.

Minggu, 20 September 2015

Mencari Spirit Hafidz yang Hilang



"Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, "Siapakah mereka ya Rasulullah?" Rasul menjawab, "Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya." (HR. Ahmad)


Kemana semangat menghafal yang dulu sempat membara? Kemana cita-cita menerangi hati dengan ayat-ayat Al Qur’an? Kemana cita-cita mulia (menjadi hafidz) sebelum mengakhiri masa hidup di dunia? Semoga semuanya tidak kemana-mana atau hilang seperti tetesan embun dipagi hari?


Imam Syafi’i hafal Qur’an dalam usia 9 tahun. Hasan Al Bana hafal Al Qur’an dalam usia 12 tahun. Yusuf Al Qardawi hafal Qur’an dalam usia 10 tahun. Raja Faisal dari Arab Saudi, satu-satunya pemimpin Saudi yang berani mengembargo minyak Amerika Serikat dan Nato hafal Al Qur’an di usia 16 tahun. Ismail Haniyeh, Perdana Mentri Palestina juga seorang Hafidz Al Qur’an. Bahkan Anaknya yang bernama Aid berhasil menggenapkan hafalan Al Qur’annya dalam waktu 35 hari. Presiden Mesir Muhammad Mursi, istri dan kelima anaknya juga hafidz dan Hafidzah Al Qur’an. Mereka sebagian dari contoh orang-orang besar yang telah menyempurnakan hidupnya dengan menghafal Al Qur’an. Mereka orang besar yang tahu betul bagaimana menjaga mukjizat terbesar Rasulullah SAW.


Menjadi hafidz adalah cita-cita yang tak mesti dipadamkan. Disuatu pelatihan menghapal Al Quran tahun lalu, pemateri mengatakan, “jika kita tak mampu untuk menghafal Al Qur’an berazzamlah untuk memiliki pasangan hidup Hafidz/Hafidzah Al Qur’an.” Karena seorang yang hafal Al Qur’an bisa memberikan syafaat kepada sepuluh anggota keluarganya. Sebagaimana diriwayatkan Tirmidzi, Ibnu Majah dari Ali bahwa Nabi saw bersabda,


”Barangsiapa yang membaca Al Qur’an, menghafalkannya, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram maka Allah akan memasukkannya ke surga dan dia bisa memberikan syafaat kepada sepuluh anggota keluarganya yang kesemuanya seharusnya masuk neraka.”


Sebuah saran yang menarik. Namun alangkah lebih baik jika kita menginginkan surga tidak hanya tergantung pada syafaat dari pasangan atau anak-anak kita (Untu yang telah menikah). Alangkah lebih baik sedari dini, sebelum masa bertualang di dunia ini berakhir kitapun memiliki kemauan yang kuat untuk mengkhatamkan Al Qur’an. Bukankah kita menginginkan kedudukan yang tinggi di surgaNya sesuai dengan ikhtiar maksimal kita dalam menghafal setiap ayat-ayat Al Qur’an selama hidup di dunia ini.


Dari Abdillah bin Amr bin ’Ash dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Akan dikatakan kepada shahib Al Qur’an, "Bacalah dan naiklah serta tartilkan sebagaimana engkau dulu mentartilkan Al Qur’an di dunia, sesungguhnya kedudukanmu di akhir ayat yang kau baca." (HR. Abu Daud dan Turmudzi)


"Ya Allah, jadikan kami, anak-anak kami, saudara kami, dan keluarga kami sebagai penghafal Al Qur’an. Jadikan sisa usia kami menjadi sarana untuk kami mengambil manfaat dari Al Qur’an saat membacanya, mengurai maknanya, menyimak nadanya dan menghapal setiap ayat-ayatnya.

BERLOMBA – LOMBALAH MENCARI ISTRI HAFIZHAH KARENA IA WANITA LANGKA SAAT INI

Saya menulis tema di atas tidak untuk mendorong anda mencari istri seorang hafidzah atau memprovokasi, anda karena pilihan mencari pendamping hidup hanya ada pada keputusan anda sendiri. Tetapi saya punya sisi menarik dari sosok seorang hafidzah yang perlu saya ungkapkan disini, nantinya akan menjadi pertimbangan bagi anda dalam mencari pendamping hidup.Sebagaimana yang anda ketahui, bahwa seorang hafidzah pada hakekatnya adalah seperti para wanita pada umumnya, tetapi dia seorang hafidzah. Sebutan seorang hafidzah adalah sebutan yang jarang dimiliki wanita saat ini, seiring dengan langkanya wanita yang berminat menghafal Al – Qur’an.

Sepanjang pengamatan saya, pendidikan wanita saat ini sudah mengalami pergeseran yang amat jauh sekali dari nilai-nilai Islam, yang berakibat pada pergeseran cara pandang terhadap wanita pun mengalami pergeseran pula. Tidak adanya konsep pendidikan yang benar bagi wanita akan menimbulkan implikasi ditengah- tengah masyarakat dan tak jarang hal itu tidak pernah kita rasakan sama sekali. Implikasi yang muncul ditengah masyarakat akibat dari penerapan konsep pendidikan wanita yang salah, barangkali salah satunya jorgan emansipasi yang melampaui batas fitroh kewanitaan yang sudah digariskan oleh syareat.
Maka pemandangan sosok “wonder woman/wanita super” sudah menjadi biasa bagi kita saat ini, karena pendidikan kita lebih mengedepankan para wanita menjadi wanita karier, yang terkadang banyak menggeser peran – peran yang seharusnya dipegang oleh para pria. Inilah perwajahan dunia pendidikan kita saat ini yang pada ujungnya adalah pekerjaan semata. Sehingga wajarlah manakala kita melihat para orang tua saat ini akan menuntut banyak hal dari anaknya yang telah selesai studinya dengan bekerja semata, walaupun dengan pekerjaan yang tidak sesuai dengan fitrohnya sebagai wanita dan ketentuan syareat.

Hal ini adalah fakta dari berbagai persoalan yang muncul karena konsep pendidikan yang tidak mendasarkan pada nilai-nilai Islam. Belum lagi jika kita kaitkan dengan kesiapan wanita saat ini memasuki gerbang rumah tangga, bisa kita katakan sangat minim sekali dari sisi bekal – bekal ulumuddinnya serta ilmu tentang Al – Qur’an.

Fenomena kekurangsiapan bekal dari segi ulumuddinnya serta ilmu tentang Al – Qur’an nampak nyata manakala sosok wanita tersebut hidup dalam lingkungan yang tidak Islami, yang diawali sejak dalam kandungan sampai menginjak dewasa. Ditambah lagi latar belakang orang tua yang kurang paham dengan nilai – nilai Islam, sampai pada titik akhir dia pun tumbuh dewasa dengan bekal – bekal ulumuddin serta ilmu tentang Al – Qur’an yang sangat minim sekali, bahkan tak jarang tidak punya bekal sama sekali. Begitu pula saat mengenyam pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi, tidak pernah ditanamkan tentang nilai – nilai Islam, maka dia akan tumbuh sebagai sosok wanita yang tidak paham dengan agamanya sendiri.

Dari fakta di atas barangkali salah satu sosok wanita yang masih diberikan karunia oleh Allah SWT untuk mendalami Al – Qur’an yakni sosok seorang hafizhah. Tanpa menafi’kan berbagai kelemahan dan kekurangan yang ada, seorang hafizhah saat ini sangat langka mengingat untuk menyelesaikan dan punya kemampuan menghafal Al – Qur’an membutuhkan banyak pengorbanan dan perlu kesabaran.

Ditambah lagi minat para wanita saat ini untuk menghafal Al – Qur’an sangat kurang, karena memang tidak banyak keuntungan di dunia yang didapatkan kecuali mengharap ridlo Allah SWT semata. Bahkan dalam melihat keutamaan serta kemuliaan para penghafal Qur’an ini Imam Bukhori menyendirikan dalam kitab shohihnya bab hadits tentang kedudukan pembawa Al – Qur’an dengan judul : Bab iri terhadap Shohibul Qur’an. Beliau meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata : Aku mendengar Rosulullah saw bersabda :”

“Tidak ada iri kecuali kepada dua golongan : laki – laki yang diberi Allah tentang Al – Qur’an dan mengamalkannya sepanjang malam dan laki – laki yang diberi harta oleh Allah dia bershodaqah siang dan malam” ( HR. Bukhori )

Ibnu Hajar menjelaskan dalam syarahnya tentang hadits tersebut maksud Bukhori mengemukakan hadits tersebut dengan judul : Iri kepada Shohibul Qur’an, Beliau berkata sesungguhnya maksud Bukhori adalah bahwa hadits ini menunjukkan selain Shohibul Qur’an dibolehkan iri kepada Shohibul Qur’an karena mengamalkan Al – Qur’an yang diberikan Allah kepadanya, maka shahibul Qur’an lebih layak untuk iri ( bahagia ) dengan amalan yang ia lakukan.

Al Imam Ibnu Katsir berkata : “Kandungan hadits ini menunjukkan bahwa Shohibul Qur’an itu di-iri-kan ( oleh orang lain ), ini keadaan yang baik. Hendaknya rasa iri yang sangat itu disebabkan karena posisi itu dan disunnahkan rasa iri padanya karena hal tersebut……….artinya berobsesi seperti nikmat orang tersebut, hal ini berbeda dengan hasad yang tercela yaitu berobsesi agar nikmat orang yang di-iri-kan itu hilang .”

Dari penjelasan di atas ternyata kita diperbolehkan iri bahkan hal ini merupakan sunnah terhadap sosok seorang penjaga Qur’an, karena banyaknya keutamaan serta hikmah yang bisa kita peroleh dari kehidupan para penghafal Qur’an.

Sekali lagi saya tidak memprovokasi anda untuk mencari pendamping hidup seorang hafidzah karena keputusan ada pada anda sendiri. Apa pun keunikan yang menarik manakala anda mencari pendamping hidup seorang hafizhah adalah :
1. Bekal – bekal ulumuddin serta ilmu tentang Al – Qur’an setidaknya sudah dimiliki walaupun masih sangat minim sekali dan masih perlu ditingkatkan. Bekal ini nantinya akan sangat bermanfaat sekali untuk membekali prinsip dasar ulumuddin serta ilmu tentang Al – Qur’an pada anak kita nanti. Misalnya membaca Al – Qur’an dengan fasih dan benar serta mampu menghafal beberapa juz Al – Qur’an dengan lancar dan lain – lain. Alangkah lucu dan bahagianya kita seandainya anak kita nanti yang masih balita sudah mampu membaca Al – Qur’an dan hafal beberapa juz Al – Qur’an karena tidak lain ibunya sendiri seorang hafizhah. Dan tentu saja penanaman pada seorang anak untuk mencintai Al – Qur’an sudah ditanamkan sejak dalam kandungan oleh seorang ibu yang hafidzah.

Kita pun bisa mengamati seorang ibu yang sedang mengandung anaknya kemudian aktivitasnya senantiasa mengulang, menyimak dan menghafal Al – Qur’an, maka anak yang akan dilahirkan pun akan sangat berbeda dengan seorang ibu yang mengandung anaknya, sedangkan dia tidak pernah bahkan jarang menyentuh Al – Qur’an, Insya’ Allah anak yang lahir dari rahim seorang hafizhah akan menjadi anak yang sholeh dan hafidz, Amiin

Lalu bagaimana bekal – bekal yang lainnya ? Kalau bekal – bekal ulumuddin serta ilmu tentang Al – Qur’an sudah didapatkan, Insya’ Allah bekal – bekal yang lain untuk menjadi seorang ibu yang pandai mendidik anak dan melayani suami sesuatu hal yang mudah kita dapatkan, tetapi dengan syarat kita harus punya persepsi yang sama dengan istri kita, bahwa kehidupan rumah tangga bukanlah akhir untuk mengapai cita – cita dan harapan. Maknanya bahwa ketika berumah tangga kita harus berupaya untuk terus belajar dan mengembangkan potensi diri, baik dari sisi suami maupun istri kita sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan kita. Tetapi kalau kita cukup puas dengan apa yang ada dan rumah tangga merupakan akhir segalanya, maka kita akan menjadi orang yang tertinggal.

2. Kalau kita sebagai suami punya kemampuan ulumuddin serta ilmu tentang Al – Qur’an yang sangat minim, maka kita bisa belajar banyak dengan istri kita yang hafidzah. Kita tidak boleh malu untuk belajar pada istri kita, kalau memang pada kenyataannya kita tidak mampu manakala ini kita upayakan Insya’ Allah kita akan mendapatkan manfaat yang banyak dari istri kita yang hafidzah.
Dua hal di atas yang mungkin menarik dari sosok seorang hafidzah walaupun sebenarnya masih banyak untuk diungkapkan. Untuk itu berlomba – lombalah mencari istri seorang hafidzah, Insya’ Allah kita akan mendapatkan manfaat yang banyak di dunia dan di akhirat 

(Abu Muttatiar/dari Buku Indahnya menjadi suami seorang hafizhah)

KEUTAMAAN HAFIZ DAN HAFIZAH ATAU PENGHAFAL QURAN



Allah SWT telah menjanjikan kelebihan kepada mereka yang menghafal al Quran seperti yang digambarkan di bawah.

1.MEREKA ADALAH KELUARGA ALLAH SWT.
Sabda Rasulullah s.a.w:
"Daripada Anas ra. Ia berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda, "Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga yang terdiri daripada manusia." Kemudian Anas berkata lagi, lalu Rasulullah s.a.w bertanya: "Siapakah mereka itu wahai Rasulullah. Baginda menjawab: "Iaitu ahli Quran (orang yang membaca atau menghafal Al- Quran dan mengamalkan isinya).Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah.

2.DI TEMPATKAN SYURGA YANG PALING TINGGI
Sabda rasulullah s.a.w:
"Daripada Abdullah Bin Amr Bin Al Ash ra dari nabi s.a.w, baginda bersabda; Diakhirat nanti para ahli Al Quran di perintahkan, "Bacalah dan naiklah kesyurga. Dan bacalah Al Quran dengan tartil seperti engkau membacanya dengan tartil pada waktu di dunia. Tempat tinggal mu di syurga berdasarkan ayat paling akhir yang engkau baca."

3.AHLI AL QURAN ADALAH ORANG YANG ARIF DI SYURGA
Sabda rasulullah s.a.w "Daripada Anas ra. Bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda; "Para pembaca Al Quran itu adalah orang-orang yang arif di antara penghuni syurga,"

4.MENGHORMATI ORANG YANG MENGHAFAL AL QURAN BERERTI MENGAGUNGKAN ALLAH SWT.
Sabda rasulullah s..a.w "Daripada Abu Musa Al Asya'ari ra.ia berkata bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Diantara perbuatan mengagungkan Allah adalah menghormati Orang Islam yang sudah tua, menghormati orang yang menghafal Al-Quran yang tidak berlebih-lebihan dalam mengamalkan isinya dan tidak membiarkan Al-Quran tidak di amalkan, serta menghormati kepada penguasa yang adil."

5.HATI PENGHAFAL AL-QURAN TIDAK DI SEKSA
Sabda rasulullah s.a.w.
" DaripadaAbdullah Bin Mas'ud ra. Daripada nabi s.a.w. baginda bersabda: " bacalah Al Quran kerana Allah tidak akan menyeksa hati orang yang hafal al-quran.
Sesungguhanya Al -Quran ini adalah hidangan Allah, siapa yang memasukkunya ia akan aman. Dan barangsiapa yang mencintai Al Quran maka hendaklah ia bergembira."

6.MEREKA LEBIH BERHAK MENJADI IMAM DALAM SOLAT
Sabda rasulullah s.a.w. :
"DaripadaIbnu Mas'ud ra. Dari Rasulullah s.a.w. beliau bersabda; "yang menjadi imam dalam solat suatu kaum hendaknya yang paling pandai membaca Al Quran."

7.DISAYANGI RASULULLAH S.A.W
Sabda rasulullah s.a.w.:
"Daripada Jabir Bin Abdullah ra. Bahawa nabi s.a.w menyatukan dua orang daripada orang-orang yang gugur dalam perang uhud dalam satu liang lahad.
Kemudian nabi s.a.w. bertanya, "dari mereka berdua siapakah paling banyak hafal Al Quran?" apabila ada orang yang dapat menunjukkan kepada salah satunya, maka nabi s.a.w memasukkan mayat itu terlebih dahulu ke liang lahad."
8.DAPAT MEMBERIKAN SYAFAAT KEPADA KELUARGA
Sabda rasulullah s.a.w.:
"Daripada Ali Bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah ia berkata, "Barangsiapamembaca Al Quran dan menghafalnya, maka Allah akan memasukkannya kedalam syurga dan memberikannya hak syafaat untuk sepuluh anggota keluarganya di mana mereka semuanya telah di tetapkan untuk masuk neraka."

9.PENGHAFAL AL QURAN AKAN MEMAKAI MAHKOTA KEHORMATAN
Sabda rasulullah s.a.w.:
"Daripada Abu Hurairah ra.daripada nabi s.a.w. baginda bersabda: "orang yang hafal Al Quran nanti pada hari kiamatnanti akan datang dan Al Quran akan berkata; "Wahai Tuhan ,pakaikanlah dia dengan pakaian yang baik lagi baru." Maka orang tersebut di berikan mahkota kehormatan. Al Quran berkata lagi:
"Wahai Tuhan tambahlah pakaiannya." Maka orang itu di beri pakaian kehormatannya. Al Quran lalu berkata lagi, "Wahai Tuhan, redailah dia." Maka kepadanya di katakan; "Bacalah dan naiklah." Dan untuk setiap ayat, ia di beri tambahan satu kebajikan."

10.HAFAL AL QURAN MERUPAKAN BEKALAN PALING BAIK.
Sabda rasulullah s.a.w.:
"Daripada jabir bin nufair, katanya rasulullah s.a.w. bersabda; "Sesungguhnya kamu tidak akan kembali menghadap Allah dengan membawa sesuatu yang paling baik daripada sesuatu yang berasal daripada-Nya iaitu Al Quran.

11.ORANG TUA MEMPEROLEHI PAHALA KHUSUS JIKA ANAKNYA PENGHAFAL AL QURAN.
Sabda rasulullah s.a.w.:
"Daripada Buraidah Al Aslami ra, ia berkata bahawasanya ia mendengar Rasulullah s..a.w bersabda: "Pada hari kiamat nanti, Al Quran akan menemui penghafalnya ketika penghafal itu keluar dari kuburnya. Al Quran akan berwujud seseorang dan ia bertanya kepada penghafalnya: "Apakah anda mengenalku?".
Penghafal tadi menjawab; "saya tidak mengenal kamu." Al Quran berkata; "saya adalah kawanmu, Al Quran yang membuatmu kehausan di tengah hari yang panas dan membuatmu tidak tidur pada malam hari. Sesungguhnya setiap pedagang akan mendapat keuntungan di belakang dagangannya dan kamu pada hari ini di belakang semua dagangan. Maka penghafal Al Quran tadi di beri kekuasaan di tangan kanannya dan diberi kekekalan ditangan kirinya, serta di atas kepalanya dipasang mahkota perkasa. Sedang kedua orang tuanya diberi dua pakaian baru lagi bagus yang harganya tidak dapat di bayar oleh penghuni dunia keseluruhannya. Kedua orang tua itu lalu bertanya: "kenapa kami di beri dengan pakaian begini?". Kemudian di jawab, "kerana anakmu hafal Al Quran."
Kemudian kepada penghafal Al Quran tadi di perintahkan, "bacalah dan naiklah ketingkat-tingkat syurga dan kamar-kamarnya." Maka ia pun terus naik selagi ia tetap membaca, baik bacaan itu cepat atau perlahan (tartil)

12.AKAN MENEPATI KELAS TERTINGGI DI DALAM SYURGA.
Sabda rasulullah s.a.w.:
"Daripada Sisyah ra ia berkata, bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda; jumlah tingkatan-tingkatan syurga sama dengan jumlah ayat-ayat Al Quran. Maka tingkatan syurga yang di masuki oleh penghafal Al Quran adalah tingkatan yang paling atas, dimana tidak ada tingkatan lagi sesudah itu.

APAKAH ADA PAHALA KHUSUS BAGI YANG MENIKAH DENGAN PENGHAFAL AL-QURAN


Apa balasan dan pahala serta manfaat yang terdapat dalam Al-Quran dan Sunnah bagi orang yang menikah dengan laki-laki penghafal Al-Quran dan mahar yang dia berikan juga Al-Quran? Jazaakumullah khairan.

Alhamdulillah

Keutamaan menikah dengan penghafal Al-Quranul Karim adalah keutamaan menikah dengan orang yang memiliki warisan kenabian. Jika penghafal tersebut mengamalkan apa yang dia hafal, maka berkumpullah sifat-sifat kebaikan seluruhnya, kebaikan batin yang menyimpan Kalamullah di dalamnya, dan kebaikan zahir dengan amal saleh dan akhlak mulia.

Allah Ta'ala berfirman,

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا (سورة فاطر: 32)

"Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami," (QS. Fathir: 32)

Allah Ta'ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ. لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ (سورة فاطر: 29-30)

"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri." (QS. Fathir: 29-30)

Muthraf rahimahullah, jika membaca ayat ini berkata, "Ini adalah ayat bagi para penghafal." (Lihat tafsir Al-Quranul Azim, 6/545)

Telah disebutkan sebelumnya dengan panjang lebar penjelasan tentang keutamaan penghafal Al-Quran di situs kami no. 14035 dan 20803.

Menikah dengan orang yang memiliki keutamaan seperti itu, besar harapan akan mendatangkan kebahagiaan bagi sang isteri dan besar harapan anak-anaknya memiliki kecerdasan dan kesalehan atas izin Allah, begitu pula keluarga akan ridha dan menerima.

Akan tetapi, semua itu dengan syarat penghafal Al-Quran tersebut mengamalkan apa yang dihafal, berakhlak dengan akhlak Al-Quran, beradab dengan adabnya dan bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla dalam semua urusannya. Inilah yang selayaknya menjadi bahan perhatian utama bagi setiap pemuda pemudi yang hendak menikah. Bukan sekedar menghafal namun tidak mengamalkan, atau sekedar menghafal kata-kata dan huruf yang tidak berbekas pada kepribadian dan akhlak. Kondisi seperti ini harus dijauhi agar tidak terjebak pada sikap terpedaya. Sebagaimana telah dipesankan kepada Ibnu Jauzi dalam kitab Talbis Iblis, 137-140 dalam satu bab yang membahas tentang tipudaya Iblis terhadap para penghafal.

Rasulullah saw menikahkan salah seorang shahabatnya dengan hafalan Al-Qurannya.

Dari Sahl bin Sa'd As-Sa'idy radhiallahu anhu, dia berkata,

"Suatu saat aku bersama sejumlah orang di sisi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Tiba-tiba datang seorang wanita dan berkata, "Wahai Rasulullah, dia ingin menyerahkan dirinya untukmu Bagaimana pendapatmu,' Ternyata beliau tidak memberi jawaban kepadanya sama sekali. Kemudian datang wanita kedua, lalu berkata, "Ya Rasulullah, dia ingin memberikan dirinya untukmu, bagaimana pendapatmu.' Ternyata beliau juga tidak menjawabnya sama sekali. Lalu datang wanita ketiga, lalu berkata, "Ya Rasulullah, dia ingin memberikan dirinya untukmu.' Ternyata beliau tidak menjawabnya sama sekali. Lalu ada seorang laki-laki yang datang. Ya Rasulullah, nikahkan aku kepadanya.' Maka beliau berkata, "Apakah engkau punya sesuatu (untuk mahar)" Dia berkata, "Tidak." Lalu dia berkata, "Carilah sana sesuatu (untuk dijadikan mahar) walau sekedar cincin besi." Lalu orang itu pergi untuk mencarinya, kemudian dia datang dan berkata, "Aku tidak mendapatkan apapun walaupun sekedar cincin besi." Lalu beliau berkata, "Apakah kamu punya hafalan Al-Quran?" Dia berkata, "Saya hafal surat ini dan ini." Lalu beliau berkata, "Aku nikahkan engkau dengannya (engkau mengajarkan) Al-Quran yang engkau hafal."

(HR. Bukhair, no. 5149, dalam bab Menikahkan dengan Al-Quran, dan Muslim, no. 1425)

Al-Hafiz bin Hajar rahimahullah, berkata,

Qadhi Iyadh berkata, 'Perkataan beliau "Dengan Al-Quran yang ada padamu." Memiliki dua makna;

Yang paling kuat; Dia mengajarkan isterinya Al-Quran atau sejumlah tertentu darinya, maka hal itu menjadi mahar baginya. Penafsiran ini terdapat dalam riwayat Malik, dan dikuatkan oleh perkataan beliau dalam sebagian riwayat shahih, "Ajarkan dia (isterimu) Al-Quran."

Mungkin juga hurfu ba' (ب) di dalamnya berarti 'karena'. Maksudnya adalah karena Al-Quran yang engkau hafal. Maka beliau memuliakan dia dengan menikahkannya dengan wanita tersebut tanpa mahar karena dia hafal Al-Quran atau sebagiannya.

Perbandingannya adalah kisah Abu Talhah bersama Ummu Sulaim. Yaitu dalam riwayat Nasa'I dan dia nyatakan shahih dari riwayat Ja'far bin Sulaima, dari Tsabit, dari Anas, dia berkata, "Abu Talhah melamar Ummu Sulaim. Lalu Ummu Sulaim berkata, "Demi Allah, orang sepertimu tidak akan ditolak, akan tetapi engkau kafir, sedangkan aku muslimah. Tidak halal bagiku menikah denganmu. Jika engkau masuk Islam, maka itulah mahar untukku, aku tidak meminta kepadamu selain itu. Akhirnya dia masuk Islam. Maka itu menjadi maharnya."

Diriwayatkan oleh Nasa'I dari riwayat Abdullah bin Ubaidillah bin Abi Talhah dari Anas, dia berkata, "Abu Talhah menikah dengan Ummu Sulaim. Maka mahar mereka adalah masuk Islam." Lalu disebutkan kisah tersebut, dan diakhirnya dia berkata, "Itulah mahar mereka berdua." An-Nasai sendiri memberi judul bagi hadits tersebut dengan ungkapan, "Menikah dengan Islam." Sedangkan untuk hadits Sahal beliau beri judul, "Menikah dengan hafalan Al-Quran." Seakan dia condong menguatkan kemungkinan makna yang kedua.

(Fathul Bari, 9/212-213)

Dengan apa yang telah kami sebutkan, namun tidak kami ketahui ada hadits atau atsar yang secara khusus menyebutkan keutamaan menikah dengan penghafal Al-Quran, bahwa baginya pahala begini dan begini, atau suatu janji keutamaan dan semacamnya.

Wallahua'lam.


http://islamqa.info/

Kamis, 10 September 2015

Cara Menghilangkan Sihir


Pertanyaan:

Assalamu’alaikum

Awal jus Alquran (alif lammim, sayakuulu, tilkar-rusulu, laayuhibbu dan seterusnya) kata orang ini bagus dibaca sebagai pelindung sihir/penolak sihir dan obat sakit perut. Apa ini sesuai syariah?

Dari: Sudirman

Jawaban:

Wa’alaikumussalam

Terkait dengan sihir, ada dua bentuk penanggulangan. Pertama, tindakan prevensi untuk menghindari sihir, dan kedua, pengobatan bagi yang terkena sihir.
Sebelum Terkena Sihir

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghindarinya:

1. Berusaha melaksanakan kewajiban, menjauhi larangan, dan bertaubat dari setiap maksiat. Semua aktivitas ini akan menjadi sebab Allah melindunginya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan beberapa pesan kepada Ibnu Abbas, diantaraya:

احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ

“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu jumpai Dia di hadapanmu…” (HR. Ahmad 2669, Tirmidzi 2516, dan dishahihkan al-Albani)

Makna hadis:

– Jagalah Allah : Jaga aturan Allah, laksanakan kewajiban dan hindari yang diharamkan.

– Kamu jumpai Dia di hadapanmu: Allah akan menolongmu dalam setiap keadaan yang engkau butuhkan.

2. Banyak membaca Alquran atau dzikir lainnya. Di antarannya adalah dzikir pagi petang dan dzikir sebelum tidur. Jadikan aktivitas ini sebagai wirid harian.

Orang yang rajin berdzikir, membaca Alquran, hatinya akan senantiasa hidup. Lebih dari itu, Allah menjanjikan orang yang membaca dzikir pagi petang, dia akan mendapatkan perlindungan dari-Nya.

3. Makan tujuh kurma Madinah setiap pagi. Ini berdasarkan hadis dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من أكل سبع تمرات مما بين لابتيها حين يصبح، لم يضره سم حتى يمسي

“Siapa yang makan tujuh kurma dari daerah ini (Madinah) ketika pagi, maka tidak akan terkena bahaya racun, sampai sore.” (HR. Muslim 2047).

Dalam riwayat lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من اصطبح بسبع تمرات عجوة لم يضره ذلك اليوم سم ولا سحر

“Siapa yang sarapan dengan 7 kurma ajwah, maka racun dan sihir tidak akan membahayakannya di hari itu.” (HR. Bukhari 5779 dan Muslim 2047).

Apabila Terkena Sihir

Kemudian, jika ada orang yang mengalami ujian dengan terkena sihir, hendaknya dia mengharap pahala kepada Allah atas musibah ini, dan berusaha mengobatinya. Pengobatan sihir bisa dilakukan dengan dua cara:

Cara Pertama, dengan ruqyah yang sesuai syariat

Di antara metode yang pernah dipraktikkan dan itu mujarab adalah

1. Mandi dengan air yang telah dicampur daun bidara

Persiapan: Siapkan 7 daun bidara hijau, dan seember air yang cukup untuk mandi.

Caranya:

a. Haluskan daun bidara dengan ditumbuk, dan campurkan ke dalam air yang telah disiapkan.

b. Baca ayat-ayat berikut di dekat air (di luar kamar mandi):

1) Baca ta’awudz: a-‘uudzu billahi minas syaithanir rajiim

2) Ayat kursi (QS. Al-Baqarah: 255)

3) QS. Al-A’raf, dari ayat 117 sampai 122

4) QS. Yunus, dari ayat 79 sampai 82

5) QS. Taha, dari ayat 65 sampai 70

6) Surat Al-Kafirun, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas

7) Minumkan air tersebut di atas 3 kali (bisa gunakan gelas kecil)

8) Gunakan sisanya untuk mandi.

9) Cara seperti ini bisa dilakukan beberapa kali, sampai pengaruh sihirnya hilang.

(Metode ini disebutkan oleh Dr. Said bin Ali bin Wahf al-Qohthani dalam buku beliau Ad-Dua wa Yalihi Al-Ilaj bi Ar-Ruqa, Hal. 35).



2. Membaca ruqyah kemudian ditiupkan

Caranya:

a. Baca surat Al-Fatihah, ayat kursi, dua ayat terakhir surat Al-Baqarah, surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.

b. Ulangi sebanyak 3 kali atau lebih

c. Baca ayat di atas, sampil ditiupkan dan diusapkan ke bagian tubuh yang sakit.

d. Baca doa-doa ketika menjenguk orang sakit.



Cara Kedua, menghancurkan simpul sihir

Cara kedua ini adalah metode menghilangkan sihir yang paling mujarab. Hanya saja, cara kedua ini agak sulit dilakukan, karena harus diketahui simpul sihir yang ditanam oleh dukun. Jika simpul sihir ini bisa dihancurkan maka pengaruh sihir akan hilang total. Simpul ini bak pangkalan militer bagi si dukun untuk menyihir objek sasaran.

Sebagaimana hal ini pernah dialami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti yang disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Berikut redaksi kisah yang lebih lengkap. Redaksi ini disebutkan oleh At-Tsa’alibi dalam tafsirnya dan dinukil oleh Ibnu katsir:

Dari Ibnu Abbas dan A’isyah radhiyallahu ‘anhuma menceritakan:

Dulu ada seorang remaja Yahudi yang menjadi pelayan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga, datanglah beberapa orang Yahudi menemui anak ini. Sampai akhirnya si remaja ini mengambil rontokan rambut kepala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan potongan sisir rambut, dan dia berikan ke orang Yahudi. Akhirnya, mereka gunakan rambut ini sebagai bahan untuk menyihir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pelaku sihir adalah seorang Yahudi Bani Zuraiq, namanya Labid bin A’sham. Simpul sihir dari rambut tersebut di tanam di sumur milik Bani Zuraiq, namanya sumur Dzarwan.

Karena pengaruh sihir ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jatuh sakit, sampai rambut beliau mudah rontok. Beliau seolah-olah melakukan sesuatu dengan istrinya padahal tidak melakukan apapun. Sampai akhirnya beliau bermimpi, beliau melihat ada dua malaikat yang datang. Yang satu duduk di dekat kepala beliau dan yang satu duduk di dekat kaki beliau.

Malaikat pertama bertanya, “Apa yang terjadi dengan orang ini?” “Dia tersihir.” Jawab Malaikat kedua. “Siapa yang menyihir?” Tanya malaikat pertama. “Labid bin A’sham orang Yahudi.” Jawab malaikat kedua. “Dengan apa dia disihir?” Jawabnya: “Dengan rambut dan potongan sisir.” “Di mana simpul sisirnya?” Jawabnya: “Dibungkus kulit mayang kurma, ditindih batu, di dalam sumur Dzarwan.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbangun. Kemudian beliau berangkat ke sumur Dzarwan di Bani Zuraiq bersama Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awam, dan Ammar bin Yasir.

Ali diperintahkan untuk mengambil batu itu, untuk mengeluarkan bungkus simpul sihir. Ketika itu, Allah menurunkan dua surat Al-Muawidzatain (surat Al-Falaq dan An-Nas). Sebelumnya, Ali bin Abi Thalib diperintahkan untuk membaca dua surat tersebut. Ternyata di dalamnya ada beberapa helai rambut dan potongan sisirnya. Di sana juga ada ikatan buntalan jumlahnya ganjil. Selanjutnya benda itu dimusnahkan dan sumurnya ditutup.

Seketika itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung terasa ringan dan hilang pengaruh sihirnya. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali, beliau sampaikan kepada istrinya:

يَا عَائِشَةُ، كَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعَةُ الحِنَّاءِ، أَوْ كَأَنَّ رُءُوسَ نَخْلِهَا رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ

“Hai Aisyah, air sumur itu seperti terkena daun pacar (inai). Atau seolah pangkal mayang kurma seperti kepala setan.” (HR. Bukhari 5763)

Imam Ibnul Qoyim dalam Zadul Ma’ad mengatakan:

Cara menyembuhkan sakit ini ada dua, di antaranya adalah mengeluarkan sumber sihir dan menghancurkannya. Ini adalah cara yang paling sempurna. Sebagaimana terdapat riwayat yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau berdoa kepada Allah tentang sumber sihir yang menimpa beliau, kemudian Allah tunjukkan bahwa pangkalnya ada di dalam sumur, dengan rambut dan potongan sisir dibungkus mayang kurma jantan. Ketika benda itu dikeluarkan, pengaruh sihir itu langsung hilang, seolah beliau baru terbebas dari ikatan. Inilah metode yang paling ampuh untuk mengobati orang yang terkena sihir. Seperti halnya menghilangkan sumber penyakit dalam tubuh (Zadul Ma’ad, 4:113)

Referensi:

Ad-Dua wa Yaliihi Al-‘Ilaj bi Ar-Ruqa min Al-Kitab wa As-Sunnah, Dr. Said bin Wahf Al-Qahthani, Kementrian Urusan Islam & Dakwah, KSA.

Alam As-Sihri wa Sya’wadzah, Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar, Dar An-Nafais.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Guna-guna dan Obatnya


Guna-guna atau pelet adalah salah satu dari jenis-jenis sihir yang biasa digunakan oleh para tukang sihir. Ia sering juga disebut dengan sihir mahabbah atau sihir cinta. Perbuatan semacam ini termasuk dalam perbuatan syirik, sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Nabi saw bersabda,”Sesungguhnya santet, jimat dan pelet adalah syirik.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah)

Para tukang sihir didalam melakukan sihirnya terkadang menggunakan benda-benda yang telah digunakan oleh orang-orang yang menjadi target sihirnya, seperti sapu tangan, baju, sisir, gelas, atau alat-alat lainnya, sebagaimana firman Allah swt :

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ﴿١﴾
مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ﴿٢﴾
وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ﴿٣﴾
وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ ﴿٤﴾
وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴿٥﴾



Artinya : “Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh. Dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki." (QS. Al Falaq : 1 – 5)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Zaid bi Arkom berkata bahwa Rasulullah saw telah disihir oleh seorang laki-laki dari Yahudi. Beliau merasakannya hingga beberapa hari. Zaid berkata,”Lalu Jibril pun datang menemuinya.” Dan berkata,”Sesungguhnya seorang laki-laki Yahudi telah menyihirmu. Dia membuat sebuah buhul yang ditujukan kepadamu dan diletakkan di dalam sumur ini dan itu. Maka kirimlah (seseorang) untuk ke sana agar mengambulnya.” Lalu Rasulullah saw mengutus Ali dan mengambilnya. Kemudian Ali membawanya dan mengurainya.”..

Dan apa yang dilakukan orang itu kepada anda bisa dimungkinkan salah satu bentuk sihir yang ditujukan kepada anda.

Tentunya untuk mengatasi pengaruh sihir orang itu kepada diri anda adalah dengan senantiasa berdoa kepada Allah swt, meminta pertolongan-Nya agar dilepaskan darinya serta biasakan diri anda untuk membaca Al Qur’an setiap harinya dan menghidupkan dzikir-dzikir yang disyariatkan pada awal pagi dan awal petang.

Selain itu anda pun bisa membaca ayat-ayat berikut :

1. Surat Al Fatihah ayat 1 – 7

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ﴿١﴾
الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٢﴾
الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ ﴿٣﴾
مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ ﴿٤﴾
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴿٥﴾
اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ ﴿٦﴾
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ ﴿٧﴾

2. Surat Al Baqoroh ayat 1 – 5


الم ﴿١﴾
ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ ﴿٢﴾
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ ﴿٣﴾
والَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ ﴿٤﴾
أُوْلَئِكَ عَلَى هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴿٥﴾

3. Surat Al Baqoroh ayat 102

وَاتَّبَعُواْ مَا تَتْلُواْ الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيْاطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُواْ لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْاْ بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُواْ يَعْلَمُونَ ﴿١٠٢﴾


4. Surat Al Baqoroh ayat 163 – 164

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ ﴿١٦٣﴾
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ السَّمَاء مِن مَّاء فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخِّرِ بَيْنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ ﴿١٦٤﴾

5. Surat Al Baqoroh ayat 255

اللّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ ﴿٢٥٥﴾

6. Surat Al Baqoroh ayat 285 – 286


آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ ﴿٢٨٥﴾
لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَآ أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ ﴿٢٨٦﴾

7. Surat Al Imran ayat 18 – 19

شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿١٨﴾
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوْتُواْ الْكِتَابَ إِلاَّ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَن يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللّهِ فَإِنَّ اللّهِ سَرِيعُ الْحِسَابِ ﴿١٩﴾

8. Surat Al A’raf ayat 54 – 55


إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ ﴿٥٤﴾
ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ﴿٥٥﴾

9. Surat Al A’raf ayat 117 – 118



وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ ﴿١١٧﴾
فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ ﴿١١٨﴾

10. Surat Yunus ayat 81 – 82

فَلَمَّا أَلْقَواْ قَالَ مُوسَى مَا جِئْتُم بِهِ السِّحْرُ إِنَّ اللّهَ سَيُبْطِلُهُ إِنَّ اللّهَ لاَ يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِينَ ﴿٨١﴾
وَيُحِقُّ اللّهُ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ ﴿٨٢﴾

11. Surat Thaha 69


وَأَلْقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوا إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى ﴿٦٩﴾

12. Surat al Mu’minun ayat 115 – 117


أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ ﴿١١٥﴾
فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ ﴿١١٦﴾
وَمَن يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِندَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ ﴿١١٧﴾

13. Surat Ash Shaffat ayat 1 – 10


وَالصَّافَّاتِ صَفًّا ﴿١﴾
فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا ﴿٢﴾
فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا ﴿٣﴾
إِنَّ إِلَهَكُمْ لَوَاحِدٌ ﴿٤﴾
رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَرَبُّ الْمَشَارِقِ ﴿٥﴾
إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاء الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ ﴿٦﴾
وَحِفْظًا مِّن كُلِّ شَيْطَانٍ مَّارِدٍ ﴿٧﴾
لَا يَسَّمَّعُونَ إِلَى الْمَلَإِ الْأَعْلَى وَيُقْذَفُونَ مِن كُلِّ جَانِبٍ ﴿٨﴾
دُحُورًا وَلَهُمْ عَذَابٌ وَاصِبٌ ﴿٩﴾
إِلَّا مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ ثَاقِبٌ ﴿١٠﴾

14. Surat al Ahqaf ayat 29 – 32


وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ ﴿٢٩﴾
قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزِلَ مِن بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ ﴿٣٠﴾
يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿٣١﴾
وَمَن لَّا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِن دُونِهِ أَولِيَاء أُوْلَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ ﴿٣٢﴾


15. Surat ar Rahman ayat 33 – 36


يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانفُذُوا لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ ﴿٣٣﴾
فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ ﴿٣٤﴾
يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِّن نَّارٍ وَنُحَاسٌ فَلَا تَنتَصِرَانِ ﴿٣٥﴾
فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ ﴿٣٦﴾

16. Surat al Hasyr 21 – 24


لَوْ أَنزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ ﴿٢١﴾
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ ﴿٢٢﴾
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ ﴿٢٣﴾
هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاء الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿٢٤﴾

17. Surat Al Jinn ayat 1 – 9


قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا ﴿١﴾
يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَن نُّشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا ﴿٢﴾
وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا ﴿٣﴾
وَأَنَّهُ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى اللَّهِ شَطَطًا ﴿٤﴾
وَأَنَّا ظَنَنَّا أَن لَّن تَقُولَ الْإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا ﴿٥﴾
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا ﴿٦﴾
وَأَنَّهُمْ ظَنُّوا كَمَا ظَنَنتُمْ أَن لَّن يَبْعَثَ اللَّهُ أَحَدًا ﴿٧﴾
وَأَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاء فَوَجَدْنَاهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيدًا وَشُهُبًا ﴿٨﴾
وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَن يَسْتَمِعِ الْآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَّصَدًا ﴿٩﴾

18. Surat al Ikhlas ayat 1 – 4


قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾
اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾
وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ ﴿٤﴾

19. Surat al Falaq ayat 1 – 5


قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ﴿١﴾
مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ﴿٢﴾
وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ﴿٣﴾
وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ ﴿٤﴾
وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴿٥﴾

20. Surat an Naas ayat 1 – 6


قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ﴿١﴾
مَلِكِ النَّاسِ ﴿٢﴾
إِلَهِ النَّاسِ ﴿٣﴾
مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ﴿٤﴾
الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ ﴿٥﴾
مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ ﴿٦﴾


Anda bisa membaca ayat-ayat tersebut terutama ketika anda merasakan pengaruh dari sihir tersebut, baik ketika anda terbayang-bayang wajahnya, ingin bertemu dengannya, perasaan cinta kepadanya yang sebenarnya bukan kehendak anda atau sejenisnya.

Upaya pengobatan ini bisa anda lakukan sendiri dengan penuh ketawakalan kepada Allah swt atau anda juga bisa meminta kepada seorang ahli agama untuk meruqyah dengan cara-cara yang dibenarkan syariat tanpa mengandung kemusyrikan.

Anda tidak perlu membalas kejahatannya dengan kejahatan yang lain, terlebih lagi apabila itu dilakukan dengan cara-cara sihir lagi yang diharamkan Allah swt. Semoga Allah swt memberikan pertolongan-Nya kepada anda dan kesabaran didalam diri anda.

Wallahu A’lam

http://www.eramuslim.com/

Rabu, 09 September 2015

Waspada Dengan Fitnah Harta



Pada asalnya, harta tidaklah tercela. Allah bahkan menyebut harta sebagai “khair” (kebaikan) dalam Al-Quran. 


كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا …


Pada asalnya, harta tidaklah tercela. Allah bahkan menyebut harta sebagai “khair” (kebaikan) dalam Al-Quran.

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ

“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak (khair), berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara makruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Baqarah [2]: 180)

Allah juga menyebutkan bahwa harta Allah jadikan sebagai “qiyâm”; atau sesuatu yang menopang kehidupan manusia. Allah berfirman,

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum Sempurna akalnya (anak yatim yang belum baligh), harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan (qiyâman). (QS. An-Nisa [4]: 5)

As-Syaikh Sa’di –rahimahullah- berkata, “Allah melarang para wali untuk menyerahkan uang kepada mereka yang belum sempurna akalnya, khawatir mereka akan merusak dan menghancurkannya. Karena Allah menjadikan harta sebagai pokok kehidupan bagi hamba-hambanya baik dalam kemaslahatan agama atau dunianya.” (Tasîr al Karîm 1/164)

Kemaslahatan harta dalam urusan dunia sangat jelas. Adapun kemaslahatannya dalam urusan agama, maka ia juga sangat banyak. Banyak jenis ibadah yang tidak bisa dilakukan kecuali dengan harta. Keterbatasan dalam harta bisa menjadi keterbatasan dalam beribadah. Dalam kendali dan pengaturan orang sholeh, harta adalah karunia terbaik yang mampu melesatkannya menjadi manusia mulia dan terhormat, baik dalam pandangan Allah, ataupun dalam pandangan manusia.

Hubungan dengan Allah akan semakin kuat, karena dengan hartanya seseorang akan lebih leluasa dalam mencari ilmu dan lebih tenang saat beribadah. Begitupun hubungannya dengan sesama, ia akan dengan mudah mempererat hubungan persaudaraan dan pergaulan dengan hartanya seperti dengan banyak memberi hadiah, makanan dan lain sebagainya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ

“Sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh orang shaleh.” (HR Bukhari dalam al Adab al Mufrad: 299, dishahihkan al Albani)

Dari sisi yang lain, Allah sering mengingatkan, bahwa harta adalah fitnah. Sebagaimana dengan sebab harta manusia bisa beribadah, dengan sebab harta pula manusia bisa dengan mudah berbuat kemungkaran. Inilah diantara hikmah mengapa Allah membatasi rizki-Nya kepada sebagian manusia. Agar manusia tidak melakukan perbuatan melampaui batas. Allah berfirman,

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS Asy-Syura [42]: 27)

Dengan harta biasanya manusia menjadi orang yang suka bermewah-mewahan. Dan, Allah mengabarkan kepada kita bahwa orang-orang yang hidup mewahlah yang selalu menjadi penentang para utusan Allah.

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ

“Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya.” (QS Saba’ [34]: 34)

Disebabkan harta, perhelatan manusia di dunia dalam mengumpulkan pundi-pundi kehidupan menjadi begitu ketat. Manusia saling berlomba, saling mengejar, dan tidak jarang saling menjatuhkan demi memperebutkan “nasib” dunianya. Hidup menjadi ajang persaingan yang pemenangnya ditentukan oleh banyaknya harta dan kekayaan. Nasib baik dan keuntungan didasarkan pada perolehan materi semata.

Kecenderungan inilah yang membuat manusia kerap lupa bahwa ada hak Allah yang harus ditunaikan dalam sikapnya terhadap harta. Padahal manusia tidak dibenarkan bersikap rakus, sombong dan berlebih-lebihan dengan harta. Harta merupakan karunia Allah yang seharusnya disyukuri dengan cara mengusahakan harta itu dari jalan yang halal dan membelanjakannya pada jalan yang juga diridhoi Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«مَا ذئبان جَائِعَانِ أُرسِلاَ في غَنَمٍ بأفسَدَ لها مِنْ حِرصِ المرء على المال والشَّرَف لدينهِ »

“Tidaklah dua serigala lapar yang menghampiri seekor kambing lebih berbahaya baginya dari ambisi seseorang kepada harta dan kedudukan bagi agamanya” (HR Tirmidzi no. 2376, ia berkata: hasan shahih, Ahmad: 3/656)

Sebuah ilustrasi yang sangat mengena dari Rasulullah untuk menggambarkan rusaknya agama seorang manusia disebabkan karena ambisi terhadap harta benda dan kedudukan di dunia. Kerusakan agama yang ditimbulkannya tidak lebih besar dari bahaya yang mengancam seekor kambing yang didatangi dua serigala lapar dan siap menerkamnya.

Ibnu Rajab menjelaskan, orang yang berambisi terhadap harta ada dua jenis:

Pertama, orang yang sangat mencintai harta, semangat dalam mencarinya dengan cara yang mubah, namun ia berlebihan dalam mendapatkan dan mengusahakannya. Orang ini tercela dari sisi bahwa semua usahanya itu bisa jadi sebuah bentuk mensia-siakan hidup, padahal ia seharusnya bersungguh-sungguh itu dalam mendapatkan kenikmatan akhirat yang abadi. Orang yang berambisi ini malah mensia-siakannya untuk mencari rizki yang sesungguhnya terjamin dan sesuatu yang Allah bagi-bagikan, yang tidak datang kecuali seukuran dengantakdir Allah, harta yang kelak tidak akan mendatangkan manfaat baginya, ia akan tinggalkan semua itu, dengan tetap hisabnya akan berlaku atasnya.”

Dikatakan kepada seorang ahli Hikmah, “Si fulan telah mengumpulkan harta.” lalu ia berkata, “Apakah ia juga mengumpulkan hari demi hari yang ia berinfak padanya?” dijawab, “tidak”

Seseorang berkata, “jika engkau di dunia lemah dalam berbuat kebaikan, maka apa yang kelak akan engkau perbuat di hari kiamat?”

Ibnu Mas’ud berkata, “Keyakinan itu adalah engkau tidak meridhai manusia dengan kemurkaan Allah, tidak memuji seseorang karena rizki Allah, tidak mencela seseorang atas sesuatu yang Allah tidak berikan kepadamu. Sesungguhnya rizki Allah tidak diraih dengan ambisi orang yang berambisi dan tidak akan tertolak karena bencinya orang yang benci. Allah dengan sifat adil dan ilmu-Nya menjadikan ruh (kehidupan yang hakiki) dan kebahagiaan terdapat pada sifat yakin dan ridha, menjadikan kesedihan dan gundah gulana pada sifar ragu dan kemurkaan.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada sahabatnya Hakim bin Hizam,

« يَا حَكِيمُ ، إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ ، وَكَانَ كَالَّذِى يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ ، وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى »

“Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini indah dan manis. Barangsiapa mengambilnya dengan keluasan jiwanya, ia akan diberkahi pada hartanya. Dan barangsiapa yang mengambilnya dengan tanpa berlebihan, maka perumpamaannya adalah seperti orang yang makan dan tidak pernah kenyang.” (HR Bukhari no: 1472, 2750, 3143, Muslim no: 1035)

Kedua, orang yang kondisinya lebih buruk dari jenis pertama. Ia adalah orang yang berambisi terhadap harta, hingga mengusahakannya dengan cara-cara yang diharamkan Allah dan menghalanginya untuk menunaikan kewajiban hartanya. Perutnya penuh dengan harta haram. Merasa harta yang dimilikinya adalah hasil dari seluruh usahanya, ia menjadi manusia yang sangat takut kehilangan hartanya. Ia jadi sangat kikir, malas bersedekah dan individualis. Ia terjerumus pada sikap kikir yang tercela. Padahal Allah berfirman,

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung.”(QS Al-Hasyr [59]: 9)

Dari Jabir bin Abdillah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ

“Peliharalah dirimu dari sifat kikir, karena sifat kikir telah membinasakan orang-orang sebelum kamu. Sifat itu telah menyuruh mereka memutuskan persaudaraan, maka mereka pun memutuskan persaudaraan. Sifat itu telah menyebabkan mereka saling membunuh dan menghalalkan perkara-perkara yang diharamkan (HR Muslim no: 6741) (Lihat Majmû Rasâ`il Ibnu Rajab, Syarh Hadîts Mâ Dzi`bâni Jâ`I’âni, Hal. 65 – 69)

Mudah-mudah Allah senantiasa menjaga kita semua dari fitnah harta yang merugikan. Amin.***Wallâhu a’lam bish-shawâb


Penulis: Ustadz Abu Khalid Resa Gunarsa, Lc (Alumni Universitas Al Azhar Mesir, Da’i di Islamic Center Bathah Riyadh KSA)

http://muslim.or.id/9136-waspada-dengan-fitnah-harta.html