan organ tubuh teramat vital karena berfungsi menopang berat badan. Tulang belakang meliputi tulang leher (cervical), bagian tengah belakang (thoracal), dan bawah belakang (lumbal/pinggang).
Rangkaian tulang belakang terbagi atas segmen-segmen dan di antara segmen terdapat sendi dan bantalan yang terdiri dari lapisan berstruktur. Bantalan berfungsi untuk melindungi agar di antara tulang tidak berbenturan. Ada pula otot-otot guna menopang tulang belakang.
Ahli bedah tulang belakang dari Ramsay Spine Center Rumah Sakit Premier Bintaro, Luthfi Gatam, mengatakan, beban terhadap tulang belakang saat duduk, bekerja, dan membawa beban sangatlah besar. Beban teringan tulang belakang hanyalah saat kita tidur.
Keluhan terbanyak gangguan pada tulang belakang umumnya berupa rasa sakit di bagian bawah (low back pain). ”Keluhan tersebut dominan karena beban tubuh kita paling besar jatuhnya di bagian bawah sehingga mudah cedera,”ujar Luthfi.
Penyebab gangguan tulang belakang antara lain gangguan otot, tulang yang hancur, bantalan yang rusak (pecah/robek), gangguan pada sendi atau campuran beberapa faktor karena tumor, kanker, dan infeksi.
Pada orang dengan struktur tulang belakang normal, gangguan tulang belakang kerap disebabkan aktivitas gerak dan postur tubuh.
Faktor risiko itu, misalnya, mengangkat beban berat berulang, membungkuk, dan gerak berlebihan. Postur statik, misalnya duduk terlalu lama, juga merupakan faktor risiko. Otot bekerja berlebihan dan terjadi kontraksi terus-menerus sehingga muncul keluhan.
Penyumbang nyeri tulang belakang lainnya kegemukan. Berat badan yang berlebih, terutama bagian perut, memaksa tubuh membentuk postur tidak sehat (memberikan tekanan berlebihan untuk tulang belakang). Posisi yang salah membuat tulang belakang bertumbukan sehingga rawan terjadi gangguan.
Dokter spesialis rehabilitasi medik dari RS Premier Bintaro, Peni Kusumastuti, menambahkan, dapat pula terjadi kelainan struktur tulang belakang yang spesifik, misalnya gangguan struktur akibat kerusakan tulang belakang, bantalan, atau persendian. ”Untuk itu, harus diketahui persis masalahnya agar penanganannya tepat,” ujarnya.
Hal lain yang dapat memperbesar risiko gangguan tulang belakang ialah proses degeneratif, yakni seiring bertambahnya usia, bantalan menjadi kering, atau terjadi pengapuran pada tulang belakang. Faktor genetik, seperti serat kolagen yang lemah, dan faktor psikologi dapat memengaruhi kesehatan tulang belakang.
Penanganan
Penanganan masalah tulang belakang diawali dengan mencari penyebab masalah utama dengan pemeriksaan klinis, pemindaian, dan radiologi. Peni mengatakan, penanganan tidak selalu berakhir di meja operasi. Jika hasil pemeriksaan, yakni gambaran klinis dan radiologi, menjurus pada kerusakan yang berat, baru ditempuh operasi. ”Itu sangat kecil, umumnya hanya di bawah 5 persen,”ujarnya.
Umumnya, diupayakan terlebih dahulu penanganan dengan cara konservatif, misalnya obat untuk mengurangi rasa sakit, fisioterapi, dan terapi latihan spesifik. ”Hasilnya, 80 persen pasien membaik. Lamanya tergantung dari penyebabnya. Untuk otot yang sakit, biasanya dalam waktu satu minggu terapi sudah membaik,” ujar Peni.
Direktur RS Premier Bintaro dr Juniwati Gunawan dan dokter spesialis saraf dari rumah sakit yang sama, dr Darmawan Mulyono SpS, mengatakan, gangguan pada tulang belakang jangan dianggap enteng. ”Jika ada keluhan, sebaiknya memeriksakan diri agar kondisi tidak bertambah parah,” ujarnya.
Peni mengatakan, menjaga kesehatan tulang belakang antara lain dapat dilakukan dengan menjaga stabilitas dan kekuatan otot sehingga mampu melindungi tulang. Hal itu dapat dilakukan dengan olahraga teratur sedari dini. Untuk mereka yang pernah bermasalah dengan tulang belakang, olahraga sebaiknya tidak yang mengandung banyak benturan.
Di samping itu, dalam beraktivitas sehari-hari perlu diperhatikan peralatan yang menunjang punggung, misalnya kursi yang dibuat dengan prinsip ergonomis yang benar dan ramah terhadap tulang belakang.
7 Makanan Yang Dapat Mencerdaskan Otak Anda
Hai, Sahabat, Tips Kesehatan. Memiliki otak yang cerdas yang dapat berpikir secara cepat dan tepat merupakan harapan setiap orang. Apabila otak kita dapat melakukan hal tersebut, maka pekerjaan dan tantangan yang kita hadapi setiap hari dapat tuntas dengan cepat pula. Untuk dapat melakukan itu semua, otak kita juga membutuhkan makanan atau nutrisi yang di butuhkannya. Lalu, makana apa saja yang dapat membantu mencerdaskan otak anda....????
Sahabat, tips kesehatan. Sebenarnya banyak sekali jenis makanan yang mudah kita dapatkan untuk menutrisi otak kita. Tapi tidak sedikit orang yang mengetahui tentang berbagai makanan yang sebenarnya dapat memenuhi nutrisi otak kita. Oleh karena itulah, tips kesehatan kali ini akan mengetengahkan sebuah artikel tentang 7 makanan yang dapat mencerdaskan otak anda. Sahabat, tips kesehatan. Berikut ini 7 makanan yang dapat mencerdaskan otak anda :
Makanan yang pertama yaitu ikan. Ikan sangat baik untuk menutrisi otak kita. Didalam tubuh ikan terdapat asam lemak omega 3. Asam lemak omega 3 ini banyak terdapat di ikan salmon, tuna dan sarden.
Makanan yang kedua yaitu pisang. Hampir semua orang menyukai pisang. Pisang ternyata juga sangat baik untuk menutrisi otak kita. Dalam buah pisang terdapat kalium dan magnesium yang berfungsi untuk transmisi saraf di tubuh serta otak anda.
Makanan yang ketiga yaitu bayam. Bayam juga sangat baik untuk menutris otak anda. Didalam bayam mengandung vitamin B9 yang berfungsi untuk meningkatkan memori yang dibutuhkan untuk mencerdaskan otak anda.
Makanan yang keempat yaitu telur. Telur yang biasa kita konsumsi juga sangat baik untuk menutris otak kita. Karena di dalam telur mengandung asam amino yang dibutuhkan untuk menutrisi otak kita.
Makanan yang kelima yaitu alpukat. Buah alpukat juga sangat baik untuk menutrisi otak kita. Karena buah alpukat mengandung atau kaya akan vitamin E. Vitamin E ini berfungsi sebagai antioksidan serta mampu melindungi otak dari penuaan dini.
Makanan yang keenam yaitu brokoli. Brokoli juga sangat baik untuk menutrisi otak anda, karena mengandung vitamin C, antioksidan serta betakaroten yang berfungsi untuk menjaga kesehatan otak anda.
Makanan yang ketujuh yaitu cokelat. Cokelat ternyata juga sangat baik untuk menutrisi otak anda. Cokelat banyak mengandung Flavonoid yang memicu pembentukan sel saraf baru pada otak yang dapat menambah kemampuan menyimpan ingatan dalam memori otak anda.
Tips Sehat Untuk yang Dines Malem
Ada banyak sekali profesi pekerjaan yang mengharuskan seseorang untukbekerja di malam hari. Hal ini tentu bila dilakukan terus-menerus akan berbahaya bagi kesehatan, sebab berlawanan dengan jam biologis manusia.
Para ahli mengatakan bahwa karyawan yang bekerja selama 3 malam atau lebih, bisa mengidap penyakit diabetes tipe 2. Ini karena gaya hidup mereka tak sehat, semisal mengonsumsi makanan tinggi kalori saat sedang bekerja.
Untuk itu, ada beberapa tips sehat untuk pekerja malam yang bisa diikuti agar terhindar dari penyakit seperti dilansir oleh Boldsky:
Jaga makanan. Usahakan makanan yang Anda konsumsi hanya makanan sehat saja semisal bayam, brokoli, buah dan lainnya yang bernutrisi tinggi.
Batasi kafein. Jangan berlebih mengonsumsi kopi, walau itu dapat membuat Anda melek sepanjang malam. Minum satu cangkir sudah cukup, sebab bila lebih akan menyebabkan Anda dehidrasi.
Air putih. Nah, air putih adalah minuman yang disarankan bila Anda bekerja malam. Ia akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan membuat Anda tetap sehat.
Hindari gorengan. Gorengan atau makanan berminyak bisa memperlambat proses pencernaan dan membuat Anda lekas lelah. Makanan berminyak juga tak baik untuk kesehatan jantung.
Berjalan. Usahakan sesekali waktu Anda berjalan berkeliling, dan tak duduk dalam waktu lama. Ini bisa membantu Anda menghilangkan kantuk dan lelah, juga menyegarkan kembali pikiran.
Ngemil sehat. Jika Anda bekerja malam, maka ngemil adalah hal yang dapat membantu membuat Anda terjaga. Camilan sehat seperti kacang almond sangat dianjurkan.
Jangan minum energy drink. Minuman jenis tersebut tak sehat dikonsumsi sebab memiliki kandungan gula dan kafein yang tinggi.
Tidur. Jika memungkinkan, tidurlah sejenak agar kondisi tubuh tetap terjaga.
Selasa, 29 Oktober 2013
Mahalkan Dirimu dari Cinta
Bicara tentang jatuh cinta, pasti semua orang pernah mengalami virus ini. Dramatis dan hangat memang. Saya pun pernah mengalami jatuh cinta. Terkadang sulit untuk berfikir secara sehat ketika sudah terjangkit virus ini. Duduk sendirian terasa berada di keramaian, berada di sekeliling kawan-kawan tetapi terasa seperti di dalam kegelapan. Kita lebih suka mengikuti jiwa dan perasaan dibandingkan akal yang diberikan oleh Allah.
Memahami Cinta Dari Awal
Sangat ditegaskan bahwa sangat perlu mendidik dan memahamkan remaja sejak awal. Bukan untuk menyuruh menikah di masa muda tetapi supaya mereka tidak mengambil definisi cinta, cara-cara bercinta atau kehidupan bercinta dari sumber-sumber yang merusak yang ada di kiri dan kanan sekeliling mereka, ketika mereka berada dalam proses menuju dewasa.
Hari ini dan hari-hari kemarin malam, definisi dan makna cinta, cara-cara bercinta dan kehidupan bercinta diambil baik langsung atau tidak langsung dari sumber-sumber yang justeru merusak hakikat cinta. Dari musik-musik, film-film, drama-drama korea, novel-novel cinta, sinetron dan sebagainya. Membuat secara tidak langsung, apabila disebut dengan cinta atau apabila virus cinta itu menyerang jiwa dan perasaan dia, maka secara otomatis mereka akan merespon virus tersebut dengan cara apa yang mereka tahu dan fahami dari sumber-sumber yang rusak tersebut.
Cinta yang salah seperti inilah yang membuat manusia apabila mereka bercinta, menjadi tidak karuan. Karena mereka menyangka cara untuk menyampaikan rasa cinta kepada orang yang dicintainya haruslah dengan kata-kata asmara mesra, dengan untaian bunga-bunga cantik merona dengan perkataan cinta dan sayang. Cinta haruslah pergi keluar berduaan, berpegang-pegangan tangan, bersentuh. Bahkan ada juga suatu tafsiran bahwa cinta haruslah dibuktikan dengan seks dan mereka mengatakan ini adalah puncaknya cinta.
Maka tidak heran apabila remaja Islam apabila terjangkit virus cinta ini, mereka merasa kebingungan. Ditambah dengan munculnya situs-situs media dan jaringan social pada hari ini. Ada yang meng-update gambar dirinya dengan kekasihnya, berciuman, berpelukan padahal belum menikah. Bahkan lebih dari itu, berani pula mengharap ‘keredhaan’ khalayak ramai atas hubungan yang melanggar syariat ini.
“Doakan ya, semoga hubungan kami langgeng sampai tua.” | “Kami doakan semoga langgeng dengan si fulan” | Sambil memicit-micit jerawat di pipi.
Ada juga yang sedikit lebih islami, walaupun mungkin tidak keluar bersama, tidak bergandengan tangan tetapi banyak yang terjebak dengan SMS, e-mail, chatting, puisi-puisi romantis dan lirik-lirik lagu dan alunan musik serta banyak lagi. Kemudian waktu banyak dihabiskan dengan masalah calon makmum dan calon imam.
Memahalkan Diri
Manusia ingin dihargai, tetapi manusia tidak akan berharga apabila dia tidak memiliki apa-apa.
Maka daripada itu, pada usia yang masih muda seperti ini kita sibukkan diri dengan mencari ‘apa-apa’ tersebut agar kita menjadi manusia yang berharga. Berharga mahal. Dan ‘apa-apa’ tersebut semestinya adalah hal-hal yang baik dan berharga juga. Kalau dipenuhi dengan sampah maka berarti sampahlah kita, busuklah kita.
Jadi, sudah berapa juz al-Qur’an yang sudah kita hafal dan pelajari?
Berapa banyak buku yang sudah kita baca dan pelajari?
Sudah berapa banyak implementasi, praktik dan amalan dari ilmu yang sudah kita pelajari?
Sudah bijakkah kita dalam menghadapi dan menjalani hidup dan pelbagai permasalahannya?
Sudah kita memulai diri kita untuk berusaha membina diri agar mampu menjadi suami dan isteri yang baik kepada pasangan kita nanti?
Daftar pertanyaan-pertanyaan seperti di atas sepatutnya senantiasa berjalan-jalan di otak kita. Menjadikan diri kita mahal dan berharga tinggi. Bukan sibuk dengan “Apakah dia jodohku?” atau “Apakah dia calon suamiku? Apakah dia calon isteriku?”.
Didalam proses perkuliahan kita mempunyai tahapan, begitu juga dalam proses percintaan. Dalam hendak membentuk dan mendirikan rumah tangga. Bukan hanya pertanyaan-pertanyaan “Apakah dia calon suamiku? Apakah dia calon imamku?”. Apakah dengan kita disibukkan dengan pikiran-pikiran pendek seperti itu, kehidupan cinta akan menjadi semakin baik?
Maka daripada itu, saya lebih senang menyibukkan diri untuk menjadi diri yang besar, mengembara melihat dunia, menimba ilmu dan mematangkan diri kita sebelum kita menyibukkan diri dengan laboratorium cinta.
Kalau kita melihat anak-anak, bahkan sejak sekolah dasar sudah mulai sibuk dengan cinta. Sibuk dengan calon imamku, calon makmumku. Ketika berusia mahasiswa yang sepatutnya menimba pengalaman untuk menjadi pemimpin dan membina ummat Islam, mempersiapkan diri untuk menjadi individu yang memberikan manfaat baik kepada masyarakat dan Islam, kita sibuk dengan asmara dan fantasi hiruk pikuk dunia rumah tangga. Sedangkan, persediaan diri menuju rumahtangga saja entah pergi ke mana.
“Saya mencintaimu sayang, semoga cinta kita bisa kekal sampai di syurga.”
Bagaimana bisa kekal di syurga, sedang diri tidak dibina dengan ilmu yang menunjukkan jalan syurga. Kalau diri tidak punya apa-apa persediaan ke syurga?
Duduk dan Bekerjalah
Coba tenangkanlah sejenak diri kita. Lepaskanlah diri kita sejenak dari segala novel, film, drama, sinerton atau musik cinta yang membuat kita sibuk untuk menjadi seperti apa yang disampaikannya, terhipnotis olehnya. Kita lihat kembali kepada diri kita, dan tanyalah apa tujuan untuk berada di muka bumi ini. Lihatlah sebentar kepada rumahtangga. Rumahtangga bukanlah syurga secara mutlak. Rumahtangga hanya akan menjadi syurga, jika kita tergerak untuk mempersiapkan diri. Jika tidak, rumahtangga bisa menjadi alam yang lebih menyiksa daripada neraka buat kita.
Rumahtangga itu memiliki banyak tanggungjawab. Rumahtangga bukan hanya kisah dua orang berkasih sayang menjalin hubungan asrama. Rumahtangga itu adalah asas kekuatan peradaban ummah Islam. Apabila rumahtangga itu bagus, kokoh dan kuat maka akan kuat pula peradaban ummah ini.
“Wahai orang yang beriman, jagalah diri kamu dan ahlul keluarga dari siksa api neraka.” QS. At-Tahrim : 6
Maka mengapa tergesa-gesa dengan perasaan? Hidupkanlah pikiran kita. Bergeraklah dan persiapkan diri. Jangan hanya duduk manis berbicara cinta sampil memicit-micit jerawat di pipi.
Duduklah sebentar, menimba pelbagai pengalaman baru, dari sekeliling kita dan dari orang yang lebih tua dari kita, dari pelbagai kitab karangan ulama-ulama besar dan ceramah-ceramah mengenai persiapan dan dunia rumahtangga.
Bukan masuk lumpur kemudian baru cari tahu cara mencari emasnya. Yang benar tentunya, mempersiapkan segala peralatan, mencari tahu cara mencari emasnya kemudian baru masuk lumpur tersebut.
Kita ada proyek lebih besar daripada sekedar cinta.
Jangan Mudah Jatuh Cinta
Kita sepatutnya jadi manusia yang berharga. Tetapi kita perlu ingat bahwa hanya manusia yang tangguh sajalah yang mampu berjaya. Tidak akan bisa syurga dicapai hanya dengan tidur, berkhayal tentang cinta sambil memicit-micit jerawat di muka.
Kita perlu mengingat bahwa selepas berumahtangga, akan masih banyak kerja-kerja yang justeru akan lebih berat. Bukan menikah, kemudian mati dan masuk syurga. Bukan saudara.
Cinta itu mungkin, tetapi maut itu pasti menjemput kita.
Allah tidak akan bertanya apakah kita berhasil menikahi orang yang kita cintai atau tidak. Tidak akan. Tetapi Allah akan bertanya kepada kita bahwa sudah engkau manfaatkan untuk apa umur dan usia yang telah Aku berikan?
Fatchul Wachid
Istanbul, 31 Juli 2013
Kamis, 24 Oktober 2013
Cermin Dakwah Hari Ini
Syaikh Abbas Hasan As-Siisi menuturkan bahwa individu adalah komponen terkecil penyusun masyarakat, Dia memegang peranan penting dalam menentukan perjalanan dan bentuk masyarakat itu sendiri. Oleh kerana itu, yang menjadi tonggak dalam gerakan kita adalah individu, kemudian keluarga, dan akhirnya masyarakat. Inilah karakteristik Islam yang paling menonjol, yaitu pembentukan pribadi islami {takwin asy-syakhshiyab al-islamiyyah).
Sederhananya, menurut Abbas Assiisi setiap diri (baca: Pribadi) adalah seorang penggerak dan pembentuk suatu pribadi yang berkepribadian islam. Meskipun kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa jumlah orang yang memusuhi Islam sangat banyak, namun jika kita dapat mengajak satu orang dari mereka dalam setiap hari agar mau bergabung dalam dakwah islamiah ini, maka secara langsung dan tidak langsung kita telah mengentaskan orang tersebut untuk dapat keluar dari kebodohan dan pembodohan jahiliyah menuju pembebasan dan pencerahan pribadi di bawah naungan cahaya Islam.
Kaitannya dengan kaderisasi suatu pergerakan, terutama sekali pergerakan dakwah kampus tentunya hal ini menjadi sangat penting. Dalam dakwah kampus, kita mengenal adanya Dakwah Fardiyah (DF) atau Self Education kader-kader dakwah. Akan tetapi realita dilapangan adalah tidak semua kader dakwah faham urgensi dari dakwah fardiyah itu sendiri. Bahkan latah kader dakwah adalah menyerahkan mandat dakwah fardiyah (baca: rekrutmen) nglothok kepada departemen kaderisasi atau saklek pada seorang kader yang kebetulan sebagai staff ataupun anggota kaderisasi atau yang dinilai mampu melakukan hal tersebut. Sebuah Latahisasi kader dakwah yang kemudian menjadi tolak banding dari gerakan dakwah.
Selama kurang lebih 2 tahun menjabat sebagai staf kaderisasi, mungkin akan terlalu dini jika kemudian saya mencoba untuk membuat formulasi antigen Latahisasi ini. Perjalanan menuju pembuatan formulasi ini berawal dari sebuah pengalaman dini mengelola kaderisasi. Berlebihan rasanya jika kemudian saya mengatakan bahwa kaderisasi itu sampai mati, tapi saya yakinkan bahwa ini benar keharusan.
Teringat perkataan syaikhut tarbiyah kita, Ustadz Rahmat Abdullah yang mengatakan bahwa seyogyanya para da’i (Kader-kader dakwah) harus memiliki kemampuan untuk membangkitkan “indra ketuhanan” demi menarik simpati hati, menyatukan jiwa, dan berinteraksi dengan gerakan dakwah beserta medannya yang membentang luas. Ini semua dapat terwujud dengan ajakan dan seruan yang baik, cara yang baik, metode dialogis, dan argumen-tasi yang lebih baik, serta keteladanan yang “tanpa cela”. Dasar inilah yang kemudian menjadi dalih seorang kader enggan untuk terjun ke medan dakwah (rekrutmen).
Kecenderungan yang sama, ketika pertama kali bergabung dengan departemen kaderisasi di sebuah lembaga dakwah fakultas, saya pribadi tidak merasakan adanya sebuah dorongan besar untuk mampu mengajak, merekrut orang lain untuk kemudian bergabung dengan dakwah. Tanggung jawab hanya dilaksanakan sebatas keterlaksananya suatu program kerja departemen, selebihnya adalah sibuk mempertanyakan dan menggubrisi hal – hal yang sifatnya Event Organizing(EO) semata-mata.
Sebuah harga yang saya pikir impas jika kemudian banyak data kader yang tidak valid, baik validitas database halaqoh maupun database simpatisan pergerakan. Dikatakan demikian tidak lain karena kader dakwah lebih disibukkan pada aktivitas – aktivitas EO dan pelaksanaan proker, untuk kemudian gagal mengecek ulang database kader.
Kesadaran untuk mengajak orang lain biasanya akan muncul manakala pada evaluasi departemen selalu saja menyinggung pada satu hal, minimnya jumlah kader. Aksi perombakan sistem perekrutan pun harus dilakukan, bahkan ranah nama kegiatan perekrutan pun harus diubah,tanpa meninggalkan esensinya. Misal yang pada awalnya hanya “Open Rekrutmen” menjadi “OPERA” (Open Rekrutmen Aktivis) atau Training Dasar Kepemimpinan (TDK) diubah menjadi “CASTING “ ( guidanCe Agriculture STar trainING).
Putaran waktu yang akan memperlihatkan kepada kita peristiwa-peristiwa yang mengejutkan dan memberikan peluang kepada kita untuk terus berbuat. Dunia akan melihat bahwa dakwah kita adalah hidayah, kemenangan, dan kedamaian, yang dapat menyembuhkan umat dari rasa sakit yang tengah dideritanya. Seiring dengan meningkatnya kefahaman tentang pentingnya aktivitas merekrut (baca: kaderisasi) maka bertambahlah pemahaman kita tentang kemutlakan regenerasi. Ini yang kemudian masuk dalam sebuah refleksi kaderisasi tentang diri dan gerakan dakwah ini.
1. Tentang Diri
Syaikhut tarbiyah Indonesia, Ust. Rahmat Abdullah mengemukakan, dalam satu kesatuan amal jama’i ada orang yang mendapatkan nilai tinggi karena ia betul-betul sesuai dengan tuntutan dan adab amal jama’i. Kejujuran, kesuburan, kejernihan dan kehangatan ukhuwahnya betul-betul terasa. Keberadaannya menggairahkan dan menenteramkan. Namun perlu diingat, walaupun telah bekerja dalam jaringan amal jama’i, namun pertanggungjawaban amal kita akan dilakukan di hadapan Allah SWT secara sendiri-sendiri. Karenanya jangan ada kader yang mengandalkan kumpulan-kumpulan besar tanpa beru-saha meningkatkan kualitas dirinya. Ingat suatu pesan Rasulullah SAW: Man abtha-a bihi amaluhu lam yusri’ bihi nasabuhu (Siapa yang lamban beramal tidak akan dipercepat oleh nasabnya ).
Dengan atau tanpa disadari diri kita adalah bagian terpenting dari proses rekrutmen itu sendiri. Jika sebagai pelaku perekrutan, maka persiapan diri harus dilakukan sedini mungkin. Dalam kaidah pergerakan tentu kita mengenal kaidah 10 Muwassofat kader. Hal lain dalam persiapan diri sedini mungkin dalam proses perekrutan ini adalah amaliyah yaumi diri kita pribadi. Amaliyah yaumi, dengan ataupun tanpa disadari akan berpengaruh besar terhadap kedekatan kita pada Allah SWT yang Maha membolak-balikkan hati dan tentunya dengan kedekatan kita kepada Allah SWT diharapkan proses rekrutmen yang dilakukan akan sampai dan sesuai dengan pada apa yang menjadi titik ukur pencapaian rekrutmen tersebut.
Ketika amaliyah yaumi ini lemah maka bias dipastikan akan lemah pula ikatan hati kita terhadap objek rekrutmen kita. Boleh jadi target rekrutmen awal tercapai namun esensi dari akhir proses perekrutan menjadi remang-remang atau bahkan kabur sama sekali. Kekeringan atau dehidrasi amaliyah yaumi yang berkelanjutan adalah salah satu jawaban mengapa dalam setiap evaluasi selalu saja nglothok pertanyaan yang sama, minimnya jumlah kader yang boleh jadi hal ini adalah bentuk ‘alarm’ dari Allah tentang batapa parahnya dehidrasi amaliyah yaumi kita.
2. Tentang diri dan gerakan dakwah ini
Berbicara mengenai diri dan gerakan dakwah ini tidak bisa memisahkan diri dengan jama’ah dakwah. Dalam jamaah dakwah islamiah sendiri, kita mengadakan suatu program yang kita sebut dengan projek al-akh al-wahid, yaitu setiap anggota berjanji dan berusaha untuk mengajak satu orang anggota baru dalam satu tahun. Tidak seorang pun diperbolehkan menunda-nunda waktu, karena perputaranwaktu adalah bahagian dan pengobatan dan pembentukan (at waqtu juz’un minal ‘ilaj wat takwin). Sehari dalam kehidupan individu adalah setahun dalam kehidupan umat. Umat yang mengerti betul akan hakikat kehidupan, mereka tidak akan pernah mati. Ini semua akan bergantung pada para da’i dalam memandang kesucian dan urgensi risalah dakwah serta bergantung pada pengorbanan para da’i, baik harta, tenaga, maupun waktu. Yang perlu diperhatikan oleh para da’i pada masa pembentukan (fase takwiniyab) adalah memberikan uswah hasanah, bertujuan menampilkan di hadapan masyarakat gambaran nyata tentang Islam.
Dengan memahami hal di atas maka sebagai seorang kader dakwah yang notabenenya adalah seorang da’i maka telah sewajarnya dan telah seharusnya kita memahami bahwa tugas mulia kita adalah mengajak orang lain untuk turut merasakan nikmatnya keimanan dalam naungan islam. Tidak perlu lagi seorang kader dakwah itu menumpukkan tugas ‘merekrut kader’ hanya kepada personal atau departemen kaderisasi semata, sejatinya kitalah para perekrut itu. Dengan pemahaman yang mendalam akan pentingnya menyampaikan pesan-pesan risalah kenabian ini, maka itu adalah antigen yang mampu membentuk system antibody dalam tubuh seorang aktivis gerakan dakwah agar tidak terjangkit gejala penyakit Latahisasi seperti yang saya sebutkan diawal.
Sebuah ikhtiar dan sebuah usaha refleksi diri agar kedepan mampu berkontribusi lebih terhadap dakwah ini. Tidak ada kata premature dalam proses kaderisasi karena sejatinya kaderisasi itu sampai mati !
Wallahu a’lam, semoga menambah kebermanfaatan.
Umi Qona’ah
Staff KAMMI Komisariat Al-Quds
Tahapan kaderisasi Lembaga Dakwah Kampus ( LDK )
LDK sangat erat kaitannya dengan lembaga kaderisasi, karena memang LDK pada mulanya didirikan untuk mengkader para mahasiswa agar memiliki pemikiran dan kapasitas seorang muslim yang komprehensif. Dalam perkembangannya LDK beralih peran sebagai lembaga syiar Islam. Berbagai agenda terus dilakukan. Terkadang alih fungsi ini berdampak “kebablasan” di beberapa wilayah. Roda syiar berjalan, sedangkan basis pembinaan tidak terperhatikan.
Inilah yang menjadi sebab mengapa beberapa LDK mengalami krisis kepemimpinan pada tahun-tahun tertentu. Sejatinya LDK harus bisa memastikan sistem kaderisasi bisa berjalan dengan baik dalam keadaan apapun. Karena kaderisasi yang baik akan berperan besar sebagai dinamo dakwah kita.
Mengapa saya berbicara sistem, karena dengan sistem lah, sebuah LDK bisa membentuk kader kader yang solid dan militan setiap saat. LDK tidak boleh berorientasi pribadi atau ketokohan. LDK tidak boleh punya tokoh sentral yang di ibaratkan “pahlawan” bagi LDK tersebut. LDK harus mampu membentuk banya kader hebat di setiap waktu.
Bagaimana LDK melakukan sistem kaderisasi ?. Pada dasarnya ada 4 tahap kaderisasi yakni, tahapan perkenalan, pembentukan, pengorganisasian, dan tahapan eksekusi. Empat tahapan ini adalah sebuah siklus yang membentuk seorang objek dakwah agar di masa yang akan datang siap menjadi subjek dakwah
Perkenalan ( ta’aruf )
Pandangan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda. Memberikan kesan yang baik terhadap LDK adalah tahap awal yang dijalankan. Kesan yang baik ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti dengan pelayanan kepada mahasiswa, atau dengan agenda syiar kampus. Pada tahap perkenalan ini , LDK mempunyai peran dalam untuk membuat mahasiswa menjadi mengetahui apa-apa yang belum diketahui terkait islam, atau dengan kata lain dari bodoh menjadi pintar. Dari yang belum mengetahui menjadi mengetahui. Membuat mahasiswa berkata “oh”. Pada hal-hal yang didapat. Pendekatan yang dilakukan memang seperti agenda syiar, karena ta’lim dan tabligh bisa menjadi media untuk memperkenalkan LDK.
Tahapan perkenalan sangat berpengaruh terhadap pemahaman dan kontribusi beliau ketika sudah masuk LDK, dalam tahapan ini kita perlu memberikan gambaran umum yang jelas sehingga calon kader memiliki orientasi yang jelas dalam mengikuti pembinaan Islam. Tidak ada parameter yang berlebihan dalam tahapan ini. Mahasiswa yang dulu belum mengetahui bahwa sholat itu wajib, menjadi tahu bahwa sholat itu wajib, mahasiswa yang belum tahu bahwa puasa itu wajib menjadi tahu. Belum perlu sampe tahapan melaksanakan. Dengan harapan, setelah mahasiswa mengetahui urgensi dari beberapa hal tentang Islam , membuat mereka tertarik untuk mendalami dengan mengikuti permentoringan.
Poin penting dalam tahapan ini adalah tindak lanjut dari agenda syiar yang dilakukan. Peran data sangat penting disini, dimana LDK bisa mempunyai absensi peserta ta’lim atau agenda syiar, dan menindaklanjuti dengan agenda pembinaan rutin ( mentoring ) yang diadakan oleh LDK. Bentuk lain dari penindaklanjutan adalah dengan membuat stand pendaftaran kegiatan mentoring di setiap event dakwah, dan cara yang baik lainnya, adalah dengan menjadikan dakwah fardiyah sebagai kebiasaan kader dimana. Sehingga setiap kader kita bisa berperan aktif dalam mengajak mahasiswa muslim untuk mengikuti mentoring ( pembinaan rutin ). Pendekatan dengan diskusi langsung juga bisa dilakukan untuk orang yang sudah berpengaruh atau sudah punya landasan pemikiran yang kuat.
Pembentukan ( takwin )
Membentuk seorang kader yang seimbang dari segi kemampuan dirinya. Membentuk kader ini perlu waktu yang cukup lama dan berkelanjutan. Membuat mekanisme dan sistem pembentukan yang jelas, bertahap dan terpadu bagi kader akan menghasilkan kader yang kompeten dan produktif. Oleh karena itu pelaku kaderisasi atau dalam hal ini tim kaderisasi LDK diharapkan bisa memberikan asupan ilmu yang luas dan tidak terbatas, serta seimbang antara ilmu dan amal. Berikut akan dijelaskan berbagai dimensi yang perlu dipahami dan dibina terhadap seorang kader.
Diniyah. Diniyah disini dimaksudkan pemahaman ajaran Islam dasar, seperti penjelasan tentang aqidah yang bersih dan lurus, pengajaran bagaimana ibadah yang benar,diutamakan ibadah wajib dijalankan dengan konsisten lalu meningkat ke membiasakan ibadah sunnah. Selanjutnya terkait dasar-dasar fiqih Islam dan berbagai hukum kontemporer yang ada. Penguatan dari sisi akhlak yang baik perlu di biasakan pada dimensi ini. Pembentukan kader yang berkepribadian Islam komprehensif diharapkan bisa di penuhi di dimensi ini.
Qur’aniyah. Memberikan pengajaran akan dasar-dasar Al Qur’an, disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan kader yang ada. Tahapan pengajaran ini bisa dimulai dari tahap pra-tahsin,tahsin, dan tahfidz. Bila keadaan memungkinkan Tafsir qur’an juga bisa dilaksanakan. Besar harapan kader LDK sangat dekat dengan Qur’an, karena memang semua yang disampaikan dalam berdakwah akan bersumber pada Al Qur’an. Kedekatan kader pada Qur’an pula yang akan membuat dakwah ini berkah dan di rahmati Allah. Kader diharapkan bisa mengaji atau membaca Qur’an dengan tajwid yang benar. Jika bacaan Qur’an sudah baik, kader diharapkan bisa memulai menghafal Al Qur’an.
Manajemen Organisasi. LDK adalah lembaga dinamis yang memerlukan kader yang bisa bergerak produktif dan terus menerus. Kader LDK haruslah kader yang baik dalam memanajemen diri dan organisasi. Penanaman dasar-dasar organisasi sejak dini dengan harapann kader tidak bingung ketika sedang menjalankan amal dakwah. Isi dari dimensi ini seperti dasar-dasar kaderisasi, manajemen waktu, manajemen konflik, manajemen rapat, syiar efektif, fung rising, pengelolaan organisasi dan lainnya. Isi dari dimensi diharapkan bisa menjadi bekal untuk diri sendiri dan organisasi dakwah.
Softskill. Kader LDK dituntut memiliki keahlian khusus yang bisa menunjang pergerakan dakwah LDK dan di masa yang akan datang diharapkan bisa juga berguna untuk dirinya. Contoh penerapan pembentukan softskill untuk kader, seperti pelatihan membawa mobil dan motor, cara desain dengan corel draw atau adobe photoshop,publik speaking, training manajemen aksi, memasak, memasang spanduk dan umbul-umbul, pelatihan multimedia seperti web dan blog, olahraga dan bela diri, bahasa Inggris dan bahasa arab dan kemampuan pendukung lainnya yang sekiranya dibutuhkan untuk kader.
Kepemimpinan. Manusia diciptakan Allah sebagai pemimpin, begitupula kader LDK yang nantinya akan memimpin pos-pos dakwah di manapun. Seorang kader dakwah harus siap memimpin jika kondisi menghendaki beliau sebagai pemimpin. Jiwa seorang pemimpin ini tidak bisa dibangun secara instan. Seorang pemimpin perlu kuat dari segi visi dan komprehensif dalam melihat sesuatu, pemimpin juga butuh kekuatan komunikasi dan kharisma yang kuat, pemimpin butuh memiliki jiwa empati dan baik dalam berkerja sama, pemimpin juga harus bijak dalam mengambil kebijakan. LDK harus bisa mencetak banyak pemimpin, karena kader LDK tidak hanya akan memimpin di LDK saja, akan tetapi kita juga perlu menyiapkan kader yang akan pemimpin di wilayah dakwah lain.
Wawasan. Seorang yang berilmu lebih baik ketimbang yang tidak berilmu. Ilmu dalam hal ini tidak dibatasi dalam hal ilmu agama saja. Kader LDK perlu memahami dasar-dasar ilmu politik, sosial, hukum, budaya dan ekonomi. Kekuatan dan luasnya wawasan yang dimiliki oleh kader dakwah akan memudahkan proses keberterimaan seorang kader di masyarakat dan memudahkan amal dakwah yang dilakukan oleh kader. Kekuatan wawasan ini pula yang akan membuat kader lebih bijak dan tepat dalam mengambil keputusan.
Dimensi-dimensi pembinaan ini perlu diberikan secara jelas, bertahap dan terpadu. Dengan memebrikan banyak wawasan bagi kader LDK, sama dengan membangun aset dalam bisnis. Aset terbesar LDK adalah kader yang produktif. Flow dari rangkaian pembinaan ini harus bisa disusun dengan tepat agar memberikan sebuah formulasi kaderisasi yang terbaik. Mekanisme pendukung dari tahapan ini adalah form evaluasi rutin per kader, sehingga kita bisa mengetahui tingkat partisipasi kader dalam pembinaan serta menguatkan basis penjagaan dalam kelompok kecil yang sering kita kenal dengan mentoring. Mentoring akan berfungsi sebagai kelompok penjagaan terkecil dari sebuah LDK. Pada tahapan pembentukan ini, ilmu yang sudah didapatkan diharapkan sudah bisa menjadi pemikiran dan gagasan yang kuat bagi kader dan siap untuk mengamalkannya.
Penataan / Pengorganisasian ( Tandzhim )
Setelah kader dibina, mulailah LDK menata potensi potensi kader menajdi sebuah untaian tali pergerakan yang harmoni. Setiap kader mempunyai kelebihan masing-masing. Ada kader yang pandai menghafal Qur’an, maka jadikanlah ia sebagai pengajar tahsin dan tahfidz. Ada kader yang gemar aksi atau demonstrasi, maka tempatkanlah ia di garda politik. Ada kader yang gemar mengadakan kegiatan, maka tempatkanlah ia di kepanitiaan. Ada kader yang hanya gemar belajar, maka proyeksikan ia agar menjadi asisten dosen dan ketua lab di masa yang akan datang. Ada kader yang suka bertualang, maka tempatkanlah ia sebagai relawan sosial LDK. Ada kader yang senang berpikir, maka tempatkanlah ia sebagi tim strategis. Ada kader yang gemar menggambar, maka tempatkanlah ia sebagai tim desain LDK. Kader harus ditempatkan sesuai dengan potensi yang dimiliki. Walaupun seorang pimpinan LDK punya wewenang untuk menempatkan kader sesuai dengan harapan pimpinan, akan tetapi menempatkan kader sesuai keinginan dan potensi akan menghasilkan sebuah kesinambungan dakwah yang harmoni dan tidak terjadi pembunuhan karakter kader. Pemahaman ini perlu di pahami, bahwa kader kita adalah manusia, bukan mesin yang bisa dipindah-pindah sesuai dengan keinginan pengguna. LDK harus mampu memanusiakan manusia. Kalo memang harus ada yang berkorban di LDK, maka pemimpin lah orang paling tepat. Kader adalah objek dakwah untuk pimpinan LDK.
Kader dengan amanah , seperti tumbuhan dengan habitatnya. Kaktus tidak mungkin hidup di pantai dan rumput laut tidak mungkin hidup di padang pasir. Begitulah analogi kader, jika pimpinan memaksakan seorang kader ditempatkan di tempat yang tidak sesuai, maka pembunuhan karakter akan terjadi. Penyediaan ladang beramal dari LDK pun harus ditambah seiring bertambahnya kader. Ada beberapa LDK yang menyesuaikan komposisi dan bentuk struktur organisasi dengan jumlah kader, atau bisa juga dengan memberikan kader tempat beramal di lembaga lain, sebutlah mahad kampus, BEM, himpunan, Unit mahasiswa dan sebagainya.
Poin paling penting adalah bagaimana kader dakwah bisa memiliki amanah di mana pun, dengan catatan, kader selalu melakukan setiap hal dengan paradigma dakwah yang baik. Dimanapun anda berada frame dakwah harus tetap terinternalisasi. Kenapa kebijakan seperti itu yang dikembangkan ?. Karena LDK harus mampu menyediakan kader yang bisa mengisi berbagai pos di masa yang akan datang. Dalam tahapan yang sudah lanjut, terutama untuk LDK yang sudah stabil. Kader diharapkan selalu memiliki empat peran dalam satu waktu, yakni ;
Mentor ( pembina ), seorang kader LDK harus aktif membina dan dibina. Dengan membina kelompok mentoring rutin, atau mengisi ta’lim rutin. Peran ini adalah peran murni seorang da’i yang diharapkan bisa menjadi peran utama kader dakwah
Penentu kebijakan strategis ( syura ), kader didik untuk bisa memimpin dan berpikir. Oleh karena itu kader harus mempunyai tanggung jawab sebagai anggota syura ( rapat strategis ) di lini yang sesuai dengan kapasitas kader saat itu. Dengan berpikir strategis ini diharapkan kader terbiasa untuk berpikir startegis dan komprehensif, sekaligus menumbuhkan jiwa pemimpin.
Pelaksana operasional ( teknis ), selain sebagai pemegang kebijakan di suatu tingkatan LDK, kader juga diharapkan bisa berperan dalam tatanan operasional atau kita sering kenal dengan pekerjaan teknis. Sehingga kader akan selalu berada dalam peran sebagai atasan dan bawahan dalam waktu bersamaan. Keseimbangan ini akan membentuk jiwa kerjasama yang baik. Contoh dalam kasus ini adalah, seorang kader berperan sebagai tim inti panitia kegiatan ( dalam hal ini dia sebagai anggota syura ) dan juga sebagai pelaksana operasional di tatanan LDK ( berkoordinasi dengan pengurus inti LDK ).
Akademik, kader dakwah pun perlu memiliki kompetensi akademik yang baik. Oleh karena itu, peran terakhir yang tak kalah pentingnya adalah, kader bisa berperan dalam bidang akademik atau di bangku kuliah dan lab. Peran yang bisa diambil antara lain, ketua kelas, ketua kelompok tugas, koordinator lab, ketua praktikum, asisten dosen, atau aktif dalam penelitian dan lomba ilmiah. Memiliki kader yang memiliki IP baik adalah harapan besar LDK. Dengan IP yang baik, sebetulnya akan memudahkan pergerakan dakwah kita di kampus.
Eksekusi dan peralihan objek kaderisasi menjadi subjek kaderisasi ( Tanfidzh )
Tahap terakhir dalam siklus kaderisasi. Pada tahapan ini seorang kader dakwah sudah bisa berkontribusi secara berkelanjutan dan sudah siap untuk menjadi subjek kaderisasi bagi objek dakwah yang lain. Kaderisasi merupakan siklus yang terus-menerus dan selalu lebih baik. Fase eksekusi ini juga di isi dengan monitoring kader dan evaluasi berkala, agar sistem kaderisasi yang dijalankan di LDK selalu lebih baik. Dengan monitoring dan evaluasi ini, diharapkan bisa memberikan masukan dan perbaikan bagi perencanaan siklus kaderisasi selanjutnya. Pada dasarnya tahapan kaderisasi seperti ini, varian dan inovasi akan bisa sangat berkembang pesat di metode, kurikulum, flow materi, perangkat pendukung dan kebijakan manajemen SDM lainnya.
Fase eksekusi ini juga sudah menghasilkan kader yang memiliki dorongan untuk berkerja, dan perlu di ingat, karena seorang kader saat ini sudah memegang peran sebagai pelaku atau subjek kaderisasi, maka kader pun perlu dibina dengan siklus yang baru. Pada dasarnya seorang kader akan dibina sesuai dengan siklus ini, yang membedakan adalah pola dan isi dari setiap tahapan. Seringkali, LDK tidak membina kader tahap lanjut, atau bisa dikatakan pembinaan untuk pengurus harian lebih sedikit ketimbang kader mula. Oleh karena itu pada LDK yang sudah cukup stabil, diharapkan mempunyai alur dan kurikulum serta metode kaderisasi yang berbeda untuk setiap tingkatang ( angkatan ) kader. Dengan membuat sistem kaderisasi seperti ini, maka LDK akan menjadi mesin pencetak kader yang solid dan militan secara terus-menerus. Membangun sistem kaderisasi yang kuat adalah aset berharga untuk lembaga dakwah kampus.
Langganan:
Postingan (Atom)




.jpg)



