Selasa, 26 Januari 2016

Apakah Sholat Tahajud harus Tidur Dulu?


Pertanyaan:

Ass. Apakah bisa sholat tahajud tanpa harus tidur terlebih dahulu. Karna saya insomnia.

Dari: Ricky Gery

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, ada dua istilah umum untuk menyebut kegiatan ibadah di malam hari,
Qiyam Lail
Tahajud

Para ulama menegaskan, qiyam lail lebih umum dari pada tahajud. Karena qiyam lail mencakup semua kegiatan ibadah di malam hari, baik berupa shalat, membaca Al-Quran, belajar mengkaji ilmu agama, atau dzikir. Selama ketaatan itu dilakukan di malam hari, sehingga menyita waktu istirahatnya, bisa disebut qiyam lail. Baik dilakukan sebelum tidur maupun sesudah tidur.

Dalam Maraqi Al-Falah dinyatakan,

معنى القيام أن يكون مشتغلا معظم الليل بطاعة , وقيل : ساعة منه , يقرأ القرآن أو يسمع الحديث أو يسبح أو يصلي على النبي صلى الله عليه وسلم

Makna Qiyam lail adalah seseorang sibuk melakukan ketaatan pada sebagian besar waktu malam. Ada yang mengatakan, boleh beberapa saat di waktu malam. Baik membaca Al-Quran, mendengar hadis, bertasbih, atau membaca shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, 34/117).

Sementara tahajud hanya khusus untuk ibadah berupa sholat. Sementara ibadah lainnya, selain shalat, tidak disebut tahajud.

Kedua, apakah harus tidur dulu?

Ulama berbeda pendapat tentang syarat bisa disebut sholat tahajud, apakah harus tidur dulu ataukah tidak.

1. Tahajud harus tidur dulu

Ini merupakan pendapat Ar-Rafi’i – ulama madzhab Syafii –. Dalam bukunya As-Syarhul Kabir, beliau menegaskan,

التَّهَجُّدُ يَقَعُ عَلَى الصَّلَاةِ بَعْدَ النَّوْمِ ، وَأَمَّا الصَّلَاةُ قَبْلَ النَّوْمِ ، فَلَا تُسَمَّى تَهَجُّدًا

“Tahajud istilah untuk shalat yang dikerjakan setelah tidur. Sedangkan shalat yang dikerjakan sebelum tidur, tidak dinamakan tahajud.”

Setelah menyatakan keterangan di atas, Ar-Rafi’i membawakan riwayat dari katsir bin Abbas dari sahabat Al-Hajjaj bin Amr radhiyallahu ‘anhu,
<

يَحْسَبُ أَحَدُكُمْ إذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ يُصَلِّي حَتَّى يُصْبِحَ أَنَّهُ قَدْ تَهَجَّدَ ، إنَّمَا التَّهَجُّدُ أَنْ يُصَلِّيَ الصَّلَاةَ بَعْدَ رَقْدِهِ ، ثُمَّ الصَّلَاةَ بَعْدَ رَقْدِهِ ، وَتِلْكَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Diantara kalian menyangka ketika melakukan shalat di malam hari sampai subuh dia merasa telah tahajud. Tahajud adalah shalat yang dikerjakan setelah tidur, kemudian shalat setelah tidur. Itulah shalatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu Hajar dalam Talkhis Al-Habir mengatakan,

Sanadnya hasan, dalam sanadnya ada perawi yang bernama Abu Shaleh, juru tulis Imam Al-Laits, dan Abu Shaleh ada kelemahan. Hadis ini juga diriwayatkan At-Thabrani, dengan sanad dari Ibnu Lahai’ah. Dan riwayat kedua ini dikuatkan dengan riwayat jalur sebelumnya.

2. Tahajud TIDAK harus tidur dulu

Sholat tahajud adalah semua shalat sunah yang dikerjakan setelah isya, baik sebelum tidur maupun sesudah tidur. (Hasyiyah Ad-Dasuqi, 7/313).

Karena tahajud memiliki arti mujanabatul hajud (menjauhi tempat tidur). Dan semua shalat malam bisa disebut tahajud jika dilakukan setelah bangun tidur atau di waktu banyak orang tidur.

Ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أفشوا السلام، وأطعموا الطعام، وصلوا الأرحام، وصلوا بالليل والناس نيام تدخلوا الجنة بسلام

Sebarkanlah salam, berilah makanan, sambung silaturahmi, dan kerjakan shalat malam ketika manusia sedang tidur, kalian akan masuk surga dengan selamat. (HR. Ahmad, Ibn Majah, dan dishahihkan Syuaib Al-Arnauth)

Abu Bakr Ibnul ‘Arabi mengatakan,

في معنى التهجد ثلاثة أقوال (الأول) أنه النوم ثم الصلاة ثم النوم ثم الصلاة، (الثاني) أنه الصلاة بعد النوم، (والثالث) أنه بعد صلاة العشاء. ثم قال عن الأول: إنه من فهم التابعين الذين عولوا على أن النبي صلى الله عليه وسلم كان ينام ويصلي، وينام ويصلي . والأرجح عند المالكية الرأي الثاني

Tentang makna tahajud ada 3 pendapat: pertama, tidur kemudian shalat lalu tidur lagi, kemudian shalat. Kedua, shalat setelah tidur. Ketiga, tahajud adalah shalat setelah isya. Beliau berkomentar tentang yang pertama, bahwa itu adalah pemahaman ulama tabi’in, yang menyandarkan pada ketarangan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur kemudian shalat, kemudian tidur, lalu shalat. Sedangkan pendapat paling kuat menurut Malikiyah adalah pendapat kedua. (Dinukil dari Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 14/86)

Catatan:

Bagi anda yang dikhawatirkan tidak mampu bangun sebelum subuh untuk tahajud, dianjurkan untuk shalat sebelum tidur. Sekalipun tidak disebut tahajud oleh sebagian ulama, namun dia tetap terhitung melakukan qiyam lail, yang pahalanya besar.

Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk bisa istiqamah dalam melakukan ketaatan.

Aamiin.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Senin, 25 Januari 2016

Prof. Nasarudin Umar yang saya kenal



Prolog

Dua hari belakangan, beredar broadcast di dunia maya mengenai kunjungan mantan Wakil Menteri Agama, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA, ke negeri para mullah, Iran. Kunjungan itu kemudian dikaitkan dengan perhelatan muktamar sebuah ormas Syiah, Ahlul Bait Indonesia, yang kebetulan digelar di Auditorium H.M. Rasjidi, Gd. Kementerian Agama, Jakarta, Jumat (14/11).


Broadcast itu diakhiri dengan kesedihan atas ketidakpedulian umat atas kehancuran agama. Singkatnya, isi broadcast tersebut seperti ingin menunjukkan bahwa ada talian sistematis antara kunjungan Prof.Nasar ke Iran dengan Muktamar Syiah di Kemenag sebagai sebuah kebangkitan syiah di Indonesia dan ketidakpedulian umat Islam atas hancurnya agama.


Karena membawa tendensi agama, pesan viral itu menyebar demikian cepat. Bahkan, di “handphone layak pakai” saya, pesan serupa menyebar di sejumlah grup whatsapp. Sebagian meminta klarifikasi, sebagian menuding, lainnya menjapri saya utk meminta penjelasan.




Dua Hal Berbeda


Tulisan ini saya buat untuk semua rekan dari kelompok manapun, baik yang (barangkali) membela syiah, maupun menentangnya. Saya ingin mengatakan begini, 


Pertama, Muktamar Ahlul Bait Indonesia (ABI) di Gd.Kemenag itu tidak ada kaitannya dengan kunjungan Prof.Nasar ke Iran. Kegiatan ABI tersebut adalah kegiatan insidental, sementara jadwal perjalanan Prof.Nasar ke Iran sudah diagendakan jauh2 hari. Itu dua hal yang tidak saling berkaitan.


Kedua, terkait acara penganut syiah di Kemenag, perlu diketahui bahwa Kementerian Agama memang mengakomodasi semua agama dan aliran kepercayaan. Tugas Kementerian Agama adalah menjaga kerukunan intra dan inter penganut agama2. Untuk itulah regulasi2 mengenai kehidupan keberagamaan ditelurkan guna memfasilitasi dan menjaga keharmonian dan kerukunan antar umat beragama. Selain penganut syi’ah, penganut Baha’i, Konghucu, Islam wetutelu, Kristen, Hindu, Buddha, Rahayu, dll., merupakan warga yang berkepentingan dengan Kemenag. Urusan pinjam meminjam tempat tidak mesti diangap sebagai justifikasi, terkadang alasannya bersifat teknis karena ruangan yang dianggap representatif, seperti penggunaan auditorium Kemenag pada "Sidang Kode Etik Pemilu" lalu, atau alasan2 lain dimana Kemenag sebagai pemerintah perlu memberikan fasilitas bagi warga negara.


Ketiga, perjalanan Prof.Nasar ke Iran adalah sebagai peserta aktif sekaligus menjadi narasumber dalam Konferensi Thabataba’i. Bagi para cendekiawan, menjadi narasumber dalam dialog lintas agama atau madzhab adalah hal yang sangat lazim. Jika rekan-rekan sempat berkunjung ke UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, atau kampus2 Islam lain, maka dialog antar madzhab atau agama merupakan hal yang tidak sulit dijumpai. Prof.Nasaruddin Umar dan Prof. Din Syamsuddin adalah dua dari sekian tokoh yang rutin menjadi narasumber dalam international interfaith dialogue di sejumlah negara.


Keempat, selain ke Iran, beliau juga kerap menjadi narasumber di negara2 lain, seperti Turki, Amerika, Negara2 Eropa, dan seterusnya. Saat ini (20/11) beliau sedang berada di Mesir, apakah akan diisukan pula bahwa kunjungan itu merupakan dukungan Prof.Nasar terhadap rezim kudeta As-Sissy? Beberapa waktu lalu beliau lakukan kunjungan ke Hongkong, menjadi tamu kehormatan Master Chin Kung, apakah akan dikatakan pula bahwa beliau adalah pendukung salahsatu aliran Agama Buddha tersebut? Tentu saja tidak. Hanya saja, sebagian orang yang memosisikan dirinya sebagai “analis” terkadang mengaitkan dua hal tak relevan seolah2 saling berkaitan. Rekan tentu tahu bagaimana cara pengamat mengait2kan hal yang tidak relevan menjadi nampak saling berkait.


Kelima, Prof.Nasar saat ini bukan lagi Wakil Menteri Agama. Kapasitas Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu dalam kunjungan ke Iran hanyalah sebagai cendekiawan. Oleh karena itu mengaitkan Muktamar Ahlul Bait Indonesia di Kemenag dengan kunjungan beliau sebagai akademisi yang tidak punya otoritas apa2 lagi di Kemenag adalah pandangan yang terlalu dipaksakan. 


Nasaruddin Umar yang Saya Kenal


Perlu sahabat sekalian ketahui, Prof. Nasaruddin Umar terlibat sangat aktif dalam berbagai kegiatan dakwah Islam. Saya seringkali mendampingi beliau dalam berbagai acara, bahkan saya makan di rumah beliau, juga kerap ditawarkan menginap di rumahnya jika pulang terlalu malam.

Selama di mobil sepanjang perjalanan untuk mengisi ceramah atau agenda2 di berbagai tempat, rutinitas pimpinan pondok pesantren al –Ikhlash di Bone, Sulawesi Selatan, dan Kendari, Sulawesi Tenggara, itu hanya hanya empat:

Membaca al-Quran sepanjang perjalanan dengan mushaf ukuran saku, mendengarkan murattal As-Sudais di TV mobil, berdizkir sambil memilin biji2 tasbih (ada sekitar tiga untai tasbih di mobil), atau menerima telepon. Kitab2 turats di rumahnya lengkap dari berbagai golongan dan madzhab menjadikan pemikiran beliau amat kaya. Belum lagi kitab2 kontemporer.


(Satu Sisi Kamar Prof. Nasar yang dipenuhi kitab2 berbahasa Arab)


Saya ingin gambarkan Rutinitas keseharian beliau seperti ini:

Beliau bangun sekira pkl 02.00 untuk shalat tahajjud, dan hanya tidur tiga jam setiap harinya. Selepas Shalat Tahajjud menjelang Shubuh, ia sempatkan menulis sekitar 10 halaman di kamar depan yang dindingnya tak terlihat karena dipenuhi buku. Jika sedang bermalam di kediaman, beliau selalu memipin Shalat Shubuh yang dilanjutkan dengan Kultum Shubuh di Masjid Baitul Makmur, 500m dari kediamannya di Ampera, Jakarta Selatan.

Jamaah kajian rutinnya di Masjid Sunda Kelapa ribuan orang setiap Senin dan Kamis malam. Belum lagi jamaahnya di Masjid at-Tin, Jakarta Timur, Masjid Raya Bintaro, Masjid Bintaro Jaya, dan sejumlah masjid lain.

Beliau adalah sosok yg sangat sabar. Tidak banyak bicara. Jika tidak menyukai sesuatu beliau diam sehingga kami tahu jika beliau sedang tidak berkenan terhadap sesuatu. Satu hal yang perlu sahabat ketahui, beliau senantiasa shaum Senin Kamis sekalipun dalam perjalanan yg sangat jauh, ke Eropa, misalnya.

Sebagai atasan, beliau selalu menasihati kami agar selalu membiasakan shalat berjamaah, jangan sampai menomorduakan Shalat hanya karena pekerjaan, begitu selalu. Beliau yang juga menjabat sebagai Rektor Perguruan Tinggi Ilmu al-Quran itu juga selalu menyeru kami untuk dekat kepada al-Quran, mendirikan shalat malam, dan juga merutinkan shaum Senin Kamis.

Pernah dalam sebuah kesempatan ceramah, beliau bilang: "saya disebut2 sebagai bagian dari Jaringan Islam Liberal (JIL), padahal saya sama sekali tak punya kaitan dengan kelompok tsb". 

Tapi beliau tak pernah memusingkan hal yg remeh. Biarkan tudingan itu menjadi urusan mereka dengan Tuhan. Doktor terbaik UIN Jakarta yang masuk dalam 500 Most Influental Muslims in the World itu tak pernah fikirkan pandangan manusia terhadap dirinya.

Dalam beberapa kesempatan saya mendengarkan ceramah beliau, seringkali mengkritik JIL yg dianggapnya terlalu berfikir bebas. Belum lama, di hadapan enam ribuan mahasiswa IAIN Palembang beliau ulang kembali, bahwa umat ini lemah karena terpecah, dan beliau tak bersetuju dengan liberalisme dalam pemikiran Islam. Katanya, Islam lemah karena terpecah dalam titik2 ekstrem. Baik yang liberal maupun yang jumud dalam memahami agama.











(sisi lain kamar depan rumah beliau yang dipenuh buku)




Rekan2, perlu diketahui bahwa beliau memang ulama tasawuf, dan tidak banyak orang memahami alur berfikir kalangan sufi. Orang yg tak memahaminya kerap menuding sesat tanpa landasan yg kokoh. Padahal ia dekat dengan seluruh ulama. Baik dengan Ulama Timur Tengah seperti Wahbah Zuhaili, Yusuf al Qaradhawy, dst.. maupun ulama Nusantara.

Apakah rekan2 cinta kepada KH.Ali Mustafa Yaqub, KH.Hasyim Muzadi, ust.Hidayat Nurwahid, KH.Syukran Makmun, jika iya, saya ingin sampaikan beliau seringkali bertemu mereka, mereka sangat akrab dan kerap berbicara dalam forum2 keagamaan, atau dalam undangan2 di kedutaan negara timur tengah. Belum lama beliau juga menerima dengan akrab ketua LPPI, Ustadz Amin Djamaluddin, yang dikenal cukup keras. Demikian pula dengan Pelajar Islam Indonesia, Syarikat Islam, dll. Bahkan, Ormas Gerakan Reformis Islam yang dikenal “keras” (mohon perhatikan tanda kutip) pun bertamu kepada beliau. 

Beliau adalah sosok sahaja yg sangat cinta kepada ulama. Pernah dalam satu agenda yg berbenturan, beliau amat berat meninggalkan acara bersama ulama2 sepuh di Jawa Tengah karena berbenturan dengan agenda kedinasan.

Beliau yg merendah mengatakan: "para ulama, para sesepuh, bimbinglah kami yg dhaif ini", padahal siapa yg meragukan kapasitas keilmuan beliau yg oleh ketua Umum MUI, Prof. Din Syamsuddin disebut "sangat paham agama"?

Dalam sebuah acara di Madinah, beliau diundang sebagai tamu kehormatan kerajaan karena keimuannya di mata ulama dan penguasa Saudi, beliau juga mendapat secara khusus potongan kain Kiswah dari Pemerintah Arab sebagai sebentuk ihtiram.

Apakah antum cinta kepada Ust.Amir Faishal Fath dan Ust.Adian Husaini, saya menjadi saksi betapa beliau dihormati oleh ust.Amir, berpelukan ketika bertemu dan saling bertanya kabar dalam bahasa arab. Beliau juga acap dijadwalkan sebagai penceramah bareng dengan ustadz Firanda Andirja di Masjid Kementerian Pertanian, bersama Ust.Syafiq Riza Basalamah.


Menerima Penghargaan dari Presiden SBY


Dengan Ust.Adian Husaini juga tak berbeda. Kedua tokoh itu terlibat sebagai juri pada perhelatan Islamic Book Fair 2014. Mantan Dirjen Bimas Islam itu memang selalu menjadi Dewan Pembina IBF dari tahun ke tahun. Sebuah pagelaran yang sangat bermanfaat dan dinanti2kan ummat termasuk kalangan aktivis Islam, yg ironisnya karena ketidaktahuan kerap menstigmatisasi beliau sebagai bagian dari kelompok JIL. Padahal waktu2 beliau terpakai untuk rapat demi rapat IBF. Beliau juga merupakan penggagas dan kontibutor pembangunan Masjid Ground Zero, bekas reruntuhan menara WTC di Amerika sana. 


Beliaulah yang berdarah2 memperjuangkan RUU Jaminan Produk Halal (JPH) sejak masih menjabat Dirjen Bimas Islam, sebuah RUU yang pembahasannya sangat panjang dan alot bahkan sampai menghabiskan dua kali masa sidang. Ada baiknya rekan2 ketahui, satu hari sebelum RUU JPH itu diundangkan, tak seperti biasa beliau terlihat sangat gelisah di kantor karena mendengar ada upaya penjegalan lagi terhadap UU yang melindungi ratusan juta umat Islam itu. Penebar Broadcast kemarin sudah melakukan apa?


Jika kebencian dan apriori sudah menguasai hati, maka celah sekecil apapun yang bisa dimanfaatkan untuk ditebar sembari merasa telah membela agama. Padahal ia tak tahu hal tersebut bisa menjadi sandunganbaginya di akhirat kelak.

Beliau pula yang berjuang sangat keras untuk diundangakannya UU Perbankan Syariah, hingga pulang demikian larut malam dan lelah, demi payung hukum bernama UU yang melindungi kehidupan ekonomi ummat atas dasar Islam itu. Saat ini pun beliau masih aktif dalam Komite Pengembangan Jasa Keuangan Syariah (KPJKS), dan masih aktif sebagai narasumber dalam kajian2 yang diadakan oleh MES (Masyarakat Ekonomi Syariah). Selain itu beliau juga duduk sebagai Dewan di BAZNAS dan Badan Wakaf Indonesia.

Akankah perjuangan yang sedemikian rupa akan dilakukan oleh orang2 JIL yang acapkali nyinyir terhadap segala sesuatu yang berbau syariah? 


( Bersama puluhan ribu anggota komunitas One Day One Juz)


Selain itu...
Beliau sebetulnya mendapatkan fasilitas rumah dinas, tapi beliau tidak mau mengisi rumah dinas itu karena, sebagaimana disampaikan pada kami dalam sebuah obrolan, beliau khawatir ada aset negara digunakan utk kepentingan pribadi. Baginya, lebih baik rumah pribadinya yg digunakan untuk kepentingan negara. Rumah Dinas itu pun akhirnya digunakan oleh seorang pejabat eselon satu di Kemenag.

Saat pengarahan rutin bulanan kepada para staff, beliau katakan: "jika waktu makan siang, jangan terlalu menyediakan makanan yg mewah. Saya ini santri. Cukup makanan sederhana saja." Bahkan pernah beliau makan nasi kotak di dalam mobil ketika hendak ke istana. Sebuah episode langka yg sangat jarang kita dapati di kalangan para pejabat.

Rekan2, percayalah hanya orang besar yg bisa menghormati orang besar. Jangankan seorang Nasaruddin Umar, Yusuf Qaradhawy saja disebut sebagai agen Islam liberal oleh Charles Kurzman, silakan rekan2 baca bukunya "Liberal Islam" yg tebal itu dan lihat pada urutan berapa Qardhawy disebut sebagai ulama Islam liberal.

Sahabat sekalian, orang2 besar tak pernah tanggapi berlebihan tudingan2 thd mereka. Bukan karena sesuai dengan apa yang dituduhkan, tetapi karena tugas mereka terlalu banyak dari sekadar menanggapi hal2 yg remeh temeh. Ummat yg punya bashirah yg akan memahaminya.

Bukankah yg nyaring bunyinya adalah tong yang kosong, yg hanya krn membaca buku "50 tokoh Islam liberal di indonesia" lantas menjadikan buku itu selayak 'kitab suci', lalu merasa sudah bisa memvonis seorang ulama yg waktunya dihabiskan utk khidmat kpd ummat. Yang hanya karena membaca wawancara di islib.com sertamerta menuding tokoh ini JIL tokoh itu JIL?

Mereka merasa sudah menyelam ke lautan dalam, padahal sebetulnya mereka masihlah di tepian pantai. Uang receh memang berisik bunyinya.

Biarkan saya yg menjelaskan, karena saya yg punya waktu lebih banyak. Beliau bukan lagi Wakil Menteri, sehingga rekan2 tak perlu ragu akan ketulusan saya menulis artikel ini. Sementara Prof.Nasaruddin waktunya terlalu sibuk. Senin dan kamis malam beliau mengisi pengajian di Masjid Agung Sunda Kelapa. Beberapa waktu di Jumat malam mengisi kajian Tanwirul Qulub di kantor Kemenag. Tiap Ahad Shubuh beliau rutin kajian Shubuh di Masjid Bintaro, Sabtu pekan kedua ceramah di Masjid at-Tin dan PW Muslimat NU DKI. Belum lagi ceramah2 rutin lain di sekolah2, kampus, masjid pasar, hingga majlis taklim kaum ibu. Selama ada waktu masih tersisa beliau tak pernah bedakan jamaah kaum elit maupun pengajian di kampung2. Dan beliau tak pernah tanyakan honor ceramah, karena sebagaimana yg beliau sering katakan, dirinya sudah ia wakafkan untuk umat. Tulisan2 tasawufnya di media massa bahkan tanpa bayaran sebab beliau ikhlaskan utk pegawai yang bekerja di perusahaan media itu.



Satu hari ust.Yusuf Mansur melihat Prof.Nasar di bandara, lalu segeralah ust.YM bergegas menghampiri, ucapkan salam dan dan merendah selayaknya santri kpd kyai. pertanyaannya: "Apakah mungkin seorang Ust.YM berlaku sedemikian kepada seorang tokoh Liberal?"


Ust.Arifin Ilham pernah meminta Prof.Nasar utk sampaikan taushiyah bagi ribuan jamaah dzikir rutin bulanan adz Dzikra di Sentul. Saya sendiri yg mengonfirmasi utk make sure waktu dan tempat ke ust.Arifin Ilham. Apakah tega kita katakan: "ust.Arifin Ilham pernah meminta tokoh Liberal agar memberi nasihat kepada ribuan umat Islam di jamaah dzikirnya?

Tentu saja tidak.. Baik ust.YM maupun Ust.Arifin, tahu bahwa beliau bukan tokoh liberal. Maka beliau berdua simpan ihtiram kpd Prof.Nasar


Rekan2 kenal Prof.Dr.KH.Didin Hafidhuddin? Prof.Nasaruddin Umar bersahabat dekat dengan ulama Bogor tsb. Bersama Ketua MUI KH.Ma'ruf Amin, kedua tokoh itu duduk bersama sebagai Dewan Pembina Lembaga Training ESQ 165

Sedemikian dekatnya, sampai2 Ketua Umum Baznas itu jauh2 hari meminta Prof. Nasaruddin Umar agar berkenan menyampaikan taushiyah pada pernikahan putri beliau. Mungkinkah seorang Pimpinan Pondok Pesantren Ulul Albaab Bogor, KH.Didin Hafidhuddin, mantan calon presiden Partai Keadilan, meminta seorang tokoh JIL utk menyampaikan taushiyah pada pernikahan putri tercintanya?

Mungkinkah Ketua MUI, KH.Ma’ruf Amin yg menfatwakan sesat atas liberalisme Islam duduk satu meja dalam sebuah Dewan Pembina dengan Prof.Nasaruddin Umar seandainya beliau adalah tokoh JIL?

Sahabat, kita boleh berbeda pemikiran dalam berislam, tapi jangan mudah menuding. Ibnu Rusyd dan Imam Ghazali juga berdebat soal agama, tapi sama sekali tak mengurangi nama besar mereka di hadapan ummat.

Imam Bukhari bahkan tak meriwayatkan satu pun hadits dari Imam Syafi'i karena dipandang tak penuhi syarat. Tapi keduanya tetap besar di mata ummat.

Syaikh bin baz pernah berdebat dg Syaikh Alwi al-Maliki tapi keduanya tetaplah ulama..

Lalu siapa kita di antara mutiara dan lautan ilmu mereka2?

Kebanyakan kita adalah para Thalib yg dhaif. Selayaknya kita merendah hati, membeningkan jiwa. Bahwa perbedaan pandangan di kalangan para ulama adalah lumrah dari zaman ke zaman. Kita memang tak perlu selalu sependapat dengan seorang ulama, tapi bukan berarti hal tersebut membolehkan kita berlaku lancang kepada mereka.

Mari buka mata, buka hati, hikmah itu tersebar dan terhampar dimana2.. alhikmatu dallatul mukmin.. fa aina wajadaha, fa hua ahaqqu biha..

Wallahu a'lam 
http://mistersigit.blogspot.co.id/

Jumat, 27 November 2015

Kisah almarhum Gito Rollies menuju tobat


Bangun Sugito Tukiman, adalah salah satu nama dari sekian juta penduduk negeri ini yang terhipnotis oleh musik rock (barat). Figur The Rolling Stones, dengan lead vocal-nya Mick Jagger, menjadi idola remaja yang lahir di kota Biak dan besar di kota Bandung ini. Bahkan aksi nekatnya di tahun 1967, memmembuat kota Bandung gempar, ketika dirinya yang mendapat cap “Siswa Bengal” termasuk salah satu siswa yang lulus dari SMA-nya, melakukan aksi tanpa busana sambil naik sepeda motor mengelilingi kota kembang tersebut. Kesukacitaannya dilampiaskan dengan gaya ala rocker, maklum, daftar kenakalannya lebih panjang dari daftar absen murid, sehingga ia tak yakin jika namanya akan tertulis di papan pengumuman seperti teman-temannya yang lulus (tempointeraktif.com).
Selepas SMA, di kota yang sama, Bangun Sugito Tukiman (vokal) bersama rekan-rekannya, Teuku Zulian Iskandar Madian (saxophone, gitar), Benny Likumahuwa (trombone, flute), Didiet Maruto (trumpet), Jimmie Manoppo (drum), dan Oetje F. Tekol (bas) mendirikan band yang bernama The Rollies. Di era 1970-an, The Rollies semakin eksis dan menunjukkan taringya sebagai grup band rock handal di tanah air. Belakangan, setelah sukses dengan beberapa hits yang sempat bertengger di belantika musik Indonesia, namanya pun berganti menjadi Gito Rollies. Waktu terus berjalan, anak tangga karir perlahan-lahan ditapaki satu demi satu. Sanjungan dan pujian, memmembuat dirinya telah merasa menjadi seorang Mick Jagger Indonesia, sosok yang dikagumi dan diidolakannya.
Pria yang sempat mengenyam kuliah dua tahun di Jurusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB), terus larut bersama kebesaran The Rollies. Aksi panggungnya mirip dengan sang idola, suara serak ala James Brown, bapak moyang soul dan funk, menjadikannya pusat perhatian. Kesuksesan di panggung telah mengantarkan diri dan kelompoknya di industri rekaman, pun mengantarkannya menjadi hedonis sejati.
“Tiap Jumat siang kami berangkat ke daerah Puncak Bogor untuk pesta miras dan narkoba,” Ungkap Gito dengan nada sesal.
Di masa ketenarannya, pada awal tahun 1980, ia menjalin hubungan intim dengan putri seorang aktor dan komedian besar, Uci Bing Slamet, dan darinya dikaruniai seorang anak lalu berpisah setelahnya. Bahkan setelah menikah dengan perempuan impor, wanita keturunan Belanda, Michelle Van der Rest, tahun 1983, ia masih belum bisa melepaskan diri sepenuhnya dari pengaruh narkotika (AntaraNews).
Setelah bersolo karir, dia menelorkan sejumlah album solo, yakni Tuan Musik (1986), Permata Hitam/Sesuap Nasi (1987), Aku tetap Aku (1987), Air Api (1987) dan Tragedi Buah Apel (1987) dan Goyah (1987).
Sebagai aktor Gito memulai debutnya di dunia film lewat Buah Bibir (1973) sebagai figuran. Setelah benar-benar menjadi aktor ia bermain dalam Perempuan Tanpa Dosa (1978), Di Ujung Malam (1979) dan Sepasang Merpati (1979), dan Permainan Bulan Desember (1980), dan Kereta Api Terkahir (…). Namun kekuatan aktingnya terlihat pada Janji Joni yang mengantarkannya meraih piala Citra untuk kategori Aktor Pembatu Pria Terbaik pada Festival Film Indonesia tahun 2005.
Awal Kesadaran
Tahun 1995, atau tepat setelah 10 November, Sang Rocker baru benar-benar berhenti mengkonsumsi drugs dan alkohol, setelah mengalami sebuah peristiwa yang memmembuatnya shock lahir batin. Sepulang dari konser Hari Pahlawan di Surabaya, di bawah pengaruh narkoba, selama tiga hari ia mengalami fly, tak bisa makan dan tak bisa tidur, dan selama tiga hari itu semua kelakuannya di masa lalu seperti diputar di depan mata. “Saya takut sekali,” ujarnya seperti diungkap kepada koran Tempo. Namun yang paling memmembuatnya ciut justru menyangkut segala omongan yang pernah terlontar dari mulutnya. Fitnah dan gunjingan terhadap musisi lain, termasuk melakukan ghibah (membicarekan kejelekan orang lain).
Pengalaman tiga hari itulah yang menjadi titik balik dirinya untuk kembali kepada Allah. Khabar tentang kekuasaanNya, telah diwartakan ke segenap penjuru bumi kepada seluruh manusia, hanya saja tidak banyak orang yang menyadarinya, “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” (QS. Adz-Dzaariyaat, 51 : 20-21).
Jika seseorang memperhatikan tanda-tanda itu, dan Allah SWT telah membukakan jalan masuk untuk memahami, tentu tidaklah sulit. Dalam ayat lain, Allah berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kelalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kelalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Yunus, 10 : 23).
Bisa jadi peristiwa yang ia alami, karena Allah hendak mengabarkan hal itu kepadanya sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri. Di usia kepala empatnya, seorang Gito Rollies diingatkan Allah SWT melalui sebuah peristiwa spiritual yang memmembuatnya bergidik ketakukan. Nyalinya ciut, gemetar badannya, kekuatan musik cadas tak mampu menyangga hatinya yang terkoyak kala tanda-tandaNya telah diterima saat dirinya fly. Kesadaran bathinnya bergolak untuk bangkit dari masa-masa kelam yang telah mengotori jiwanya.
Sang Rocker kini dalam kesadaran awal setelah puluhan tahun terlelap bersama kesuksesan, polularibeg, dan kenikmatan duniawi. “Saya harus hijrah, bukan ini tujuan saya dilahirkan ke muka bumi, tetapi ada tugas lain yang harus saya lakukan sebagai bekal pertemuan dengan Sang Pemilik jiwa ini,” ujar hati itu berkata lirih.
Hatinya telah terbuahi cintaNya yang tulus dan suci sehingga sang hati sejati berkata, “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf, 12 : 53).
Sebelum merasakan ke-Mahaan Allah dalam dirinya, Bangun Sugito hidup dalam serba kecukupan. Bergelimang kemewahan, bergiat dalam kehidupan malam, bertemankan jarum neraka. Begitulah hari demi hari yang dilalui seolah pakaian yang tak pernah lepas dari badannya.
Bahagiakah hidup seperti itu? Mendatangkan ketenangankah semua itu? Sebuah pertanyaan yang belum terjawab, sebuah rasa yang belum pernah ada dan sebuah keinginan yang belum tercapai. Pada akhirnya semuanya hanya menghantarkannya ke alam risau, resah dan gelisah.
Klimaks terjadi kala ia merayakan ulangtahunnya yang ke-50 pada 1997. Di situ, Gito mengundang seluruh karibnya untuk berpesta alkohol dan obat sepuasnya.
Dalam kerisauan panjang, beriring desah dan keluh kesah, daerah Puncak Bogor –Puncak dikenal sebagai tempat rekreasi di daerah Jawa Barat– selalu menjadi tempat menumpahkan penat, mengubur kegundahan yang membuncah. Wal hasil bukan ketenangan yang didapat bahkan gelisah itu makin menjadi. Namun dari daerah inilah benih hidayah itu mulai mekar membesar. Puncak menjadi tempat bersejarah, tempat solusi menjawab segala kerisauan.
Saat itu hari Jumat siang. Pria dengan rambut awut-awutan ini masih memegang botol miras, duduk di tempat yang tinggi sambil sesekali memandang ke arah bawah. Pandangannya tertuju kepada beberapa warga desa yang banyak menuju mesjid, hatinyapun bergetar, kerisauanpun kembali mengusik hati.
Mereka dengan kesahajaan bisa menemukan kebahagiaan. Apakah di Masjid ada kebahagiaan?!” Pertanyaan itu selalu mengusik Gito.
Sungguh pemandangan indah di hari Jumat itu, memberi arti tersendiri bagi kehidupan Gito Rollies. Sulit dibedakan keterusikan karena sekedar ingin tahu atau ini adalah awal Allah membukakan hatinya bagi pintu tobat.
Dicobanya untuk mendekati Masjid itu, subhanallah, seperti ada magnit yang memendekkan langkahnya untuk tiba. Mungkin di sana ada kebahagiaan. Terlihatlah sebuah pemandangan yang meluluhlantakan kegelisahannya selama ini.
“Rasanya seluruh otakku tiba-tiba dipenuhi oleh kekaguman. Dan entah kenapa, aku seperti mendapatkan ketenangan melihat orang-orang ruku, sujud dalam kekhusuan,”
“Bukankah apa yang kulakukan selama ini untuk mendapatkan ketenangan, tapi kenapa tidak? Ya, aku telah bergelut dengan kesalahan dan tetek bengeknya yang semuanya adalah dosa. Benarkah Allah tidak akan mengampuni dosaku? Lanbeg membuat apa aku hidup jika jelas-jelas bergelimang dalam ketidakbahagiaan.” Pikiran itu terus bergelayut seakan haus jawaban.
“Malam itu aku benar-benar tidak dapat memejamkan mata. Aku gelisah sekali. Ya, ternyata aku yang selama ini urekan, permisive ternyata masih takut dengan dosa dan neraka. Berhari-hari aku mengalami kegelisahan yang luar biasa. Hingga suatu malam, di saat kegelisahanku mencapai “puncaknya”, aku memutuskan untuk memulai hidup baru.
“Selama hidupku, baru kali ini aku diliputi suatu perasaan yang belum pernah aku rasakan semenjak mulai memasuki dunia selebritis. Maka, aku pun segera berwudlu dan melakukan shalat. Ketika itu, untuk pertama kalinya pula aku merasakan kebahagiaan dan kedamaian. Dan sejak hari itu, aku memutuskan untuk tekun memperdalam agama sekalipun masih banyak sekali tawaran-tawaran menggiurkan yang disodorkan kepadaku atau pun beragam ejekan dari sebagian orang. Aku pun melaksanakan haji seraya berdiri dan menangis di hadapan ka’bah memohon kepada Allah kiranya mengampuni dosa-dosa yang telah aku lakukan pada hari-hari hitamku.”
Ketika mentari terbit, Gito langsung mengajak istrinya untuk pergi ke Bandung, menjenguk sang ibunda. Di sana, ia mengutarekan niatnya untuk tobat yang disambut tangis haru sang ibu. Sejak saat itu, Gito resmi meninggalkan dunia kelam.
Satu yang disyukuri Gito adalah, dukungan dan kesabaran sang istri, Michelle, yang tak pantang habis.
“Saat aku sudah belajar agama, aku tidak berupaya menyuruhnya shalat. Ia tiba-tiba belajar shalat sendiri, begitu juga anak-anak. Suatu hari, ketika aku pulang, tiba-tiba aku mendapatinya tengah mematut diri di depan kaca sambil mengenakan jilbab. Padahal aku tidak pernah menyuruhnya. Subhanallah, istriku memang yang terbaik yang pernah diberikan Allah,” kata ayah dari empat putra ini.
Tobatnya Gito juga disyukuri oleh sang mertua, warga negara Belanda yang berimigrasi ke Kanada. Meski berbeda keyakinan, ibu mertuanya justru senang dengan perubahan yang dialami Gito.
“Kata beliau, aku jadi lebih kalem ketimbang dulu, meski sekarang pakai jenggot segala. Bahkan aku jadi menantu favoritnya lho,” tuturnya sambil terkekeh.
“Mengapa Allah memberikan hidayah kepada diriku yang kerdil ini? Mengapa Allah menciptakan makhluk yang penuh dosa ini?”
Gito mengaku harus merenung lama untuk menemukan jawaban itu. Setelah dia menjalankan shalat dan menunaikan haji, jawaban itu baru mampir di benak dan pikirannya. “Ternyata, Allah menciptakanku untuk menjadi manusia baik. Semula mengikuti idolaku, Mick Jagger. Aku menjadi penyanyi dan rekaman lalu mendapat honor. Tapi itu bukan kebahagiaan sepenuhnya membuatku.”
“Mick Jagger itu dulu menjadi idolaku. Ikut mabok, main cewek, dan seabrek dunia kelam lain. Tapi sekarang aku mengidolakan Nabi. Dan sekarang, aku menemukan nikmat yang tiada tara.”
Kalimat itu meluncur dengan lugas dari Gito Rollies, artis ndugal yang kini memilih ke pintu pertobatan. Penampilan Gito tak lagi urekan dengan rambut awut-awutan dan celana jin belel. Bukan pula pelantun lagu-lagu cadas yang berjingkrak-jingkrak tidak keruan.
“Aku sudah mendapatkan banyak hal di dunia ini. Sekarang saatnya mengumpulkan amal untuk persiapan menghadapi hari akhir ,” katanya ketika memberi testimoni tentang perubahan dalam hidupnya.
Setelah mengalami pengalaman rohani, dirinya mulai banyak bergaul dengan kalangan ulama, mengaji, serta mempelajari Al-Qur’an dan Hadits secara mendalam. Perlahan-lahan Allah SWT tanamkan pemahaman arti hidup sebenarnya. Sang Gito Rollies merasa telah menemukan hujjah yang mendasari hidupnya. “Dulu saya suka Mick Jagger, saya bahagia kalau populer. Ibaratnya, dulu tuhan saya adalah popularibeg. Nabi saya adalah para idola saya, dan rocker-rocker luar negeri, sekarang saya begitu mencintai Nabi Muhammad SAW dan ajaran-Nya,” ujarnya.
ALLAH MAHA BESAR, demikian kira-kira satu ungkapan yang cocok dialamatkan kepada legenda musik rock Indonesia tersebut. Ketika Gito memutuskan berputar haluan 180 derajat dari dunia rocker yang hingar bingar menuju kehidupan Islami yang sarat dengan dakwah, banyak sahabat yang kaget, seolah tak percaya. Apalagi bagi sahabat yang sangat mengenal Gito, rasa-rasanya “mustahil” ia berubah seperti itu. Dengan kata lain, apa yang dilakukan Gito ketika itu adalah “aneh bin ajaib”. Apalagi jika membandingkan gaya hidup dan penampilan Gito dulu yang “compang-camping” ala rocker, berubah menjadi seorang yang sangat Islami. Bahkan pakaian sehari-harinya pun bukan celana jins robek lagi, melainkan pakaian gamis lengkap dengan peci, layaknya umat Islam.
Dakwah dan Tabligh
Tidak ada yang tidak mungkin selain mengecat langit! Demikian kira-kira perumpamaan yang sedikit nyeleneh untuk mengungkapkan fenomena hijrahnya Gito Rollies ke dunia dakwah. Sejak 1997 ia mulai menapaki “karir” dalam dunia karkun Jamaah Tabligh (pekerja dakwah yang rela mengorbankan harta dan kehidupan dunia semata-mata untuk berdakwah di jalan Allah). Selama rentang waktu 1997-Februari 2008 ini, Gito telah malang melintang keliling Indonesia untuk menyebarkan dakwah kepada umat Islam. Berpindah dari mesjid satu ke mesjid lainnya.
”Awalnya, saya hanya melihat orang-orang yang pergi ke masjid dan belum menunaikan shalat, meskipun saya beragama Islam. Selanjutnya saya beranikan diri masuk ke rumah Allah itu. Wah, kali pertama rasanya malu sekali dan menakutkan tempat itu. Lama-lama Allah berkenan memberikan hidayah kepada saya,” ungkap Gito semasa hidup. Hal itu ia ungkapkan seraya mengenang awal mula kembali ke jalan Allah. (dikutip dari suaramerdeka.com. Berita Edisi 17 April 2004. Diakses Sabtu, 01 Maret 2008)
Khuruj fi Sabilillah (pergi ke luar rumah/kampung halaman) semata-mata untuk senantiasa memperbaiki iman dan ketakwaan bagi dirinya sendiri dan seluruh umat, diputuskan Gito sebagai jalan hidup. Seorang artis ibukota dalam salah satu siaran televisi Nasional mengungkapkan suatu pernyatan Gito yang mengharukan sekaligus membahagiakan, “Gito dulu pernah berkata kepada saya, bahwa ia ingin mati di panggung sebagai seorang rocker. Tapi suatu saat ia justru berubah pikiran. Gito bilang ia ingin mati di panggung, tapi bukan sebagai rocker melainkan saat berdakwah,” ungkapnya dengan nada haru dan berlinang air mata, seraya menjelaskan bahwa keinginan Gito tersebut dikabulkan Allah lewat jalan lain, yaitu Gito meninggal sesampainya di Jakarta setelah beberapa hari melaksanakan dakwah khuruj fi sabilillah di Padang, Sumatera Barat.
Demikian pula Da’i kondang Arifin Ilham, kepada wartawan, sembari tak kuasa menahan air mata, ia mengungkapkan bahwa Gito Rollies adalah teladan bagi umat. Ia juga mengungkapkan semasa hidup Gito telah berjuang di jalan Allah dengan membawa misi dakwah, meskipun penyakit yang diderita Gito cukup berat.
Luar biasa memang sosok Gito, penyakit nan ganas, kanker kelenjar getah bening yang telah ia derita sejak beberapa tahun lalu (ia bahkan pernah dirawat di Singapura), tidak menyurutkan semangat dakwahnya. Bahkan, dengan berkursi roda, ia tetap semangat mengumbar dakwah dari mesjid ke mesjid.
Berdakwah Di Kalangan Artis
Toh, meski sudah berada di jalan Allah, Gito tak pernah merasa dirinya yang paling benar. Ia selalu menolak jika disebut kyai, atau diminta untuk berceramah. Menurutnya, ia hanyalah orang yang masih terus belajar agama. Apapun yang diucapkannya di depan umum adalah upayanya berbagi cerita.
Bahkan, Gito masih merasa belum cukup bertobat hingga akhir hayatnya. Tak pernah sekalipun ia merasa dosa-dosanya telah terhapuskan. Dalam suatu pengajian ia sempat bertanya kepada ustadz yang berceramah, apakah dosa-dosanya di masa lalu bisa berkurang dengan permembuatannya saat ini.
Ia pun berdakwah di kalangan artis, baik penyanyi maupun bintang film. Allah seolah telah mengirim seorang utusan dari kalangan mereka sendiri, komunibeg yang sangat rentan terhadap segala bentuk kemaksiatan, seperti minuman keras, narkoba, bahkan seks bebas. Profesinya sebagai artis didayagunakan untuk syi’ar agama Allah, mengajak mereka dengan cinta kasih, tidak pernah memaksa, bahkan tidak merasa dirinya paling baik dan paling benar. Baginya, teladan lebih utama dari sekedar retorika religi belaka.
Penbeg musik dengan beberapa kelompok band muda terus dijalani. Bedanya, penbeg kali ini tanpa alkohol dan drugs serta menyelipkan syi’ar Islam di setiap penampilannya. Juga di balik layar lebar, film-film bertema religius sanggup dilakoni dengan satu semangat, yaitu menggemakan ajaranNya yang dibawa oleh Baginda Rasulullah. “Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata) : Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selain dariNya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya).” (QS. Al-Mu’minuun, 23 : 32).
Beberapa tahun belakangan, orang mulai memanggilnya Ustadz Gito, meski ia menolak panggilan itu. Banyak kalangan artis yang tersadarkan setelah menyimak penuturan pengalaman hidupnya. Teladan dan ucapannya yang lemah lembut memmembuat semakin banyak orang yang simpatik dengan isi dakwah, syi’ar yang diangkat dari pengalaman pribadinya. Ia pun sempat mendaur ulang album lawasnya, Cinta yang Tulus, bukan lagi tema cinta antara sepasang manusia tetapi antara makhluk dan Khalik.
Kini Kang Gito telah berubah, masa lalu memang tidak mungkin terhapus dari diary-nya, dan akan menjadi catatan sejarah panjang. Tetapi itulah kehidupan, segalanya belum titik, tapi masih koma. Dan baru mencapai titik bila ajal menjemput. Jalan hidupnya mengingatkan kita pada sosok Cat Stevens yang pernah tersandung sebuah kejadian luar biasa, lanbeg banting setir ke arah tidak terduga setelah selamat dari gulungan ombak besar di pantai Hawaii. Cat Stevens meninggalkan agama lamanya dan dunia yang memungkinkan segalanya kecuali spiritualibeg. Ia pun berganti agama dan namanya dengan jati diri yang baru, yaitu Yusuf Islam. Gito Rollies tidak perlu ganti nama, namun dirinya bermetamorforsis menjadi hambaNya yang memahami tujuan hidupnya serta berusaha menjadi bermanfaat bagi orang lain walaupun harus berceramah di abeg kursi roda dan melawan penyakit kanker getah benih yang menderanya sejak 2005.
Wafat Dengan Tersenyum
Perjalanannya terhenti pada pukul 18.45 WIB, Kamis (28/02), setelah Sang Rocker menghembuskan nafasnya yang terakhir. “Beliau meninggal setelah melakukan shalat Maghrib dan melakukan do’a terakhir,” ujar rekan artis yang turut melayatnya. Dua belas tahun lebih di sisa usianya dihabiskan untuk melayani dan mengajak orang lain melakukan kebaikan. Sakitnya tidak begitu dirasakan, bahkan pada akhirnya beliau nikmati sebagai peluntur sisa-sisa kekotoran dirinya dan menjadi musabab kematiannya.
Ia tersenyum saat Sang Malaikat maut mengepakkan sayapnya dan hadir di hadapannya untuk mencabut nyawa sang Rocker. Ikhlas menerima takdirNya, melepaskan segala bentuk atribut keduniawian. Kekelaman hidup terbayar tunai dengan amal permembuatan, dan senyum itu semakin menyeringai di wajahnya kala sang Malaikat perlahan-lahan mengambil ruh milikNya. Sehingga beliau masih mempunyai waktu untuk melafalkan lafadz tauhid. Dan sang Rocker pun meninggalkan dunia fana ini dengan rasa puas dan merasa tenang. “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu.” (QS. Al-Fajr, 89 : 27-30).
Insya Allah, beliau meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Mudah-mudahan peristiwa ini memotivasi kita semua untuk bisa bermembuat sebaik-baiknya, dan memberi manfaat sebesar-besarnya bagi kita di sisa umur yang tidak lama lagi. Tiada pernah terucap kata putus asa, karena Dia pasti akan mengampuni segala kesalahan dan dosa-dosa hamba-hambaNya, karena Kasih SayangNya bak Samudera Tak Bertepi. Semoga kita termasuk orang-orang yang berakhir hidup dengan jiwa yang muthmainnah, sebagaimana mereka yang terpilih.
Gito menigggalkan seorang isteri bernama Michelle dan lima anak, yakni Galih Permadi, Bintang Ramadhan, Bayu Wirokarma, dan Puja Antar Bangsa.
Sebaik-baik usia tiap orang adalah pada penghujungnya. Dan ketahuilah, bagi kita, ujung-ujung usia akan selamanya menjadi misteri, karena seringkali di sanalah Allah memberikan kesudahan yang indah dari perjalanan taubat hamba-Nya.


Selasa, 10 November 2015

16 Tense Grammar



Simple Past Tense

Simple Past Tense digunakan untuk menyatakan suatu perbuatan atau peristiwa yang telah terjadi pada waktu lampau dan tidak ada hubungannya dengan masa sekarang.

Rumus :

( + ) S + V2

( - ) S + did not + V1

( ? ) Did + S + V1

Example :

( + ) I went to Campus yesterday.

(Saya pergi ke Kampus kemarin.)

( - ) I did not go to Campus yesterday.

(Saya tidak pergi ke Kampus kemarin.)

( ? ) Did you go to Campus yesterday?

(Apakah kamu pergi ke Kampus kemarin?)



Past Continuous Tense

Past Continuous Tense digunakan untuk menyatakan suatu perbuatan atau peristiwa yang sedang beralangsung pada waktu lampau ketika kejadian lain terjadi.

Rumus :

( + ) S + was/were + Ving

( - ) S + was/were + not + Ving

( ? ) Was/were + S + Ving

Example :

( + ) I was listening to radio when the telephone rang

(Saya sedang mengdengarkan radio ketika telepon berbunyi.)

( - ) I wasn’t watching TV when you phoned me.

(Saya tidak sedang menonton TV ketika anda menelpon saya.)

( ? ) Were you Watching TV when I called you?

(Apakah kamu sedang menonton TV ketika saya menelpon kamu?)



Past Perfect Tense

Past Perfect Tense digunakan untuk menerangkan suatu perbuatan atau peristiwa yang sudah selesai dilakukan pada waktu lampau.

Rumus :

( + ) S + had + V3

( - ) S + had + not + V3

( ? ) Had + S + V3

Example :

( + ) I had gone when He arrived at my Home.

(Saya pergi ketika dia tiba di rumah saya.)

( - ) She hadn’t been at home.

(Dia tidak ada di rumah.)

( ? ) Had you studied English when your father come here?

(Apakah kamu telah belajar Bahasa Inggris ketika ayahmu ke sini?)



Past Perfect Continuous Tense

Past Perfect Continuous Tense digunakan untuk menyatakan suatu perbuatan atau peristiwa yang sudah dimulai pada waktu lampau dan masih berlangsung terus hingga pada waktu yang lampau pula.

Rumus :

( + ) S + had + been + Ving

( - ) S + had + not + been + Ving

( ? ) Had + S + been + Ving

Example :

( + ) He had been living in here before he moved to Semarang.

(Dia telah tinggal di sini, sebelum dia pindah ke Semarang.)

( - ) They had not been sleeping until I can me to meet him.

(Mereke belum sedang tidur hingga saya menemui mereka.)

( ? ) Had she been finishing her duty before her leader inspected it?

(Apakah dia sudah menyelesaikan tugas-tugasnya sebelum pimpinannya memeriksanya?)



Simple Present Tense

Simple Present Tense adalah suatu bentuk kalimat yang menyatakan suatu perbuatan atau peristiwa yang terjadi pada saat sekarang atau kejadian yang merupakan kebiasaan sehari-hari.

Rumus :

( + ) S + V1 (s/es)

( - ) S + do/does + not + V1

( ? ) Do/does + S + V1

Example :

( + ) I drink coffee.

(Saya minum kopi.)

( - ) I don’t coffee

(Saya tidak minum kopi.)

( ? ) Do you drink coffee?

(Apakah kamu minum kopi?)


Present Continuous Tense

Present Continuous Tense digunakan untuk menyatakan suatu perbuatan atau peristiwa yang sedang berlangsung atau sedang dikerjakan, dan belum selesai di waktu sekarang.

Rumus :

( + ) S + to be + Ving

( - ) S + to be + not + Ving

( ? ) to be + S + Ving

Example :

( + ) I am waiting a letter now

(Saya sedang menulis surat sekarang.)

( - ) They are not speaking English

(Mereka tidak sedang berbicara Bahasa Inggris.)

( ? ) Is he watching TV now?

(Apakah dia sedang nonton TV sekarang?)



Present Perfect Tense

Present Perfect Continuous Tenses digunakan untuk menyatakan suatu perbuatan atau persitiwa yang sedang terjadi pada waktu lampau dan masih ada hubungannya dengan saat sekarang.

Rumus :

( + ) S + have/has + V3

( - ) S + have/has + Not + V3

( ? ) Have/has + S + V3

Example :

( + ) He has lived there for two years ago.

(Dia telah tinggal di sana selama dua tahun.)

( - ) They haven’t come here yet.

(Mereka belum datang kemari.)

( ? ) Have you eaten your brea?

(Apakah kamu sudah makan rotimu?)


Present Perfect Continuous Tense

Present Perfect Continuous Tense digunakan untuk menyatakan suatu perbuatan atau peristiwa yang dimulai dari waktu lampau dan masin terus berlangsung hingga waktu sekarang

Rumus :

( + ) S + have/has + been + Ving

( - ) S + have/has + not + been + Ving

( ? ) Have/has + S been + Ving

Example :

( + ) I have been studying English for over nine years.

(Saya telah belajar bahasa inggris selama lebih dari Sembilan tahun.)

( - ) They haven’t been swimming since January .

(Mereka belum berenang lagi sejak bulan January.)

( ? ) Has she been studying English for two year?

(Apakah dia teleh mempelajari bahsa Inggris selama dua tahun?)


Future Tense

Future Tense digunakan untuk menyatakan suatu perbuatan atau peristiwa yang terjadi atau dilakukan pada waktu yang akan datang. Ciri penandanya misalnya terdapat kata tomorrow, next month, next year, next saturday, dan sebagainya.

Rumus :

( + ) S + will + V1

( - ) S + will + not + V1

( ? ) Will + S + V1

Example :

( + ) I will do to Jakarta next week.

(Saya akan ke Jakarta minggu depan.)

( - ) They will not sail to the sea.

(Mereka tidak akan berlayar ke lautan.)

( ? ) What will she do then?

(Apa yang akan dia lakukan selanjutnya?)


Future Continuous Tense

Future Continuous Tense digunakan untuk menyatakan suatu perbuatan atau peristiwa yang akan sedang terjadi pada waktu yang akan datang

Rumus :

( + ) S + will + be + Ving

( - ) S + will + not + be + Ving

( ? ) Will + S + be + Ving

Example :

( + ) My mother will be teaching math at o’clock next week.

(Ibu saya akan (sedang) mengajar matematika jam delapan minggu depan.)

( - ) We shall not be working at 7 p.m.

(Kita tidak akan (sedang) bekerja pada jam tujuh malam besok.)

( ? ) Will you be going out if she comes here to night?

(Akan Anda akan (sedang) keluar, jika dia datang ke sini nanti malam?)


Future Perfect Tense

Future Perfect Tense digunakan untuk menyatakan suatu perbuatan atau peristiwa yang sudah dimulai pada waktu lampau dan segera selesai pada waktu yang akan datang.

Rumus :

( + ) S + will + have + V3

( - ) S + will + not have + V3

( ? ) Will + S + have + V3

Example :

( + ) She will have been at home.

(Dia akan telah berada di rumah.)

( - ) The wild cat will not have been here for a year by next month.

(Kucing liar itu belum akan sudah di sini selama setahun setahun menjelang bulan ini.)

( ? ) Will you have been a doctor by next year?

(Akan Anda sudah menjado dokter tahun depan?)


Future Perfect Continuous Tense

Future Perfect Continuous Tense digunakan untuk menyatakan suatu perbuatan atau peristiwa yang sudah dimulai pada waktu lapau tetapi mungkin akan berlangsung pada waktu yang berlainan di masa mendatang.

Rumus :

( + ) S + will + have + been + Ving

( - ) S + will + not + have + been + Ving

( ? ) Will + S + have + been + Ving

Example :

( + ) By next new year I shall have been teaching at this SMU for three years.

(Menjelang tahun baru mendatang, (berarti) tiga tahun saya mengajar di SMU ini.)

( - ) I shall not have been staying here for five years by the end by month.

(Saya belum akan sudah tinggal di sini selama lima tahun menjelang akhir bulan ini.)

( ? ) Will she have been leaving the town for two years by end of this year?

(Apakah kamu akan sudah meninggalkan kota ini menjelang akhir tahun ini?)


Past Future Tense

Past Future Tense digunakan untuk menyatakan suatu perbutan atau peristiwa yang akan terjadi pada waktu lampau.

Rumus :

( + ) S + should/would + V1

( - ) S + should/would + not + V1

( ? ) should/would + S + V1

Example :

( + ) I would be there the week before.

(Saya mestinya berada di sana minggu sebelumnya.)

( - ) I should not give money if you to my shop.

(Saya tidak akan member uang jika kau datang ke tokoku.)

( ? ) Would he buy a shoes last month ?

(Akankan ia membeli sepatu bulan lalu?)


Past Future Continuous Tense

Past Future Continuous Tenses ialah bentuk waktu untuk menyatakan perbuatan atau peristiwa yang akan sedang dilaksanakan dimasa lampau.

Rumus :

( + ) S + would + be + Ving

( - ) S + would + not + be + Ving

( ? ) Would + S + be + Ving

Example :

( + ) I should be beginning an examination at this time following day.

(Saya akan sedang memulai ujian pada jam ini di hari berikutnya.)

( - ) We couldn’t be playing at six o’clock yesterday moorning.

(Pukul enam kemarin pagi kita tidak akan sedang bermain.)

( ? ) Would you be playing a chess at three o’clock yesterday?

(Apakah kamu akan sedang bermain catur pada jam tiga kemarin?)


Past Future Perfect Tense

Past Future Perfect Tense digunakan untuk menyatakan suatu perbuatan atau peristiwa yang akan sudah selasai pada waktu lampau atau menyatakan pengandaian yang tidak mungkin terjadi karena syaratnya sudah pasti tidak akan terpenuhi.

Rumus :

( + ) S + would + have + V3

( - ) S + would + not + have + be + V3

( ? ) Would + S + have + V3

Example :

( + ) I should have been at home if you had invited me

(Saya akan sudah berada di rumah jika kamu telah mengundanku.)

( - ) He would not have graduated if he hadn’t studied hard.

(Dia tidak akan lulus seandainya dia tidak belajar dengan giat.)

( ? ) Would your aunt have wedded with my uncle if my father had been agreed?

(Apakah bibimu akan sudah menikah dengan pamanku, seandainya ayahku sudah

menyetujuinya?)


Past Future Perfect Continuous Tense

Past Future Perfect Continuous Tense digunakan untuk menyatakan suatu perbuatan atau peristiwa yang akan sudah sedang akan berlangsung pada waktu lampau.

Rumus :

( + ) S + would + have + been + Ving

( - ) S + would + not + have + been + Ving

( ? ) Would + S + have + been + Ving

Example :

( + ) We should have been teaching English at SMP for three years by the end of last year.

(Kami akan sudah sedang mengajar bahasa inggris di SMP selama tiga tahun menjelang tahun lalu.)

( - ) You would not have been studying mathematics for two month, by the end of lastmonth

(Kamu belum akan sudah belajar matematika selama dua bulan menjelang akhir bulan lalu.)

( ? ) Would they have been waiting for me for three hours by Last Sunday?

(Apakah mereka akan sudah sedang menungguku selama tiga jam menjelang hariminggu lalu?)


Prinsip Kerja Elektro Mekanis Magnetik (dasar NO & NC)


Sebelum mempelajari lebih dalam mengenai Time Delay Relay (Timer), Thermal Over Load Relay (Tripper Over Load), Relay Contactor (Relay), dan Magnetic Contactor (Kontaktor), Sebaiknya kita mempelajari sistem kerjanya terlebih dahulu. agar mampu memahami suatu fungsi rangkaian kerja otomatis.

Relay dan Kontaktor (Relay and Magnetic Contactor)


Prinsipnya kerjanya adalah rangkaian pembuat magnet untuk menggerakkan penutup dan pembuka saklar internal didalamnya. Yang membedakannya dari kedua peralatan tersebut adalah kekuatan saklar internalnya dalam menghubungkan besaran arus listrik yang melaluinya.

Pemahaman sederhananya adalah bila kita memberikan arus listrik pada coil relay atau kontaktor, maka saklar internalnya juga akan terhubung. Selain itu juga ada saklar internalnya yang terputus. Hal tersebut sama persis pada kerja tombol push button, hanya berbeda pada kekuatan untuk menekan tombolnya.Klik disini untuk mempelajari Tombol

Saklar internal inilah yang disebut sebagai kontak NO (Normally Open= Bila coil contactor atau relay dalam keadaan tak terhubung arus listrik, kontak internalnya dalam kondisi terbuka atau tak terhubung) dan kontak NC (Normally Close= Sebaliknya dengan Normally Open). Seperti dijelaskan pada gambar dibawah ini.


Relay dianalogikan sebagai pemutus dan penghubung seperti halnya fungsi pada tombol (Push Button) dan saklar (Switch)., yang hanya bekerja pada arus kecil 1A s/d 5A. Sedangkan Kontaktor dapat di analogikan juga sebagai sebagai Breaker untuk sirkuit pemutus dan penghubung tenaga listrik pada beban. Karena pada Kontaktor, selain terdapat kontak NO dan NC juga terdapat 3 buah kontak NO utama yang dapat menghubungkan arus listrik sesuai ukuran yang telah ditetapkan pada kontaktor tersebut. Misalnya 10A, 15A, 20A, 30A, 50Amper dan seterusnya. Seperti pada gambar dibawah ini.


gambar kontak internal pada Kontaktor


gambar kontak internal pada relay

Penyambungan sederhana rangkaian kontaktor:


Perhatikan bagaimana lampu akan menyala ketika switch saklar dihubungkan ke sumber listrik. Mengapa begitu repot menggunakan kontaktor untuk menyalakan sebuah lampu bohlam? Mengapa rangkain ini menggunakan dua buah sumber listrik yang berbeda?


Time Delay Relay (Timer) dan Thermal Over Load Relay (Tripper)


Sebagaimana yang telah diterangkan diatas, maka pada kedua komponen ini Timer dan Tripper juga mempunyai kontak NO dan NC. Dan yang membedakannya hanya pada kondisi pengaktifannya saja.

Kontak NO dan NC pada Timer (Time Delay Relay) akan bekerja ketika timer diberi ketetapan waktunya, ketetapan waktu ini dapat kita tentukan pada potensiometer yang terdapat pada timer itu sendiri. Misalnya ketika kita telah menetapkan 10 detik, maka kontak NO dan NC akan bekerja 10 detik setelah kita menghubungkan timer dengan sumber arus listrik. Perhatikan gambar Timer di bawah ini.


Sedikit berbeda dengan kontak NO dan NC yang terdapat di Timer, padaTripper (Thermal Over Load Relay) kontak NO dan NC nya bekerja karena mendapat daya tekan dari bimetal trip yang terdapat di dalamnya. Bimetal Trip ini akan melengkung apabila resistance wire dilewati arus lebih besar dari nominalnya dan menekan lengan kontak, sehingga kontak NC berubah menjadi kontak NO.


Kegunaan NO dan NC

Setelah paham bagaimana kerja kontak NO dan NC yang terdapat pada peralatan tersebut diatas, maka saya sarankan untuk mempelajari bagaimana kontak NO NC tersebut digunakan semaksimal mungkin untuk sebuah rangkaian pengendali pada rangkaian utama.