.

Minggu, 04 November 2012

10 Muwashofat Tarbiyah




Al-Qur’an dan Sunnah merupakan dua pusaka Rasulullah Saw yang harus selalu dirujuk oleh setiap muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang amat penting adalah pembentukan dan pengembangan pribadi muslim. Pribadi muslim yang dikehendaki oleh Al-Qur’an dan sunnah adalah pribadi yang shaleh, pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah Swt.

Persepsi masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda, bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyah, padahal itu hanyalah salah satu aspek yang harus lekat pada pribadi seorang muslim. Oleh karena itu standar pribadi muslim yang berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah merupakan sesuatu yang harus dirumuskan, sehingga menjadi acuan bagi pembentukan pribadi muslim.

Bila disederhanakan, sekurang-kurangnya ada sepuluh profil atau ciri khas yang harus lekat pada pribadi muslim.

1. Salimul Aqidah

Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Alloh Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Alloh Tuhan semesta alam (QS 6:162).

Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da’wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.

Contoh dalama kegiatan Primer diantaranya :

Tidak berhubungan dengan jin
Tidak meminta tolong kepada orang yang berlindung kepada jin
Tidak meramal nasib dengan melihat telapak tangan
Tidak menghadiri majelis dukun dan peramal
Tidak meminta berkah dengan mengusap-usap kuburan
Tidak meminta tolong kepada orang yang telah dikubur (mati)
Tidak bersumpah dengan selain Alloh swt
Tidak tasya'um (merasa sial karena melihat atau mendengar sesuatu)
Mengikhlaskan amal untuk Alloh swt
Mengimani rukun iman
Beriman kepada nikmat dan siksa kubur
Mensyukuri nikmat Allah swt saat mendapatkan nikmat
Menjadikan setan sebagai musuh
Tidak mengikuti langkah-langkah setan
Menerima dan tunduk secara penuh kepada Allah swt dan tidak bertahkim kepada selain yang diturunkan-Nya


2. Shahihul Ibadah.

Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul Saw yang penting, dalam satu haditsnya; beliau menyatakan: “shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat”. Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

Contoh dalama kegiatan Primer diantaranya :

Ihsan dalam thaharah
Ihsan dalam shalat
Hafal Surat Adh-Dhuha sampai An-Naas
Membayar zakat
Berpuasa fardhu (wajib)
Niat melaksanakan haji
Komitmen dengan adab tilawah
Menjauhi dosa besar
Memenuhi nadzar
Menyebarluaskan salam
Menahan anggota tubuh dari segala yang haram


Sekunder :

Tidak sungkan adzan
Bersemangat untuk shalat berjamaah
Bersemangat untuk berjamaah di masjid
Qiyamul-Lail minimal sekali sepekan
Berpuasa sunnah minimal sehari dalam sebulan
Khusyu dalam membaca Al Qur'an
Hafal 1 juz Al Qur'an
Komitmen dengan wirid tilawah harian
Berdoa pada waktu-waktu yang utama
Menutup hari-harinya dengan bertaubat dan beristighfar
Berniat setiap melakukan perbuatan
Merutinkan dzikir pagi hari (al ma'tsurat min sughra)
Merutinkan dzikir sore hari (al ma'tsurat min sughra)
Dzikir kepada Allah swt dalam setiap keadaan
Beri'tikaf pada bulan Ramadhan, jika mungkin
Mempergunakan siwak
Senantiasa menjaga kondisi thaharah, jika mungkin


3. Matinul Khuluq.

Akhlak yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Alloh maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat.

Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw ditutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Alloh di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman yang artinya: Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung (QS 68:4).

Contoh dalama kegiatan Primer diantaranya :

Tidak takabur
Tidak imma'ah (asal ikut, tidak punya prinsip)
Tidak dusta
Tidak mencaci-maki
Tidak mengadu domba
Tidak ghibah
Tidak menjadikan orang buruk sebagai sahabat dekat
Memenuhi janji
Birrul walidain
Memiliki ghirah pada keluarganya
Memiliki ghirah pada agamanya

Sekunder :

Tidak memotong pembicaraan orang lain
Tidak mencibir dengan isyarat apapun
Tidak menghina dan meremehkan orang lain
Menyayangi yang kecil
Menghormati yang besar
Menundukkan pandangan
Menyimpan rahasia
Menutupi dosa orang lain


4. Qowiyyul Jismi.

Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Alloh dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.
Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah (HR. Muslim). 

Primer :

Bersih badan
Bersih pakaian
Bersih tempat tinggal
Komitmen dengan olahraga 2 jam tiap pekan
Bangun sebelum fajar
Memperhatikan tata cara baca yang sehat
Mencabut diri dari merokok

Sekunder :

Komitmen dengan adab makan dan minum sesuai dengan sunnah
Tidak berlebihan dalam begadang
Menghindari tempat-tempat kotor dan polusi
Menghindari tempat-tempat bencana

5. Mutsaqqoful Fikri

Intelek dalam berpikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur’an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berpikir, misalnya firman Allah yang artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: “pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir (QS 2:219).

Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktivitas berpikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu.

Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang artinya: Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS 39:9).

Primer :

Baik dalam membaca dan menulis
Memperhatikan hukum-hukum tilawah
Mengkaji marhalah Makkiyah dan menguasai karakteristiknya
Mengenal 10 sahabat yang dijamin masuk surga
Mengetahui hukum thaharah
Mengetahui hukum shalat
Mengetahui hukum puasa
Menyadari adanya peperangan zionisme terhadap Islam
Mengetahui ghazwul fikri
Mengetahui organisasi-organisasi terselubung
Mengetahui bahaya pembatasan kelahiran
Berpartisipasi dalam kerja-kerja jama'i
Tidak menerima suara-suara miring tentang kitaSekunder :

Membaca 1 juz tafsir Al Qur'an (juz 30)
Menghafalkan separuh hadits Arba'in (1-20)
Menghafalkan 20 hadits pilihan dari Riyadhus-Shalihin
Membaca sesuatu di luar spesialisasinya 4 jam setiap pekan
Memperluas wawasan diri dengan sarana-sarana baru
Menjadi pendengar yang baik
Mengemukakan pendapatnya


6. Mujahadatul Linafsihi.

Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatul linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu.

Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).

Primer :

Menjauhi segala yang haram
Menjauhi tempat-tempat maksiat

Sekunder :

Menjauhi tempat-tempat bermain yang haram


7. Harishun Ala Waqtihi.

Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya.

Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: “Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu”. Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi.

Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.

Primer :

Bangun pagi

Sekunder :

Menghabiskan waktu untuk belajar


8. Munazhzhamun fi Syuunihi.

Teratur dalam suatu urusan (munzhzhamun fi syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.

Dengan kata lain, suatu urusan dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya kontinyuitas dan berbasih ilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.

Primer :

Tidak menjalin hubungan dengan lembaga-lembaga yang menentang Islam

Sekunder :

Memperbaiki penampilannya


9. Qodirun Alal Kasbi.

Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan mandiri (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Kareitu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur’an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.

Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Swt, karena rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau ketrampilan.

Primer :

Menjauhi sumber penghasilan yang haram
Menjauhi riba
Menjauhi judi dengan segala macamnya
Menjauhi tindak penipuan
Membayar zakat
Tidak menunda dalam melaksanakan hak orang lain

Sekunder :

Menabung, meskipun sedikit
Menjaga fasilitas umum
Menjaga fasilitas khusus


10. Nafi’un Lighoirihi.

Bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tidak mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya.
Dalam kaitan inilah, Rasulullah saw bersabda yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir).

Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits, sesuatu yang perlu kita standarisasikan pada diri kita masing-masing.

Primer :

Melaksanakan hak kedua orangtua
Membantu yang membutuhkan
Memberi petunjuk orang tersesat

Sekunder :

Ikut berpartisipasi dalam kegembiraan
Menikah dengan pasangan yang sesuai :-)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar