.

Selasa, 26 Mei 2015

Kisah Ketabahan Dan Keta'atan Urwah Bin Az Zubair Sang Sahabat Rasul



Baru saja matahari sore itu memancarkan sinarnya di Baitul Haram dan mempersilahkan jiwa-jiwa yang bening untuk mengunjungi buminya yang suci tatkala sisa-sisa para sahabat Rasulullah SAW dan para pembesar tabiin mulai berthawaf di sekeliling Kabah, mengharumkan suasana dengan pekikan tahlil dan takbir dan memenuhi hamparan dengan doa-doa kebaikan.


Dan tatkala orang-orang membuat lingkaran per-kelompok di sekitar Kabah nan agung, yang berdiri kokoh di tengah Baitul Haram dalam kondisi yang berwibawa dan agung. Mereka memenuhi pandangan dengan keindahannya yang memikat, dan memoderator pembicaraan-pembicaraan di antara mereka tanpa keisengan dan perkataan dosa.

Di dekat Rukun Yamani, duduklah empat orang pemuda yang masih remaja dan terhormat nasabnya serta berbaju harum seakan-akan mereka bagaikan merpati-merpati masjid, berbaju mengkilat dan membuat hati jinak karenanya.

Mereka itu adalah Abdullah bin az-Zubair, saudaranya; Musab bin az-Zubair, saudara mereka berdua; Urwah bin az-Zubair dan Abdul Malik bin Marwan.

Terjadi perbincangan ringan dan sejuk di antara anak-anak muda ini, lalu tidak lama kemudian salah seorang di antara mereka berkata,





"Hendaklah masing-masing dari kita memohon kepada Allah apa yang hendak dia cita-citakan."



Maka khayalan mereka terbang ke alam ghaib nan luas, angan-angan mereka berputar-putar di taman-taman harapan nan hijau, kemudian Abdullah bin az-Zubair berkata,

"Cita-citaku, aku ingin menguasai Hijaz dan memegang khalifah."

Saudaranya, Musab berkata,

"Kalau aku, aku ingin menguasai dua Irak (Kufah dan Bashrah) sehingga tidak ada orang yang menyaingiku."

Sedangkan Abdul Malik bin Marwan berkata,

"Jika anda berdua hanya puas dengan hal itu saja, maka aku tidak akan puas kecuali menguasai dunia semuanya dan aku ingin memegang kekhalifahan setelah Muawiyah bin Abi Sufyan."

Sementara Urwah bin az-Zubair terdiam dan tidak berbicara satu kalimat pun, maka saudara-saudaranya tersebut menoleh ke arahnya dan berkata,

"Apa yang kamu cita-citakan wahai Urwah?"

Dia menjawab, "Mudah-mudahan Allah memberkati kalian semua terhadap apa yang kalian cita-citakan dalam urusan dunia kalian. Sedangkan aku hanya bercita-cita ingin menjadi seorang alim yang Amil (Mengamalkan ilmunya), orang-orang belajar Kitab Rabb, Sunnah Nabi dan hukum-hukum agama mereka kepadaku dan aku mendapatkan keberuntungan di akhirat dengan ridla Allah dan mendapatkan surga-Nya."

Kemudian waktu pun berjalan begitu cepat, sehingga memang kemudian Abdullah bin az-Zubair dibaiat menjadi Khalifah setelah kematian Yazid bin Muawiyah (Khalifah ke dua dari khilafah Bani Umayyah), dan dia pun menguasai kawasan Hijaz, Mesir, Yaman, Khurasan dan Iraq. Kemudian dia dibunuh di sisi Kabah tidak jauh dari tempat dimana dia pernah bercita-cita tentang hal itu.

Dan ternyata Musab bin Az-Zubair pun menguasai pemerintahan Iraq sepeninggal saudaranya, Abdullah namun dia juga dibunuh di dalam mempertahankan kekuasaannya tersebut.

Demikian pula, Abdul Malik bin Marwan memangku jabatan Khalifah setelah ayahnya wafat, dan di tangannya kaum Muslim bersatu setelah pembunuhan terhadap Abdullah bin az-Zubair dan saudaranya, Musab di tangan pasukan-pasukannya. Kemudian dia menjadi penguasa terbesar di dunia pada zamannya.

Lalu bagaimana dengan Urwah bin Az-Zubair? Mari kita mulai kisahnya dari pertama.

Urwah bin az-Zubair dilahirkan setahun sebelum berakhirnya kekhalifahan Umar al-Faruq, di dalam keluarga paling terpandang dan terhormat kedudukannya dari sekian banyak keluarga-keluarga kaum muslimin.

Ayahnya adalah az-Zubair bin al-Awwam, sahabat dekat dan pendukung Rasulullah SAW, orang pertama yang menghunus pedang di dalam Islam dan salah satu dari sepuluh orang yang dijanjikan masuk surga.

Ibunya bernama Asma` binti Abu Bakar yang bergelar berjuluk "Dzatun Nithaqain" (Pemilik dua ikat pinggang. Hal ini karena dia merobek ikat pinggangnya menjadi dua pada saat hijrah, salah satunya dia gunakan untuk mengikat bekal Rasulullah SAW dan yang satu lagi dia gunakan untuk mengikat bekal makanannya).

Kakeknya pancar (dari pihak) ibunya tidak lain adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, Khalifah Rasulullah SAW dan sahabatnya ketika berada di dalam goa (Tsur). Neneknya pancar (dari pihak) ayahnya bernama Shafiyyah binti Abdul Muththalib bibi Rasulullah SAW sedangkan bibinya adalah Ummul Mukminin Aisyah RA. Pada saat jenazah Aisyah dikubur, Urwah sendiri yang turun ke kuburnya dan meratakan liang lahadnya dengan kedua tangannya.

Apakah anda mengira bahwa setelah kedudukan ini, ada kedudukan lain dan bahwa di atas kemuliaan ini, ada kemuliaan lain selain kemuliaan iman dan kewibawaan Islam?

Untuk merealisasikan cita-cita yang telah diharapkannya perkenaan Allah atasnya saat di sisi Kabah itu, dia tekun di dalam mencari ilmu dan memfokuskan diri untuknya serta menggunakan kesempatan untuk menimba ilmu dari sisa-sisa para sahabat Rasulullah SAW yang masih hidup.

Dia rajin mendatangi rumah-rumah mereka, shalat di belakang mereka dan mengikuti pengajian-pengajian mereka, sehingga dia berhasil mentrasfer riwayat dari Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Zaid bin Tsabit, Abu Ayyub al-Anshari, Usamah bin Zaid, Said bin Zaid, Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas dan an-Numan bin Basyir. Dia banyak sekali mentransfer riwayat dari bibinya, Aisyah Ummul Mukminin sehingga dia menjadi salah satu dari tujuh Ahli fiqih Madinah (al-Fuqahâ` as-Sabah) yang menjadi rujukan kaum muslimin di dalam mempelajari agama mereka.

Para pejabat yang shaleh meminta bantuan mereka di dalam mengemban tugas yang dilimpahkan Allah kepada mereka terhadap urusan umat dan negara.
Di antara contohnya adalah tindakan Umar bin Abdul Aziz ketika datang ke Madinah sebagai gubernurnya atas mandat dari al-Walid bin Abdul Malik. Orang-orang datang kepadanya untuk menyampaikan salam.

Ketika selesai melaksanakan shalat dhuhur, dia memanggil sepuluh Ahli fiqih Madinah yang diketuai oleh Urwah bin Az-Zubair. Ketika mereka sudah berada di sisinya, dia menyambut mereka dengan sambutan hangat dan memuliakan tempat duduk mereka. Kemudian dia memuji Allah Azza wa Jalla dan menyanjung-Nya dengan sanjungan yang pantas bagi-Nya, lalu berkata,

"Sesungguhnya aku memanggil kalian semua untuk sesuatu yang kiranya kalian semua diganjar pahala karenanya dan menjadi pendukung-pendukungku dalam berjalan di atas kebenaran. Aku tidak ingin memutuskan sesuatu tanpa pendapat kalian semua, atau pendapat orang yang hadir dari kalian-kalian semua. Jika kalian semua melihat seseorang menyakit orang lain, atau mendengar suatu kedzaliman dilakukan oleh pegawaiku, maka demi Allah, aku meminta agar kalian melaporkannya kepadaku."

Maka Urwah bin az-Zubair mendoakan kebaikan baginya dan memohon kepada Allah agar menganugerahinya ketepatan (dalam bertindak dan berbicara) dan mendapatkan petunjuk.

Urwah bin az-Zubair benar-benar menyatukan ilmu dan amal. Dia banyak berpuasa di kala hari demikian teriknya dan banyak shalat malam di kala malam gelap gulit, selalu membasahkan lisannya dengan dzikir kepada Allah Taala.

Selain itu, dia selalu menyertai Kitab Allah Azza wa Jalla dan tekun membacanya. Setiap harinya, dia membaca seperempat al-Quran dengan melihat ke Mushafnya.

Kemudian dia membacanya di dalam shalat malam hari dengan hafalan.
Dia tidak pernah meninggalkan kebiasaannya itu semenjak menginjak remaja hingga wafatnya, kecuali satu kali disebabkan adanya musibah yang menimpanya. Mengenai apa musibah itu, akan dihadirkan kepada pembaca nanti.

Sungguh Urwah bin az-Zubair mendapatkan kedamaian hati, kesejukan mata dan surga dunia di dalam shalatnya, karenanya, dia melakukannya dengan sebaik-baiknya, melengkapi syarat rukunnya dengan sempurna dan berlama-lama di dalamnya.

Diriwayatkan tentangnya bahwa dia pernah melihat seorang yang sedang melakukan shalat dengan ringan (cepat), maka ketika orang itu telah selesai shalat, dia memanggilnya dan berkata kepadanya, "Wahai anak saudaraku, Apakah anda tidak mempunyai keperluan kepada Tuhanmu Azza wa Jalla?! Demi Allah sesungguhnya aku memohon kepada Allah di dalam shalatku segala sesuatu bahkan garam."

Urwah bin Az-Zubair adalah juga seorang dermawan, pemaaf dan pemurah. Di antara contoh kedermawanannya, bahwa dia mempunyai sebuah kebun yang paling luas di seantero Madinah. Airnya nikmat, pohon-pohonnya rindang dan kurma-kurmanya tinggi. Dia memagari kebunnya selama setahun untuk menjaga agar pohon-pohonnya terhindar dari gangguan binatang dan keusilan anak-anak. Dan, jika sudah datang waktu panen, buah-buahnya siap dipetik dan siap dimakan, dia menghancurkan kembali pagar kebunnya tersebut di banyak arah supaya orang-orang mudah untuk memasukinya.

Maka mereka pun memasukinya, datang dan kembali untuk memakan buah-buahnya dan membawanya pulang dengan sesuka hati. Dan setiap kali dia memasuki kebunnya ini, dia mengulang-ulang firman Allah, "Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu " MASYA ALLAH, LAA QUWWATA ILLA BILLAH" (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)" (Q.,s.al-Kahfi:39)

Dan pada suatu tahun dari kekhilafahan al-Walid bin Abdul Malik (khalifah ke enam dari khalifah-khalifah Bani Umayyah, dan pada zamannya kekuasaan Islam mencapai puncaknya), Allah Azza wa Jalla berkehendak untuk menguji Urwah bin az-Zubair dengan ujian yang berat, yang tidak akan ada orang yang mampu bertahan menghadapinya kecuali orang yang hatinya penuh dengan keimanan dan keyakinan.

Khalifah kaum muslimin mengundang Urwah bin az-Zubair supaya mengunjunginya di Damaskus, lalu Urwah memenuhi undangan tersebut dan membawa serta putra tertuanya.

Dan ketika sudah datang, Khalifah menyambutnya dengan sambutan yang hangat dan memuliakannya dengan penuh keagungan. Namun saat di sana, Allah SWT berkehendak lain, tatkala putra Urwah memasuki kandang kuda al-Walid untuk bermain-main dengan kuda-kudanya yang tangkas, lalu salah satu dari kuda itu menendangnya dengan keras hingga dia meninggal seketika.

Belum lama sang ayah yang bersedih menguburkan putranya, salah satu kakinya terkena tumor ganas (semacam kusta) yang dapat menjalar ke seluruh tubuh. Betisnya membengkak dan tumor itu dengan sangat cepat berkembang dan menjalar.

Karena itu, Khalifah memanggil para dokter dari segala penjuru untuk tamunya dan meminta mereka untuk mengobatinya dengan segala cara. Akan tetapi, para dokter sepakat bahwa tidak ada jalan lain untuk mengatasinya selain memotong betis Urwah, sebelum tumor itu menjalar ke seluruh tubuhnya dan merenggut nyawanya. Maka, tidak ada alasan lagi untuk tidak menerima kenyataan itu.

Ketika dokter bedah datang untuk memotong betis Urwah dan membawa peralatannya untuk membelah daging serta gergaji untuk memotong tulang, dia berkata kepada Urwah,

"Menurutku anda harus meminum sesuatu yang memabukkan supaya anda tidak merasa sakit ketika kaki anda dipotong."

Maka Urwah berkata,
"O..tidak, itu tidak mungkin! Aku tidak akan menggunakan sesuatu yang haram terhadap kesembuhan yang aku harapkan."

Maka dokter itu berkata lagi,
"Kalau begitu aku akan membius anda."

Urwah berkata,
"Aku tidak ingin, kalau ada satu dari anggota badanku yang diambil sedangkan aku tidak merasakan sakitnya. Aku hanya mengharap pahala di sisi Allah atas hal ini."

Ketika dokter bedah itu mulai memotong betis, datanglah beberapa orang tokoh kepada Urwah, maka Urwah pun berkata,
"Untuk apa mereka datang?."

Ada yang menjawab,
"Mereka didatangkan untuk memegang anda, barangkali anda merasakan sakit yang amat sangat, lalu anda menarik kaki anda dan akhirnya membahayakan anda sendiri."

Lalu Urwah berkata,
"Suruh mereka kembali. Aku tidak membutuhkan mereka dan berharap kalian merasa cukup dengan dzikir dan tasbih yang aku ucapkan."

Kemudian dokter mendekatinya dan memotong dagingnya dengan alat bedah, dan ketika sampai kepada tulang, dia meletakkan gergaji padanya dan mulai menggergajinya, sementara Urwah membaca, "Lâ ilâha illallâh, wallâhu Akbar."

Dokter terus menggergaji, sedangkan Urwah tak henti bertahlil dan bertakbir hingga akhirnya kaki itu buntung.

Kemudian dipanaskanlah minyak di dalam bejana besi, lalu kaki Urwah dicelupkan ke dalamnya untuk menghentikan darah yang keluar dan menutup luka. Ketika itulah, Urwah pingsan sekian lama yang menghalanginya untuk membaca jatah membaca Kitab Allah pada hari itu. Dan itu adalah satu-satunya kebaikan (bacaan al-Quran) yang terlewati olehnya semenjak dia menginjak remaja. Dan ketika siuman, Urwah meminta potongan kakinya lalu mengelus-elus dengan tangannya dan menimang-nimangnya seraya berkata,

"Sungguh, Demi Dzat Yang Mendorongku untuk mengajakmu berjalan di tengah malam menuju masjid, Dia Maha mengetahui bahwa aku tidak pernah sekalipun membawamu berjalan kepada hal yang haram."

Kemudian dia mengucapkan bait-bait syair karya Man bin Aus,

Demi Engkau, aku tidak pernah menginjakkan telapak tanganku pada sesuatu yang meragukan
Kakiku tidak pernah mengajakku untuk melakukan kekejian
Telinga dan mataku tidak pernah menggiringku kepadanya
Pendapatku dan akalku tidak pernah menunjuk kepadanya
Ketahuilah, sesungguhnya tidaklah musibah menimpaku sepanjang masa melainkan ia telah menimpa orang sebelumku

Al-Walid bin Abdul Malik benar-benar merasa sedih terhadap musibah yang menimpa tamu agungnya. Dia kehilangan putranya, lalu dalam beberapa hari kehilangan kakinya pula, maka al-Walid tidak bosan-bosan menjenguknya dan mensugestinya untuk bersabar terhadap musibah yang dialaminya.

Kebetulan ketika itu, ada sekelompok orang dari Bani Abs singgah di kediaman Khalifah, di antara mereka ada seorang buta, lalu al-Walid bertanya kepadanya perihal sebab kebutaannya, lalu orang itu mejawab,

"Wahai Amirul mukminin, di dalam komunitas Bani Abs tidak ada orang yang harta, keluarga dan anaknya lebih banyak dariku. Lalu aku bersama harta dan keluargaku singgah di pedalaman suatu lembah dari lembah-lembah tempat tinggal kaumku, lalu terjadi banjir besar yang belum pernah aku saksikan sebelumnya. Banjir itu menghanyutkan semua yang aku miliki; harta, keluarga dana anak. Yang tersisa hanyalah seekor onta dan bayi yang baru lahir. Sedangkan onta yang tersisa itu adalah onta yang binal sehingga lepas.

Akibatnya, aku meninggalkan sang bayi tidur di atas tanah untuk mengejar onta tersebut. Belum begitu jauh aku meninggalkan tempat ku hingga tiba-tiba aku mendengar jeritan bayi tersebut. Aku menoleh namun ternyata kepalanya telah berada di mulut serigala yang sedang menyantapnya. Aku segera menyongsongnya namun sayang aku tidak bisa menyelamatkannya, karena srigala telah membunuhnya. Lalu aku mengejar onta dan ketika aku berada di dekatnya, ia menendangku dengan kakinya. Tendangan itu mengenai wajahku, sehingga keningku robek dan mataku buta. Begitulah aku mendapatkan diriku di dalam satu malam telah menjadi orang yang tanpa keluarga, anak, harta dan mata."

Maka al-Walid berkata kepada pengawalnya,
"Ajaklah orang ini menemui tamu kita Urwah bin az-Zubair. Mintalah dia mengisahkan ceritanya supaya Urwah mengetahui bahwa ternyata masih ada orang yang mengalami cobaan yang lebih berat darinya."

Ketika Urwah diangkut ke Madinah dan dipertemukan dengan keluarganya, dia mendahului mereka dengan ucapan,

"Jangan kalian merasa ngeri terhadap apa yang kalian lihat. Allah Azza wa Jalla telah menganugerahuiku empat orang anak, lalu mengambil satu di antara mereka dan masih menyisakan tiga orang lagi. Segala puji hanya untuk-Nya. Dan Dia memberiku empat anggota badan, kemudian Dia mengambil satu darinya dan menyisakan tiga untukku, maka segala puji bagi-Nya. Dia juga telah memberiku empat buah yang memiliki ujung (kedua tangan dan kedua kaki-red.,), lalu Dia mengambilnya satu dan menyisakan tiga buah lagi untukku. Dan demi Allah, Jika pun Dia telah mengambil sedikit dariku namun telah menyisakan banyak untukku. Dan jika pun Dia mengujiku satu kali namun Dia telah mengaruniaiku kesehatan berkali-kali."

Ketika penduduk Madinah mengetahui kedatangan imam dan orang alim mereka, Urwah bin az-Zubair, mereka berbondong-bondong datang ke rumahnya untuk menghibur dan menjenguknya. Di antara untaian kata taziah yang paling berkesan adalah perkataan Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah kepadanya,

"Bergembiralah wahai Abu Abdillah! salah satu anggota badan dan anakmu telah mendahuluimu menuju surga dan yang keseluruhannya akan mengikuti yang sebagiannya itu, insya Allah Taala. Sungguh, Allah telah menyisakan sesuatu darimu untuk kami yang sangat kami butuhkan dan perlukan, yaitu ilmu, fiqih dan pendapat anda. Mudah-mudahan Allah menjadikan hal itu bermanfaat bagimu dan kami. Allah lah Dzat Yang Maha menanggung pahala untukmu dan Yang menjamin balasan kebaikan amalmu."

Urwah bin az-Zubair tetap menjadi menara hidayah, petunjuk kebahagiaan dan penyeru kebaikan bagi kaum muslimin sepanjang hidupnya. Dia sangat peduli terhadap pendidikan anak-anaknya, khususnya, dan anak-anak kaum muslimin lainnya, umumnya. Dia tidak pernah membiarkan kesempatan berlalu tanpa digunakannya untuk memberikan penyuluhan dan nasehat kepada mereka.

Di antara contohnya, dia selalu mendorong anak-anaknya untuk menuntut ilmu ketika berkata kepada mereka,

"Wahai anakku, tuntutlah ilmu dan kerahkanlah segala kemampuan dengan semestinya. Karena, jika kamu sekarang ini hanya sebagai orang-orang kecil, mudahan-mudahan saja berkat ilmu, Allah menjadikan kamu orang-orang besar."

Penuturan lainnya,
"Aduh betapa buruknya, apakah di dunia ini ada sesuatu yang lebih buruk daripada orang tua yang bodoh?."

Dia juga menyuruh mereka untuk menilai sedekah sebagai hadiah yang dipersembahkan untuk Allah Azza wa Jalla. Yaitu, dalam ucapannya,

"Wahai anakku, janganlah sekali-kali salah seorang di antara kamu mempersembahkan hadiah kepada Rabb-nya berupa sesuatu yang dia merasa malu kalau dihadiahkan kepada tokoh yang dimuliakan dari kaumnya. Karena Allah Taala adalah Dzat Yang Paling Mulia, dan Paling Dermawan serta Yang Paling Berhak untuk dipilihkan untuk-Nya."

Dia juga pernah memberikan pandangan kepada mereka (anak-anaknya) tentang tipikal manusia dan seakan mengajak mereka menembus langsung menuju siapa inti dari mereka itu,

"Wahai anakku, jika kamu melihat seseorang berbuat kebaikan yang amat menawan, maka harapkanlah kebaikan dengannya meskipun di mata orang lain, dia seorang jahat, karena kebaikan itu memiliki banyak saudara. Dan jika kamu melihat seseorang berbuat keburukan yang nyata, maka menghindarlah darinya meskipun di mata orang lain, dia adalah orang baik, karena keburukan itu juga memiliki banyak saudara. Dan ketahuilah bahwa kebaikan akan menunjukkan kepada saudara-saudaranya (jenis-jenisnya yang lain), demikian pula dengan keburukan."

Dia juga berwasiat kepada anak-anaknya supaya berlaku lemah lembut, berbicara baik dan bermuka ramah. Dia berkata,
"Wahai anakku, sebagaimana tertulis di dalam hikmah, Hendaklah kamu berkata-kata baik dan berwajah ramah niscaya kamu akan lebih dicintai orang ketimbang cinta mereka kepada orang yang selalu memberikan mereka hadiah."

Bilamana dia melihat manusia cenderung untuk berfoya-foya dan menilai baik kenikmatan duniawi, dia mengingatkan mereka akan kondisi Rasulullah SAW yang penuh dengan kesahajaan kehidupan dan kepapaan.

Di antara contohnya adalah sebagaimana yang diceritakan Muhammad bin al-Munkadir (seorang tabii dari penduduk Madinah, wafat pada tahun 130 H),

"Saat Urwah bin az-Zubair menemuiku dan memegang tanganku, dia berkata, Wahai Abu Abdullah.
Lalu aku menjawab, "Labbaik."
Kemudian dia berkata,
"Saat aku menemui Ummul mukminin Aisyah RA, dia berkata, Wahai anakku.
Lalu aku menjawab, Labbaik.
Beliau berkata lagi, Demi Allah, sesungguhnya kami dahulu pernah sampai selama empat puluh malam tidak menyalakan api di rumah Rasulullah SAW, baik untuk lentera ataupun yang lainnya.
Lalu aku berkata, Wahai Ummi, bagaimana kalian semua dapat hidup?
Beliau menjawab, Dengan dua benda hitam (Aswadân); kurma dan air.

Selanjutnya Urwah bin az-Zubair hidup hingga mencapai usia 71 tahun, yang diisinya dengan kebaikan, kebajikan dan ketakwaan.

Ketika ajal menjelang, dia sedang berpuasa, lalu keluarganya ngotot memintanyanya agar berbuka saja namun dia menolak. Sungguh dia telah menolak, karena dia berharap kalau kelak dia bisa berbuka dengan seteguk air dari sungai Kautsar di dalam bejana emas dan di tangan bidadari. (kisah) www.suaramedia.com

AYAT QUR’AN AGAR HATI GEMBIRA




Dalam kehidupan sehari hari kita sering dilanda rasa cemas dan gelisah akibat tekanan hidup dan berbagai masalah yang dihadapi. Kadangkala ada pula orang yang dilanda kecemasan dan kekuatiran dengan penyebab yang tidak jelas dan tidak diketahui. Orang yang selalu ingat dan bertawakal pada Allah insya Allah tidak akan mengalami rasa cemas dan gelisah berlebihan dalam menghadapi berbagai masalah . Mereka yakin akan pertolongan dan lindungan Allah pada diri mereka. Mereka yakin dengan naungan dan lindungan Allah tidak ada satu kekuatanpun yang dapat mencelakai dan menghalahkan mereka.

Ayat tertentu yang dibaca berulang ulang dengan penuh keyakinan dapat menghilangkan rasa gelisah, cemas dan ketakutan yang berlebihan. Apalagi jika ayat itu ditadaburi dan diiringi dengan doa mohon perlindungan dan pertolongan dari Allah. Berikut ini kami sampaikan beberapa ayat Qur’an yang dapat menghilangkan rasa takut, cemas dan gelisah yang berlebihan .
AT TAUBAH 51





qul lan yushiibanaa illaa maa kataba allaahu lanaa huwa mawlaanaawa’alaa allaahi falyatawakkali almu’minuuna

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (At Taubah 51





Bacaan Tadabbur:

Ya Allah , telah Kau ingatkan dalam Qur’anMu yang agung bahwa tidak akan menimpa kami sesuatu melainkan apa yang telah Kau tetapkan dan takdirkan bagi kami. Engkaulah pelindung kami, dan hanya pada Engkaulah kami bertawakkal dan berserah diri.

Ya Allah tetapkan bagi kami berbagai keberuntungan dan kebaikan dari sisiMu, jangan Kau tetapkan bagi kami berbagai bencana dan kesulitan. Ya Allah apa saja kebaikan yang telah Kau tetapkan bagi kami tidak ada satu kekuatanpun yang dapat menghalanginya. Ya Allah kami berlindung dengan takdir dan kehendakMu dari berbagai bahaya dan kejahatan sekalian mahlukMu yang ada dilangit dan bumi. Engkaulah pelindung kami, hanya padaMulah kami bertawakkal dan berserah diri. Perkenankanlah permohonan kami ini ya Allah Engkaulah sebaik baik yang memperkenankan doa

Dengan membaca atau mendengarkan surat At taubah 51 beserta tadabburnya diatas diharapkan akan muncul suatu keyakinan bahwa tidak akan menimpa dirinya suatu bencana atau kesulitan tanpa izin dan kehendak Allah. Dengan bersandar dan berserah diri pada Allah akan muncul rasa aman dan nyaman dalam hati orang tersebut. Ia yakin bahwa dirinya berada dalam naungan dan lindungan Allah.






in yanshurkumu allaahu falaa ghaaliba lakum wa-in yakhdzulkum faman dzaa alladzii yanshurukum min ba’dihi wa’alaa allaahi falyatawakkali almu/minuuna



Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mu’min bertawakkal. (Ali Imran 160)





Bacaan Tadabbur:

Ya Allah, telah Kau ingatkan pada kami dalam Qur’anMu yang agung ,bahwa Jika Engkau menolong kami, tidak ada satu kekuatanpun yang dapat mengalahkan kami. Namun jika Engkau meninggalkan kami maka tidak ada yang bisa menolong kami selain Engkau. Ya Allah hanya pada Engkaulah kami bertawakal dan berserah diri.

Ya Allah tolong kami untuk memahami peringatanMu ini , bahwa jika Engkau menolong kami , maka tidak ada satu kekuatanpun yang dapat mengalahkan kami. Jika Engkau meninggalkan kami, tidak ada tempat kami berlindung selain Engkau.

Ya Allah tanamkan didalam hati kami keyakinan bahwa jika Engkau menolong kami maka tidak ada satu kekuatanpun yang dapat mengalahkan kami. Tolong kami mengatasi berbagai masalah yang hadir dihadapan kami , tolong kami mengalahkan musuh musuh kami. Engkaulah pelindung kami, hanya kepada engkaulah kami bertawakkal dan berserah diri. Perkenankanlah permohonan kami ini ya Allah, engkaulah sebaik baik yang memperkenankan doa.

Dengan membaca dan mendengarkan surat Ali Imran ayat 160 ini serta mentadabburinya akan muncul keyakinan dalam diri seseorang bahwa jika Allah menolongnya , maka tidak ada satu kekuatanpun yang dapat mengalahkannya. Keyakinan ini akan menghilangkan rasa cemas, kuatir dan was was terhadap ancaman yang datang dari mana saja. Ia yakin dalam naungan dan lindungan Allah tidak ada satu kekuatanpun yang dapat mencelakainya. Ia yakin dengan pertolongan Allah ia bisa mengatasi berbagai masalah yang hadir dihadapannya. Ia yakin bersama Allah tidak ada masalah yang tidak bisa diatasi.



1. AL ANFAL 9-10



idz tastaghiitsuuna rabbakum faistajaaba lakum annii mumiddukum bi-alfin mina almalaa-ikati murdifiina

wamaa ja’alahu allaahu illaa busyraa walitathma-inna bihi quluubukum wamaa alnnashru illaa min ‘indi allaahi inna allaaha ‘aziizun hakiimun



9. (Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”.



10. Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al Anfal 9-10)


Bacaan Tadabbur

Ya Allah telah Kau ingatkan pada kami dalam Qur’anMu yang agung bahwa tatkala kami memohon pertolongan padaMu kemudian Engkau memperkenankannya, sesungguhnya Engkau akan mendatangkan balabantuan pada kami dengan 1000 malaikat yang datang secara berturut turut. Engkau tidak mendatangkan bantuan ini melainkan sebagai kabar gembira bagi kami dan untuk menentramkan hati kami dengannya. Sesungguhnya kemenangan itu hanyalah datang dari sisiMu. Engkau maha perkasa lagi maha bijaksana.

Ya Allah tolong kami mengalahkan musuh kami dan mengatasi berbagai masalah yang hadir dihadapi kami dengan bantuan tentara malaikatMu yang datang dari segala penjuru langit dan bumi. Ya Allah gembirakan dan tentramkan hati kami dengan pertolongan tentara malaikat Mu itu. Ya Allah beri kami kemenangan yang nyata dari sisiMu, tiadalah kemenangan itu melainkan dengan izin dan kehedakMu Engkau maha perkasa dan maha bijaksana. Perkenankanlah permohonan kami ini ya Allah. Engkaulah sebaik baik yang memperkenankan doa.

Dengan membaca dan mendengarkan surat al Anfal 9-10 ini secara berulang ulang dan mentaburinya , diharapkan akan muncul keyakinan bahwa Allah akan mengirim 1000 malaikat yang datang dari segala penjuru langit dan bumi untuk memberi pertolongan mengatasi berbagai masalah yang sedang dihadapi. Keyakinan ini akan menimbulkan rasa aman, nyaman dan tentram didalam hati orang yang bersangkutan. Ia yakin bahwa ia tidak berjuan sendiri dalam mengatasi masalahnya, tapi ada ribuan Malaikat disekelilingnya yang selalu siap memberi pertolongan dan bantuan baginya.



Untuk menghilangkan rasa cemas, gelisah dan takut yang berlebihan dengarkan bacaan dan tadabbur ketiga ayat diatas secara rutin setiap hari. Usahakan menghayati ketiga ayat tersebut. Baca dengan diselingi pembacaan istigfar “ Astaghfirullah rabbal baroyya…(aku mohon ampun pada tuhan manusia) …Astaghfirullah minal ghothoyya..(aku mohon ampun dari segala dosa), sebagai berikut dibawah ini



Berusaha Jauhi Dosa, Hati Kan Bahagia




Manusia punya perasaan, perasaan senang dan sedih, takut dan berani, susah dan bahagia, gelisah dan tenang. Semua perasaan itu bisa tumbuh dan hilang sesuai dengan kondisi yang ada. Ketika ibadah yang kita lakukan dengan baik akan menimbulkan ketenangan bagi perasaan kita dan sebaliknya saat dosa dan maksiat kita lakukan maka resah, gelisah serta takut selalu membayangi kita hingga dosa itu diampuni dengan taubat dan ketaatan. Banyak hal yang menjadikan kita gelisah diantaranya karena sifat iri dan dengki terhadap kelebihan orang lain.


Sifat iri pasti akan menghampiri Anda kemudian membuat gelisah, lantasberuntunglah ketika ia mampu menyikapi atau mengolah rasa gelisah itu menjadi sesuatu yang berfaedah bagi dirinya, sebaliknya kerugianlah yang ia dapatkan manakala rasa galau tersebut ia tempatkan pada posisi yang tidak semestinya, sehingga bercampur polusi yang ditebarkan oleh syaitan hingga berujung pada dosa.


Gelisah atas kebahagiaan orang lain (iri) adalah penyakit kehidupan yang terlahir dari pandangan yang dangkal dan cara pengelolaan perasaan yang keliru. Dalam sebuah drama kehidupan seringkali kita memandang suatu masalah dengan baju milik kita sendiri sedangkan kita mengetahui tak semua baju akan cocok bagi orang lain. Seperti apa pandangan kita terhadap orang lain dalam diri kita akan sangat mempengaruhi terhadap bagaimana sikap kita. Kesalahan terbesar kita seringkali melihat suatu permasalahan dengan sudut pandang hanya satu titik, tanpa mencoba melihat dari sudut pandang yang lain, dan ini yang menjadikan titik gelap dalam hati kita.


“Sumber keburukan itu ada 2, yaitu, niat yang buruk dan cara pandang yang buruk” kata Ibnu Taimiyah. Dalam kalimat tersebut dapat kita simpulkan sejatinya permasalahan itu datang dari diri kita sendiri jika kita mau mengamati. Dan ini terkait bagaimana menyikapi sebuah masalah.


Kawan, sesungguhnya kita memiliki kebahagiaan tersendiri, yang kita bangun dari pola pikir dan sangka baik (khusnudzon) terhadap apa yang kita miliki yang telah Allah karuniakan kepada kita. Kenapa harus fokus pada kekurangan kita dan kebahagiaan orang lain? Cobalah kita lihat kelebihan yang Allah karuniakan terhadap kita. Dan perlu kita ketahui sebanyak apapun yang belum kita miliki, pasti sangat sedikit jika dibandingkan dengan yang sudah kita miliki. Jika kita belum memiliki apa yang kita kehendaki, dibanding orang lain yang sudah memilikinya.


Demikian pula halnya tentang dosa, secara jujur dengan hati nurani yang bersih, siapapun yang melakukan dosa pasti hidupnya gelisah, resah dan dikejar-kejar dengan kesalahan.


Secara umum perbuatan dosa terbagi menjadi dua, yang pertama adalah dosa besar. Rasulullah dalam beberapa haditsnya secara ekspisit menjelaskan sejumlah dosa yang termasuk dalam kategori dosa besar. Seperti syirik, sihir, memakan harta riba, durhaka kepada orangtua, saksi palsu dan sebagainya. Dosa seperti ini, bila sipelaku tidak sempat bertaubat, akan mendatangkan balasan yang berat dan pedih dari Allah SWT. Artinya, taubat dari dosa besar, masih mungkin dilakukan selama yang bersangkutan sungguh-sungguh meninggalkan perkara dosa tersebut.


Disamping dosa besar, ada pula dosa kecil. Umumnya sedikit orang yang memperhatikan dosa kecil ini sebagai suatu kemaksiatan. Padahal ampunan Allah terhadap hamba-Nya yang melakukan dosa, selama tidak dilakukan berulang, lebih besar kemungkinan terkabulnya dibandingkan ampunan terhadap dosa kecil yang dilakukan kembali secara berulang-ulang.


Dosa yang dilakukan dianggap kecil akan menjadi besar oleh Allah, sebaliknya bila dosa dianggap besar, maka ia akan menjadi kecil dalam penilaian Allah, Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya seorang mukmin itu melihat dosa-dosanya sepertinya ia berada di bawah gunung besar yang ia takut menimpa dirinya. Sementara orang yang banyak dosa itu adalah orang yang melihat dosanya seperti lalat yang ada di hidungnya. Kemudian ia katakan begini [meremehkan].


Anas bin Malik Ra, diriwayatkan oleh Bukhari menyebutkan hadist,”Sesungguhnya kalian akan melakukan suatu amal yang dalam pandangan kalian amalan tersebut lebih kecil dari rambut, sementara kami menganggapnya dizaman Rasulullah sebagai dosa besar”.


Bilal bin Rabah mengatakan,”Jangan memandang kecilnya suatu kemaksiatan, tetapi lihatlah pada kebesaran Zat yang engkau lakukan maksiat terhadap-Nya”.
Kita sering mendengar kata "Dosa" dalam perbincangan sehari-hari, namun pengertiannya adalah; ''Dosa adalah apa yang tergetar di hatimu dan engkau tidak senang kalau orang lain mengetahuinya' [HR.Muslim].


Dosa adalah akibat melanggar larangan Allah baik disengaja ataupun tidak, baik besar ataupun kecil. Larangan Allah yang dilakukan manusia dapat merusak pribadi, keluarga dan masyarakatnya. Manusia adalah makhluk Allah yang diberi beberapa kelebihan dibandingkan dengan makhluk lain. Kelebihan itu diantaranya; manusia adalah makhluk Allah yang terbaik dibandingkan makhluk yang lain;"Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya " [At Tin 95;4]


Manusia adalah makhluk Allah yang termulia dibandingkan makhluk ciptaan Allah yang, kemuliaan itu terbukti diberikan Allah fasilitas untuk hidup di dunia; "Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan" [Al Isra' 17;70]


Manusia adalah makhluk Allah yang dipercaya untuk memegang amanah sehingga keimanan dapat terjaga dengan baik, bila amanah sudah dikhianati karena mencampurkan iman dengan kekafiran dan kenifakan maka akan merendahkan posisi manusia. Posisi yang jatuh kepada kerendahan martabat karena berbuat dosa, akan kembali baik bila bertaubat dengan sungguh-sungguh. "Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima Taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ' [Al Ahzab 33;73]


Manusia adalah makhluk Allah yang tersayang dengan memberikan segala apa yang ada di langit dan di bumi untuk kesejahteraan hidupnya. Namun bila perbuatan yang dilarang Allah dilakukan maka posisi ini akan merendahkan derajatnya dihadapan Allah dan masyarakatnya;"Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan dia Maha mengetahui segala sesuatu" [Al Baqarah 2;29]


Manusia adalah makhluk Allah yang pintar, sehingga mampu untuk menaklukkan dunia ini dengan ilmunya itu, walaupun malaikat sudah lama diciptakan tapi mereka harus memberi hormat kepada nabi Adam yang diberikan ilmu pengetahuan sedangkan malaikat tidak mempunyai, demikian pula karena pentingnya ilmu sehingga ayat yang turun pertama kali adalah kata-kata Iqra' yang artinya baca, selidiki, teliti dan kaji ;"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"[Al Baqarah 2;30-31]


Walau status itu diberikan Allah kepada manusia, tapi bila melakukan dosa maka status itu akan direndahkan...."Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)''[At Tin 95;5]


Ibarat pepatah yang mengatakan "karena nila setitik maka rusaklah susu sebelanga". Artinya kelebihan manusia yang diberikan Allah sehingga mendapat posisi mulia akan hancur bilamana melakukan perbuatan dosa. Rasulullahpun telah berpesan,”Hati-hatilah terhadap dosa kecil, siapa tahu begitu kamu mengerjakan dosa kecil Allah mencatatmu sebagai penduduk neraka selama-lamanya dan hati-hatilah terhadap amal yang kecil, siapa tahu ketika kalian mengerjakan amal yang kecil itu dicatat Allah sebagai penghuni syurga selama-lamanya”.


Dr. Saad Riyadh dalam bukunya berjudul Jiwa Dalam Bimbingan Rasulullah Saw, menyatakan;


Diriwayatkan bahwa Washibah al Asadi berkata,”Saya adalah orang yang cukup antusias untuk mencari tahu macam-macm amalan baik dan buruk. Setiap ada satu perkara yang saya ragukan baik atau buruknya, saya akan lansung menghadap kepada Rasulullah saw. Suatu hari, ketika saya mendatangi Rasulullah saw, di sekeliling beliau telah berkumpul banyak orang yang juga ingin bertanya tentang berbagai masalah agama.


Ketika saya bermaksud melintasi kerumunan tersebut, orang-orang serentak berkata,”Wahai Washibah, jangan mendekat kepada Rasulullah saw.” Saya lalu berkata,”Izinkanlah saya mendekati Rasulullah saw, saya paling suka berada di dekat beliau.”


Tiba-tiba Rasulullah saw berkata,”Biarkanlah Washibah mendekat!” [Kalimat ini beliau ucapkan dua atau tiga kali]. Saya kemudian mendekat sampai berada tepat di hadapan Rasulullah saw, beliau lalu bertanya,”Wahai Washibah, apakah saya yang akan memberi tahumu sesuatu atau kamu yang mengajukan pertanyaan?”. Saya menjawab,”Engkau saja yang memberi tahu.”


Rasulullah saw, kemudian bersabda,”Kamu pasti datang untuk bertanya tentang amalan-amalan baik dan dosa?”. Saya menjawab,”Benar”. Rasulullah saw kemudian mengepalkan tangannya dan memukul dada saya dengan lembut seraya bersabda,”Wahai Washibah, tanyalah hati nuranimu, mintalah pendapat kepada batinmu! [kata-kata ini beliau ucapkan tiga kali]. Kebaikan [al birr] adalah sesuatu yang batin merasa tenang ketika mengerjakannya. Sebaliknya dosa [al itsm] itu adalah yang membuat perasaan gelisah [tidak tentram] dan hati ragu-ragu ketika melakukannya meski semua orang sepakat mengatakan [bahwa pekerjaan yang engkau lakukan itu adalah baik dan benar].” [HR. Ahmad]. [Gema Insani, 2007, hal 56].


Ustadz Mashadi menyebutkan sumber-sumber dosa yang dilakukan manusia sehingga dengan dosanya itu manusia berada pada posisi hina, apakah kehinaan itu datang dari manusia ataupun dari Allah Swt, lebih jauh Ustadz Mashadi menyebutkan;
Kemudian, dosa ini dibagi dalam tiga kategori, yang masing-masing mempunyai pengaruh dalam kehidupan seseorang. Diantaranya :


Dosa mulkiyah, adalah perbuatan atau sifat makhluk yang mengadopsi sifat-sifat Allah. Seperti merasa suci, kultus, kesombongan, kesemena-menaan, merasa tinggi, kezaliman, menjajah, dan memperbudak manusia. Perbuatan ini masuk dalam katagori syirik (menyekutukan) Allah.


Karena, yang sering menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan syirik, merasa suci, berlaku sombong dengan kekuasaan dan harta yang dimilikinya. Para penguasa, pemimpin gerakan, jamaah, partai, bisa berlaku sombong, disebabkan kekuasaan yang dimilikinya. Bisa mengatur, menentukan, memerintah, dan bahkan bertindak sewenang-wenang, dan tidak ada lagi yang berani mengingatkannya.


Dirinya bisa berlaku sebagai orang suci, yang kemudian dikultuskan pengikutnya, atau menciptakan tata-cara yang membuat para pengikutnya melakukan kultus, dan pemimpin itu seolah-olah berubah menjadi seorang tuhan, yang kemudian dapat menentukan nasib seseorang. Seseorang menjadi bergantung hidupnya kepada mereka yang memiliki kuasa. Entah itu para penguasa, pemimpin gerakan, jamaah, partai dan organisasi, jika tidak ada lagi yang dapat mengingatkan bisa berubah menjadi ‘tuhan’.


Barangsiapa yang menjadi pelaku jenis dosa ini, maka ia telah merampas ketuhanan dan kerajaan (kedaulatan) Allah dan menjadi tandingan bagi-Nya. Ini adalah dosa yang paling besar disisi Allah dan amal perbuatan yang baik tidak gunanya.
Betapa banyak manusia yang sekarang telah berlaku dan berubah dirinya menjadi tuhan, karena hanya sedikit memiliki kekuasaan, kekayaan, dan kesempatan (waktu), dan kemudian mereka mengubah sifat-sifat dasar mereka, dan mereka berubah menjadi ‘tuhan-tuhan’ yang sejatinya tidak layak.


Dosa syaithoniyah adalah dosa di mana palakunya menyerupai perilaku dan sifat setan, seperti melampui batas, penipuan, dengki, memakan harta yang haram, makar, memerintahkan perbuatan maksiat kepada Allah, menghiasi kemaksiatan dengan kebaikan, melarang melakukan ketaatan kepada Allah, melakukan bid’ah, serta mendakwahkan bid’ah dan kesesatan. Ini dosa yang akan menjerumuskan para pelakuknya ke dalam neraka jahanam.


Betapa banyak manusia yang berwujud manusia, tetapi perbuatan mereka seperti setan, dan menjadi hamba setan. Perbuatannya selalu durhaka dan melawan kepada Allah. Tidak mau bertahkim (berhukunm) dengan hukum Allah, dan hanya mengikuti hwa nafsunya, yang akhirnya menjerumuskan diri mereka ke dalam kesesatan yang nyata. Tetapi, mereka masih berani mengatakan yang mereka kerjakan adalah kebajikan. Inilah orang-orang yang sudah menjadi pengikut setan.


Dosa bahimiyah adalah binatang, yang menampakkan pelakunya berbuat kejam dan biadab, seperti menumpahkan darah, melakukan peperangan, menindas kaum yang lemah, dan menghancurkan kehidupan mereka. Dengan tanpa merasa menyesal atas perbuatan mereka.
Manusia berubah menjadi binatang buas, hanya mengikuti syahwat perut dan seksual. Dari sini lahir perzinahan, pencurian, memakan harta yang haram, memakan harta anak yatim, bakhil, pelit, penakut, keluh-kesah, yang menyebabkan manusisa sudah tidak lagi memiliki landasan hidup yang benar.
Manusia telah terjatuh ke dalam bentuk baru, sebagai binatang. Karena menjadi bahimiyah, dan menjauhkan dari perintah dan larangan dari Allah Ta’ala.[Sumber-Sumber Dosa Manusia? Eramuslim.com.Senin, 20/09/2010 13:59 WIB].


Sungguh tidak punya perasaan bila manusia selalu berbuat maksiat dan dosa kepada Allah tapi hatinya tenang saja bahkan mungkin merasa bahagia dengan dosa dan maksiat yang dilakukannya itu, sebenarnya yang merasakan gelisah terhadap dosa dan maksiat bukanlah sikap atau aktivitas fisik pelakunya, tapi hati nuraninya yang menyatakan demikian, tapi dia masih bisa menutupi kegelisahannya karena tidak sanggup untuk meninggalkan dosanya sebab syaitan masih menggelayuti nafsu dan syahwatnya.


Prof Dr Yunahar Ilyas menceritakan kisah seseorang pemabuk yang datang kepadanya menyatakan sudah terlambat taubat karena begitu rusaknya akibat perbuatan dosa yang dilakukan, lebih lanjut beliau menceritakan hal itu pada tulisannya di bawah ini;


Suatu hari, selesai memberikan pengajian di sebuah masjid, seorang jamaah mendekati dan menyalami saya. Tampaknya ada sesuatu yang mau disampaikan. Tetapi, karena masih ada jamaah lain maka pembicaraan kami bersifat umum saja. Setelah jamaah lain pamit dan tinggal kami berdua, barulah dia mulai menyampaikan persoalannya. "Sekarang saya baru sadar Ustaz."


Sambil melihat sekeliling, memastikan tidak ada jamaah yang datang, dia melanjutkan. "Begitu pandainya saya menyembunyikan, sehingga tidak ada yang tahu." Saya mulai menduga-duga ke mana arah pembicaraan. Sepertinya dia mau memberikan sebuah pengakuan. Barangkali dia berselingkuh, istri, mertua, orang tua, dan teman-temannya tidak tahu. Sekarang betapa banyaknya laki-laki berselingkuh dan pandai menyembunyikan perselingkuhannya.


"Menyembunyikan apa, Pak?" tanya saya. Karena dia tidak segera menjawab, saya sampaikan dugaan yang ada dalam pikiran saya. "Maaf, apa Bapak berselingkuh?" Dia malah tertawa. "Bukan Ustaz, saya tidak punya potongan untuk berselingkuh. Saya dulu peminum Ustaz." Dia diam sebentar, sepertinya mengingat masa mudanya. "Sejak muda saya sudah peminum. Bermacam-macam minuman keras sudah saya coba. Mula-mula yang berkadar alkohol rendah, lalu meningkat dengan kadar alkohol yang lebih tinggi. Sampai kemudian saya menikah."


"Apakah setelah menikah Bapak masih minum?" Dia menjawab masih minum. "Apakah mertua, terutama istri Bapak tidak melarangnya?" selidik saya. "Di situlah masalahnya Ustaz. Saya pandai sekali menyembunyikannya. Tidak ada yang tahu," jawabnya sambil sesekali melihat kiri kanan khawatir ada yang datang.


"Hebat sekali Bapak menyembunyikannya. Bertahun-tahun jadi peminum kok tidak ada yang tahu." Mendengar pujian saya bernada sinis itu dia tersenyum, tapi senyumnya kecut. Rupanya Bapak itu pandai mengatur kapan minum, di mana boleh minum, dan di mana tidak minum. Barangkali dia juga pandai mengatur di mana dan jam berapa boleh mabuk. Jarang peminum yang bisa menyembunyikan kebiasaan buruknya itu dalam waktu cukup lama dari keluarganya.


"Sekarang tentu Bapak sudah taubat kan?" tanya saya. Kalau orang sudah rajin shalat berjamaah di masjid dan mendengarkan pengajian, dapat dipastikan sudah bebas dari hal-hal semacam itu. Tidak mungkinlah peminum rajin ke masjid. Dengan anggukan dia menjawab, "Ya, Ustadz. Saya sudah taubat, tapi sudah terlambat." Segera saya yakinkan dia, bahwa tidak ada istilah terlambat untuk taubat. Selagi nyawa masih di kandung badan tetap dapat bertaubat. "Betul Ustaz," jawab dia.


"Kalau hubungannya dengan dosa, mudah-mudahan dosa saya diampuni oleh Allah SWT. Tetapi dari kesehatan, saya sudah terlambat sadar. Dokter menyatakan liver saya sudah berlobang akibat sering minum minuman keras. Beberapa waktu lalu saya dirawat di rumah sakit, karena perut saya bengkak." Saya kemudian membesarkan hatinya, semoga penyakitnya segera disembuhkan Allah SWT.


Itulah pertemuan saya yang terakhir dengan jamaah tersebut. Beberapa waktu kemudian dia meninggal dunia setelah kembali dirawat karena sakit livernya. Sering orang baru sadar dengan larangan Allah SWT setelah mengalami akibatnya sendiri.[Terlambat Sadar, Republika.co.id.Minggu, 15 Januari 2012 04:30 WIB].


Hidup akan gelisah bila selalu berbuat dosa dan maksiat, kemanapun akan lari, pada satu masa pelarian itu akan berakhir, sampai kapanpun juga, satu ketika pengakuan akan diucapkan bahwa dosa-dosa dan maksiat yang dilakukan itu membuat hati gelisah sehingga perlu adanya taubat kepada Allah Swt, taubat yang disampaikan kepada Allah mendatangkan ketenangan hati karena dosa-dosanya telah diampuni Allah. Sebagai contoh Nabi Adam As, selalu mohon ampun kepada Allah karena telah melakukan kesalahan yaitu memakan buah khuldi di syurga, padahal Allah telah menyampaikan pesan, silahkan memakan semua buah-buahan yang ada di syurga tapi jangan dekati satu pohon itu, surat Al Baqarah 2;35-38 Allah berfirman;


“dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu Termasuk orang-orang yang zalim.”


“lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu[38] dan dikeluarkan dari Keadaan semula[39] dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan."


“ kemudian Adam menerima beberapa kalimat[40] dari Tuhannya, Maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”


“Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, Maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati".


Dosa yang diampuni akan menjadikan manusia hidupnya tenang, tidak khawatir lagi dengan bayangan dosa yang selalu mengejarnya sehingga tidurnya tidak nyenyak dan makannya tidak enak. Orang yang bertaubat yang kemudian taubatnya diterima Allah maka dia akan tenang, tidak bersedih hati sebab kesalahan dan dosanya telah diampuni oleh Allah, taubat yang sebenar-benarnya taubatlah yang disebut dengan taubat nasuha yang akan diampuni Allah. Untuk itulah sebelum melakukan kesalahan, dosa dan maksiat selayaknya disadari bahwa semua itu akan membuat hati tidak tenang, gelisah, resah dan penuh ketakutan, apalagi saat kematian mendekatinya kelak. Wallahu A’lam 

Atasi Gelisah




Setiap orang pasti akan merasakan senang,sedih,jatuh cinta,suka duka dan lain sebagainya,hal ini terjadi karena karunia Allah swt,yang menberikan hati kepada kita.Hati mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dan berperan sangat penting bagi setiap individu.karena apa bila hati itu baik,maka akan baik semuanya, akan tetapi apa bila hati itu rusak maka akan rusaklah semuanya.Apa bila kita mempunyai hati yang baik itu bukan masalah tetapi apa bila hati kita sakit maka kita harus mencari obatnya.jika hati yang sakit dibiarkan maka akan menggerogoti hati dan bisa menyebabkan hati menjadi mati,ini sangat membahayakan pemiliknya.


Manusia terlahir kedunia adalah dalam keadaan suci ,hati pun demikian,akan tetapi dengan adanya dinamika kehidupan yang sunguh luar biasa menyebabkan hati seseorang bisa terkontaminasi dengan hal- hal negative yang menyebabkan hati menjadi sakit,diantara penyakit hati yang sering kita jumpai adalah gelisah sebagai salah satunya.


Gelisah merupakan keadaan dimana hati merasa,cemas ,takut ,akan sebuah keadaan yang tidak dinginkananya yang apa bila dibiarkan akan bisa menyebabkan keputusasaan dan kekecewaan tingkat tinggi.sementara coping individu orang itu masing masing berbeda,ada seseorang yang mengobati kekecewaannya dengan hal yang baik yang sesuai syariat ,tapi ada juga sebaliknya berbuat yang negative dan terjerumus ke perkara yang diharamkan agama seperti lari ke obat obatan terlarang,malas sekolah,hidup di jalanan,seks bebas dan hal yang negative lainnya,bahkan tidak sedikit yang memutuskan mengakihiri hidupnya dengan bunuh diri.


Dengan begitu penting sekali memiliki metode mengatasi kegelisahan secara positif agar bisa terhindar dari hal yang negatif seperti yang tertulis diatas.Alhamdulillah ternyata dalam islam ada sebuah contoh solusi yang sangat menakjubkan untuk mengatasi gelisah dan telah dicontohkan oleh para sahabat Nabi,pingin tahu caranya simak yang dibawa h ini.


Suatu ketika ada seorang yang sedang gelisah mendatangi Ibnu Mas’ud dan minta pendapat agar gelisah hatinya bisa sembuh,kemudian Ibnu Mas’ud berkata kepada orang yang sedang gelisah hatinya, “Carilah hatimu di tiga tempat (kesempatan): bawalah hatimu dimana ayat-ayat al-Quran dikumandangkan dan kamu menbacanya,dan bawalah hatimu ke majelis-majelis tempat orang berdzikir dan ajak hatimusendirian di tempat sunyi(sepertiga malam terakhir untuk berdoa pada allah). Jika tidak kamu dapatkan hatimu di tempat-tempat ini, maka bermohonlah kepada Allah agar memberikan karunia hati yang lain, sebab pada dasarnya engkau tidak mempunyai hati.” (Ibnul Qayyim al-Jauziah, al-Fawaid, hlm. 148)

Dengan kata lain adalah dengan banyak beribadah (zikir) kepada Allah SWT. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surah Ar Ra’d ayat 28 : “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”.


Saudaraku seiman gelisah adalah datang dari setan ,maka hendaknya kita harus senantiasa memiliki perisai untuk tetap selamat dari rasa gelisah ,perisai itu adalah senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dan senantiasa menjadi orang yang bertakawa kepada Allah SWT.agar kita selalu dapat lindungan Nya.

Setenang Sahabat Nabi



Assalamualaikum sahabat, sahabat sering galau ? sahabat banyak fikiran ? hati sahabat menjadi tidak tenang?.
sahabat beruntung membaca artikel ini karena mungkin sahabat akan terbantu dengan adanya artikel ini, karena artikel ini akan memberikan Doa Agar Hati sahabat menjadi tenang


KISAH SAHABAT NABI YANG HATINYA TIDAK TENANG

Di suatu pagi di kota madinah terlihat oleh baginda Rosululloh saw, seorang sahabat yang sedang duduk termenung, sebentar ia mengganti posisi duduknya, sebentar ia menengadah, sebentar kemudian ia menghela nafas,Ia adalah Abu Umamah yang sedang duduk dengan air muka yang lesu di dalam masjid, padahal ketika itu seperti biasanya seluruh penduduk Madinah sedang berada dalam kesibukan, baik bertani, berdagang, maupun mengurus keperluan rumah tangga

kemudian Rosululloh saw, mendekatinya dan berkata ” wahai Abu Umamah, aku lihat engkau sangat gelisah (baca :Galau), apa yang membuatmu gelisah ya Abu umamah?”

“benar ya Rosululloh, aku dalam keadaan gelisah, hutangku banyak, hingga akupun tak tenang dan tak betah tinggal di rumah”

Rasulullah SAW kemudian mendekati shahabatnya tersebut dan berkata, “Bukankah aku telah mengajarkanmu sebuah ucapan yang bila kamu mengucapkannya maka Allah akan menghilangkan kesedihan dan akan memberikan kelonggaran kepadamu?”
kemudian Rosululloh saw, membacakan Doa Agar hati menjadi tenang berikut ini:



"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, berlindung kepada-Mu dari kebakhilan dan ketakutan, dan berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan kesewenang wenangan orang ” (HR Abu Daud)


Beliau menganjurkan untuk membacanya setiap pagi dan petang, dan Abu Umamah ini kemudian melaksanakan apa yang di wasiatka Rosululloh saw tersebut. dan perlahan tapi pasti kegelisahannyapun sirna, ia menjadi orang yang rajin bekerja hingga persoalan hutangnyapun sedikit demi sedikit terselesaikan.dan di dalam sejarah ia teracatat sebagai saudagar yang kaya raya.
faktor-faktor yang membuat hati tidak tenang/galau

1. Faktor Biologi
Manusia memiliki otak yang berfungsi sebagai pusat pengatur segala aktivitas organ-organ tubuh seperti jantung, paru-paru, ginjal, dan sebagainya. Di dalam otak salah satunya terdapat dua unsur kimia (neurotransmitter), yaitu serotonin dan norepinephrine, di samping unsur-unsur kimia lain yang banyak terdapat dalam otak. Serotonin dan norephinephrine berfungsi dalam sistem saraf pusat yang berkaitan dengan suasana hati, ingatan, dan selera makan. Kelainan pada kedua neurotransmitter tersebut dapat memicu timbulnya gejala depresi, termasuk kecemasan, penyesuaian diri dan kelelahan. Kenapa bisa terjadi kelainan? Kurang lebih, karena otak atau kedua neurotransmitter tersebut dipaksa oleh tubuh untuk selalu bekerja, sehingga lama kelamaan akan menimbulkan suatu kejenuhan kerja otak yang mengakibatkan kelainan pada sistem saraf atau khususnya pada kedua neurotransmitter tersebut. Apabila hal ini dibiarkan dalam jangka waktu yang lama, dapat menyebabkan beberapa kerusakan saraf otak, seperti Neuritis, Amnesia, Epilepsi, Alzheimer, Parkinson, dan lain-lain.

2. Faktor Genetik
Pada tahun 2011, telah dilakukan penelitian untuk mengetahui hubungan antara depresi dan genetik. Menurut berita yang dilansir kompas.com pada tanggal 18 Mei 2011, sekelompok ilmuwan peneliti di King's College, London, Inggris, telah berhasil menemukan gen yang dapat menjadi pemicu timbulnya depresi, yaitu sebuah kromosom 3p25-26 yang mengandung lebih dari 40 gen, dan sebagiannya bisa jadi adalah penyebab timbulnya depresi atau galau (Samantha, 2011).

3. Faktor Psikososial
Menurut Syaza Ismail (2013), ada beberapa hal yang menjadi penyebab terjadinya depresi ditinjau dari segi psikososial, antara lain:
· Peristiwa kehidupan dan stress lingkungan, terutama ketika kehilangan sesuatu yang dicintai, baik orang, pekerjaan, harta, maupun benda kesayangan.
· Faktor kepribadian premorbid, yaitu ketika seorang anak dibesarkan dalam lingkungan yang pesimistik atau kurangnya dorongan dan semangat dalam menjalani kehidupan.
· Faktor psikoanalitik dan psikodinamik, misalnya ketika seseorang tidak bisa mengarahkan kemarahannya atau ketika seseorang merasa hidupnya tidak sesuai dengan yang dicita-citakannya.
· Ketidakberdayaan yang dipelajari, yaitu kurangnya kemampuan seseorang dalam menganalisis dan menghadapi setiap permasalahan hidup.
· Teori Triad Kognitif, yaitu berpandangan negatif terhadap masa depan, diri sendiri, dan pengalaman hidup. (Ismail, 2013)

Cara agar terhindar dari hati yang tidak tenang/galau

yang harus kita perbuat apabila kita ‘terpaksa’ mengalami hati yang gelisah atau galau yaitu seperti berikut.
Bismillah, depresi atau galau sebenarnya dapat mengancam semua manusia, tak terkecuali Nabiyyina Muhammad SAW ketika dakwah beliau ditolak dan ditentang oleh orang-orang kafir Quraisy saat itu. Tapi, tugas kita sekarang adalah meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa setiap ujian atau musibah yang datang kepada kita adalah atas kehendak-Nya. Jadi, sudah sepantasnya lah kita mengembalikan solusi masalah tersebut HANYA kepada-Nya.

Saya sudah mencoba menghadapi setiap masalah saya dengan turut mengikutsertakan-Nya dalam segala hal, tapi kenapa kok kayaknya Dia ga mendengar setiap keluh kesah yang saya haturkan ya? Astagfirulloh... Hal tersebut tak sepatutnya dihaturkan oleh orang-orang mukmin. Istighfar sebanyak-banyaknya, yaa mas mba. Yuk kita sama-sama kaji hadits berikut,

“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” (HR. Ahmad 3/18, dari Abu Sa'id; derajat hasan)

“...selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat)...” Nah loh, udah memenuhi syarat yang itu belum tuh? Kalau udah, tenang saja, berarti cuma ada 3 kemungkinan kok (terkait doa kita), “...[1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal...”
Intinya, Allah pasti mendengar kok setiap keluh kesah hamba-Nya. Namun yang jadi masalah sekarang adalah, sudah layak kah diri kita untuk menuntut dikabulkannya doa kita sedangkan kita masih sering melalaikan nikmat-nikmat yang telah Ia berikan? Atau mungkin kita masih sering menganggap remeh perintah-Nya? Atau juga mungkin kita masih sering tak sadar bahwa telah melakukan yang dilarang-Nya? Astaghfirulloh...

Jadi, sebenarnya Dia mendengar doa saya kan? Alhamdulillah... Lantas, apa yang bisa saya lakukan sekarang dalam menghadapi masalah-masalah saya, sekali lagi agar terhindar dari sikap galau tersebut? A’udzubillahi minasy syaitonir rozim... “Innallaha ma’a shobirin. Sesungguhnya Allah SWT bersama orang-orang yang sabar.” Itu mungkin langkah awal yang harus kita ambil apabila terjadi masalah yang tak kunjung jua selesai. Sayyidina 'Umar ibn Khaththab pun sependapat dengan hal tersebut, “Kalau sekiranya SABAR dan SYUKUR merupakan dua kendaraan, aku tak tahu mana yang harus aku kendarai.” (Al Bayan wa At Tabyin III/ 126) Subhanallah...
Terakhir mungkin ya dari saya, sekali lagi mari kita kaji hadits shahih berikut, insya Allah berkah kok untuk hidup kita:
“Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan hal itu tidak akan diperoleh kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan, maka dia bersyukur. Maka hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa kesusahan maka dia bersabar. Maka itu juga merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim dalam kitab az-Zuhd wa ar-Raqa’iq)

Allahu a’lam bi Ash-Showab...

Semoga dengan ilmu yang ada pada postingan ini dapat menjadi inspirasi untuk kita semua selaku umat muslim yang selalu berpedoman kepada Al-Qur'an untuk senantiasa lebih giat mencari solusi atas permasalahan hidup yang ada di dalam Kitabullah, Al-Quranul Karim dan juga insya Allah menjadikan setiap masalah hidup sebagai ujian dari Allah SWT. Karena Ia pun berfirman, "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman!', sedangkan mereka tidak diuji?" (QS Al-'Ankabut 29:2). Ujian itu pasti ada sahabat. Ya, ujian Allah SWT pasti datang kepada kita, baik dalam bentuk kenikmatan duniawi maupun dalam bentuk kesusahan/masalah/musibah. Jadi, tak usah takut dan khawatir lagi ya akan ujian Allah, karena di ayat yang lain Allah SWT pun menjanjikan kepada kita kok, "Sesungguhnya bersama kesulitan (masalah) ada kemudahan (solusi)." (QS Al-Insyiroh 95:6). Insya Allah... Allahu Akbar!!!
Apabila disimpulkan sedikit, sebenarnya hanya ada tiga kata kunci yang dapat kita jadikan suatu formula dalam menghadapi suatu masalah, yaitu:


MASALAH/GALAU = (-)KEIMANAN
KEIMANAN = SABAR + SYUKUR


demikian postingan kali ini mohon maaf apabila ada tulisan yang kurang menyenangkan.
wassalammualaikum

Minggu, 12 April 2015

Urgensi Dakwah Berjamaah





Dakwah merupakan aktivitas yang dilakukan untuk menyelesaikan problematika masyarakat dengan mengajak kembali kepada nilai – nilai Islam melalui perkataan dan perbuatan. Aktivitas dakwah ini merupakan aktivitas yang dibawa oleh para rasul dan pengikutnya untuk mengajak berjalan di jalan Allah SWT meski banyak rintangan berat yang dihadapi, kewajiban melaksanakan aktivitas ini kemudian diturunkan kepada generasi – generasi selanjutnya yaitu pada orang – orang yang beriman.

Dalam melakukan aktivitas dakwah tentu saja dibutuhkan sebuah metode terstruktur yang menjelaskan aturan main di dalam proses dakwahnya, aturan main tersebut harus dipatuhi untuk menciptakan proses dakwah yang benar – benar bertujuan dan berorientasi pada pembangunan masyarakat Islam seperti yang dilakukan oleh para rasul terdahulu. Metode terstruktur dan aturan main tersebut tercipta melalui gerakan berjamaah yang mana dalam jamaah tersebut terdapat pengkaderan agen-agen dakwah yang akan diturunkan dalam masyarakat. Aktivitas pengkaderan tersebut diantaranya adalah penanaman pemahaman yang menyeluruh, pengajaran keteladanan dengan mulai berdakwah pada diri sendiri, dan metode penyampaian materi dakwah yang baik untuk mampu mengikat hati target dakwahnya. Semua itu dilakukan secara terorganisir oleh organisasi dakwah tertentu.

Apabila agen-agen dakwah mengikuti apa yang diajarkan selama masa pengkaderan tentu kondisi idealnya akan banyak dai bertebaran di Indonesia yang mampu mengajak kepada Islam. Namun sepertinya kondisi itu tidak terjadi mengingat banyaknya konflik yang terjadi antara anggota satu jamaah dengan jamaah lainnya dengan menuduh salah satu jamaah beraliran sesat atau menganggap jamaahnya lah yang terbaik dalam metode dakwahnya yang kemudian menyulut jamaah lain untuk mencari-cari kelemahan dalam metode dakwahnya. Padahal kalau dipikirkan lagi, membicarakan suatu kelemahan pasti ngga akan ada habis-habisnya karena memang jamaah itu buatan manusia, Apalagi sikap yang mengklaim jamaahnya adalah jamaah yang paling benar metode dakwahnya, ini tentu sikap yang salah sebagai seorang agen dakwah. Allah SWT berfirman :

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S An Nahl 125)

Dari surat itu juga sudah jelas, yang mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah hanya Allah SWT saja, untuk apa kita buang – buang waktu menyatakan jamaah kita yang benar dan jamaah lain adalah sesat padahal ada yang lebih penting dari semua itu yaitu permasalahan umat, bagaimana mendekatkan orang – orang (mulai dari yang terdekat) kepada Islam.

Dalam surat lain :

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S Ali Imran 103)

Dari kedua surat tersebut sudah jelas dalil yang menjelaskan agar kita jangan saling bermusuhan sesama muslim karena musuh yang sesungguhnya kini sudah terlihat jelas yaitu kaum Yahudi. Mereka memang terpecah juga menjadi beberapa bagian, namun mereka mempunyai tujuan yang sama yaitu menghancurkan Islam dengan menguasai dunia perekonomian barat.

Kita juga jangan berdakwah dengan sendiri alias menjadi rambo dan berjuang sendirian karena sesungguhnya dua lebih baik daripada satu, tiga lebih baik daripada dua, empat lebih baik daripada tiga dan seterusnya. Lalu bagaimana memilih jamaah yang benar ? Pada dasarnya semua jamaah yang memiliki akidah yang benar, ibadah yang benar, muamalah yang benar, jauh dari bid’ah adalah boleh kita jadikan fasilitas dakwah, namun tetap harus diingat yang terpenting adalah bagaimana jamaah tersebut berkontribusi ke umat dengan menyeru kebaikan dan selalu menjaga silaturahmi.


https://ibnufathi1924.wordpress.com/2011/07/14/urgensi-dakwah-berjamaah/