Kamis, 23 Oktober 2014

Sejenak Merenungi Takdir




Sebagian besar orang mengatakan takdir ya takdir, ia merupakan ketetapan Allah yang tidak bisa diganggu gugat. Saya mulai berpikir apakah kita tidak salah kaprah menyamakan takdir sebagai nasib? Seseorang yang bernasib miskin berarti dia sudah ditakdirkan menjadi miskin. Apakah benar seperti itu? Jika takdir ditetapkan oleh Allah apakah berarti Allah memilih-milih siapa yang ditakdirkan miskin atau siapa yang ditakdirkan kaya. Saya pikir tidak demikian, saya yakin Allah Maha Bijaksana dan Pengasih. Dalam surat al-Maidah ayat 54 dikatakan bahwa “Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya” Bahkan Nabi Muhammad Saw. mempertegas dengan bersabda “Bahwa jika Allah mencintai seorang hamba maka Allah akan meletakkan cintanya di segala sesuatu termasuk menaruh cintanya di benda mati”. 

Pemahaman tentang takdir bagi saya sangat penting. Betapa tidak, takdir dapat menghentikan langkah seseorang dalam mengejar cita-citanya. Seseorang yang bagi dia sudah ‘ditakdirkan’ miskin akan menerima apa adanya tanpa pemberontakan sedikitpun atas apa yang sudah ‘ditakdirkan’ baginya. Bayangkan berapa banyak rakyat miskin di Indonesia dan apabila pemahaman tentang takdir terus-menerus keliru, maka jutaan anak Indonesia akan malas melanjutkan sekolah untuk meraih mimpinya. Ketika kita menanyakan alasan mengapa banyak anak-anak miskin berhenti sekolah ternyata alasanya bukan hanya kemiskinan, kebanyakan dari mereka menjawab, “Orang tua saya miskin, maka buat apa sekolah karena saya sudah ditakdirkan menjadi miskin sampai kapanpun.” 

Jika kita membuka mata maka kita akan melihat betapa takdir sebagai belenggu telah menghentikan langkah seseorang untuk maju. Belennggu dari motivasi si kaya untuk bekerja dan belenggu dari si miskin untuk berusaha. Seharusnya setiap manusia di atas bumi ini bergerak berdasarkan dua hal, yaitu mimpi dan inspirasi. Semua bergerak melepas belenggu, berlari dan berlomba untuk mencapai tujuan yang berbeda dengan cara yang sama atau tujuan yang sama dengan cara yang berbeda. Katakanlah dua orang yang hendak memetik buah rambutan, seorang memanjat, seorang diam. Keduanya memiliki tujuan yang sama namun caranya berbeda. Orang pertama menggerakkan ototnya untuk memanjat, sementara orang kedua,tidak hanya diam, ia menggerakkan akal untuk mencapai tujuannya. 

Inspirasi dan mimpi ataupun sebab dan akibat menjadi sebuah mata rantai yang tidak bisa dipisahkan. Mereka merupakan bahan bakar yang menggerakkan manusia untuk meraih tujuannya. Namun mereka tidak bisa berdiri sendiri. Banyak variabel yang mempengaruhi keeksistensian keduanya. Salah satunya takdir. Takdir menjadi kunci keberhasilan bila pemahamannya benar, sekaligus menjadi biang kerok pematah semangat bila pemahannya salah. Maka dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang mari kita memahami takdir yang semoga dapat menjadi motivasi positif seseorang untuk bergerak mencapai tujuannya. 

Salah satu ungkapan yang sering kita dengar mengenai takdir adalah “ Rizki, jodoh dan kematian di tangan Allah”. Ketiganya merupakan ketetapan Allah yang kita tidak bisa mengejarnya ataupun merubahnya. Inilah yang membudaya di masyarakat bahwa manusia tidak punya andil apapun dalam mengatur dan menggerakkan kehidupan. Namun saya rasa tidak demikian, seorang yang terlahir kaya dan serba berkecukupan lalu baginya tidak ada motivasi lagi untuk bekerja sehingga ia menghabiskan waktu hidupnya dengan bermalas-malasan, apakah ada jaminan dia akan tetap kaya? Apalagi Allah berfirman dala surat At Taubah ayat 54 bahwa Dia amat membenci orang yang malas, berikut ayatnya : 

Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka melainkan dengan rasa enggan. (QS. At Taubah : 54) 

Lalu apa yang dimaksud dengan takdir sesungguhnya? Kekeliruan kita selama ini tentang persepsi takdir adalah kita selalu menyamakannya antara takdir dengan nasib. Nasib adalah sesuatu yang sudah ditetapkan ketentuannya. Karena itu jika kita menyamakan keduanya maka manusia tidak mempunyai peranan bebas dan independen dalam menjalani hidup. Ketika persepsi takdir dan nasib disamakan maka kita akan melihat dalam keseharian orang-orang yang bingung dalam bersikap. Segala hal menjadi kontradiktif dan amat sulit dalam menentukan sikap. 

Pemahaman tentang takdir harus segera diubah. Takdir memberikan motivasi positif sedangkan nasib cenderung memberikan motivasi negatif. Konsep takdir mengajarkan agar kita tegar, dinamis dan kreatif dalam menyikapi kehidupan. Sedangkan nasib cenderung mendorong kita bersikap pasrah, statis dan malas. Takdir memotivasi kita hidup produktif sedangkan nasib mengarahkan kita hidup kontraproduktif. 
Bagaimana takdir bisa menjadi motivasi perlu pemahaman yang mendalam. Motivasi seringkali diartikan dengan istilah dorongan. Dorongan atau tenaga tersebut menggerakkan jiwa dan jasmani untuk berbuat. Jadi motivasi merupakan suatu driving force yang menggerakkan manusia untuk bertingkah- laku, dan di dalam perbuatanya itu mempunyai tujuan tertentu. Menurut Caplin (1993) motivasi adalah suatu keadaan di dalam individu yang membangkitkan, memelihara dan mengarahkan tingkah laku menuju pada tujuan atau sasaran. Motivasi juga dapat diartikan sebagai tujuan jiwa yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu dan untuk tujuan-tujuan tertentu terhadap situasi disekitarnya (Woodworth dan Marques dalam Mustaqim, 1991). Motivasi disini bukan hanya sebagai pendorong dalam mencapai tujuan tetapi juga merupakan suatu aksi mengatasi rintangan yang dapat menghambat tercapainya tujuan. 

Takdir dapat dikatakan sebagai motivasi apabila kita memahaminya sebagai rule of the game. Kehidupan adalah sebuah permainan dan takdir adalah aturan mainnya. Kalau ingin sukses maka kita harus paham peraturannya dan kalau tidak patuh aturan maka bersiaplah menerima problematika. Mari kita perhatikan firman Allah berikut, 

Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertaqwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak meminta harta-hartamu. (QS. Muhammad : 36) 

Hidup adalah suatu permainan. Siapa yang mengikuti aturannya maka dialah pemenangnya. Lalu jika manusia adalah pemain dan kehidupan berjalan atas apa yang ‘dimainkan’ manusia, dimana letak takdir atau ketetapan Allah? Mari kita cermati firman-firman Allah berikut, 

Dan kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu ummat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya. Lalu diberitahukannya kamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. (Al Maidah : 48) 

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, dibawah mereka engalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan. (QS. Yunus : 9). 

Bila kita mencermati ayat-ayat diatas, kita dapat memahami bahwa kahidupan, petunjuk, dan takdir merupakan aturan yang memang sudah ditetapkan oleh Allah. Aturan dan petunjuk itu akan menghampiri kita apabila kita terlebih dahulu melakukan suatu aksi untuk mendapatkannya. Apabila kita ingin mendapat petunjuk maka kita harus beriman dan mengerjakan amal saleh. Apabila kita menginginkan aturan dan jalan yang terang maka kita harus berlomba-lomba dalam kebajikan. 
Jadi, takdir adalah keputusan Allah atas apa yang telah diusahakan manusia untuk mencapai tujuan yang diinginkannya. Untuk itu terlebih dahulu Allah memberitahukan aturan permainannya. Supaya tercipta permainan yang fair play, jujur, bersih dan adil. 

Begitulah pemahaman takdir yang optimis dan produktif. Semoga dengan pengertian dan pemahaman yang baik takdir bukan menjadi sebuah belenggu atau dead lock dalam berusaha. Takdir harusnya menjadi motivasi agar kita berlomba-lomba dalam kebaikan untuk menang dalam permainan. 

Ditulis oleh Rahma A. Larasati 
Untuk generasi muda generasi brilian

Kamis, 16 Oktober 2014

SUBHANALLAH, INI MANFAAT SHALAT UNTUK IBU HAMIL

Sejumlah studi medis modern membuktikan bahwa gerak badan dan olah raga seperti shalat banyak memberikan manfaat bagi ibu hamil. Namun justru gerak seperti ini berbahaya bagi wanita haid. Mengapa bisa begitu?

Pada saat wanita melaksanakan shalat, dalam gerakan sujud dan ruku’ secara alamiah akan meningkatkan peredaran darah ke rahim. Karena kebutuhan sel-sel rahim dan indung telur seperti sel-sel limpa yang menyedot banyak darah.

Begitu juga saat seorang ibu hamil, rahim membutuhkan darah melimpah agar janin mendapatkan gizi dan untuk membersihkan polusi. Jika seorang ibu hamil menjalankan shalat, aktifitasnya ini akan membantunya mengantarkan darah yang melimpah ke janin.

Sementara wanita yang haid, jika menunaikan shalat, akan menyebabkan banyak darah mengalir ke rahimnya. Akibatnya, ia akan kehilangan darah bersih/baik karena keluar bersama darah haid.

Di masa haid, diperkirakan wanita kehilangan darahnya sebanyak 34 mililiter. Kadar yang sama pada cairan lainnya. Jika wanita haid menunaikan shalat, zat imunitas (kekebalan) di tubuhnya akan hancur. Sebab sel darah putih berperan sebagai imun akan hilang terbawa bersama darah haid.

Mengalirnya darah secara umum akan meningkatkan kemungkinan menularnya penyakit. Namun Allah menjaga wanita haid dari penularan penyakit dengan mengkonsentrasikan sel darah putih di rahim selama masa haid agar menjaga tubuh dan melawan berbagai penyakit.

Jika seorang wanita shalat saat haid, maka ia akan kehilangan darah dalam jumlah banyak. Ini berarti akan kehilangan sel darah putih. Jika ini terjadi maka seluruh organ tubuhnya seperti limpa dan otak akan terserang penyakit.

Mungkin inilah hikmah besar di balik larangan syariat agar wanita haid tidak melaksanakan shalat hingga ia suci. Al-Quran dengan sangat cermat menyebutkan,

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran.” Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci.” (Al-Baqarah: 222).

Disamping itu, gerak fisik saat sujud dan ruku’ semakin menambah aliran darah ke rahim dan akan hilang percuma. Lebih dari itu, jika wanita haid shalat maka akan menyebabkan kekurangan zat logam dari tubuh.

Begitu juga dengan larangan shaum pada saat haidh. Para medis menganjurkan agar ketika dalam keadaan haid, wanita banyak beristirahat dan mengkonsumsi makanan yang bergizi. Ini sejalan dengan larangan untuk shaum, karena menurut medis agar darah dan logam seperti magnesium dan zat besi dalam tubuh yang berharga tidak terbuang percuma.

Dari Abu Said Al-Hudri, Rasulullah SAW bersabda: ”…Bukankah jika (seorang wanita) haid ia tidak shalat dan tidak puasa?” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Aisyah, Rasulullah SAW bersabda,”Kami diperintahkan untuk mengqadla puasa dan tidak mengqadla shalat.”

Betapa banyak tanda-tanda yang Allah SWT berikan kepada umat manusia supaya berpikir. Allah SWT yang begitu penyayangnya terhadap manusia, sehingga segala hal yang Ia perintahkan dan Ia larang pasti ada hikmah di balik semuanya. Maka apalagi yang kita tunggu dan pertimbangkan untuk segera menaati segala aturan yang telah ditentukan oleh-Nya. Wallahu a’lam. [Sumber: islampos/spiritislam]

KISAH SINGKAT TENTANG BATU DAN EMAS


Seorang ibu tersenyum kepada istri anaknya setelah berlalu bulan madu keduanya.
Dia berkata, “Engkau telah membuat putraku rajin shalat ke masjid. Engkau berhasil dalam waktu 30 hari saja, padahal aku telah berusaha menasihatinya selama 30 tahun!”

Menantu itupun mengalirkan air mata…

Menantu itu berkata, “Apakah anda telah mengetahui wahai ibuku, kisah tentang batu dan harta?

Dikisahkan bahwasana ada sebuah batu besar yang menghalangi jalannya manusia. Maka seorang laki-laki dengan sukarela berusaha memecahkan batu itu dan menyingkirkannya. Dia memukul batu itu dengan kapak hingga 99 kali, tapi batu itu tidak bergeming. Dia sangat kelelahan…

Ketika itu datanglah seorang laki-laki dan menawarkan bantuan… Dia memukul batu besar itu dengan kapak dengan sekali pukulan, tiba-tiba batu itu pun pecah!

Ternyata di bawah batu itu terdapat sekantung emas.

Berkatalah laki-laki kedua ini, “Emas ini adalah milikku, karena akulah yang telah memecahkan batu ini!”
Keduanya pun mencari keadilan kepada hakim.

Orang yang bertama berkata, “Hendaknya sebagian harta itu diberikan kepadaku, karena aku telah memukul batu itu sebanyak 99 pukulan, kemudian aku sampai keleahan!”

Laki-laki kedua berkata, “Tidak, harta itu adalah milikku seluruhnya, karena akulah yang memecahkan batu itu!”

Hakim itu berkata, “Engkau wahai laki-laki yang pertama, engkau mendapatkan 99 bagian dari harta ini, adapun engkau laki-laki yang memecahkan batu, bagimu satu bagian saja, seandainya laki-laki pertama ini tidak memukulnya sampai 99 kali maka batu itu tidak akan pecah pada pukulan ke 100!”

Sungguh … di dalam kisah ini terdapat pelajaran akhlaq yang agung…

1. Seorang ibu, seorang ibu yang telah berusaha menasihati putranya untuk shalat selama 30 tahun tanpa putus asa, kemudian dia merasa gembira dengan anaknya yang shalat karena pengaruh dari istrinya, meskipun anaknya itu tidak memedulikan nasihat ibunya selama 30 tahun!

2. Menantu yang agung akhlaqnya! Dia tidak menyematkan keutamaan kepada dirinya, bahkan dia menjadikan keutamaan itu sepenuhnya milik ibu tersebut, karena ibu itu telah meletakkan asas kepada anaknya, satu demi satu… hingga tersisa satu bagian terakhir, yang disempurnakan oleh dirinya…

Sudahkah anda demikian…

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian kepada keluargaku”

Prof DR. Ashim al-Qaryuthi

KISAH MENAKJUBKAN KESABARAN SEORANG ISTRI DAN PUTRINYA MENANTI KESEMBUHAN SUAMINYA SELAMA 15 TAHUN



Suamiku adalah seorang pemuda yang gagah, semangat, rajin, tampan, berakhlak mulia, taat beragama, dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia menikahiku pada tahun 1390 H. Aku tinggal bersamanya (di kota Riyadh) di rumah ayahnya sebagaimana tradisi keluarga-keluarga Arab Saudi. Aku takjub dan kagum dengan baktinya kepada kedua orang tuanya. Aku bersyukur dan memuji Allah yang telah menganugerahkan kepadaku suamiku ini. Kamipun dikaruniai seorang putri setelah setahun pernikahan kami. Lalu suamiku pindah kerjaan di daerah timur Arab Saudi. Sehingga ia berangkat kerja selama seminggu (di tempat kerjanya) dan pulang tinggal bersama kami seminggu. Hingga akhirnya setelah 3 tahun, dan putriku telah berusia 4 tahun…

Pada suatu hari yaitu tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H tatkala ia dalam perjalanan dari kota kerjanya menuju rumah kami di Riyadh ia mengalami kecelakaan, mobilnya terbalik. Akibatnya ia dimasukkan ke Rumah Sakit, ia dalam keadaan koma. Setelah itu para dokter spesialis mengabarkan kepada kami bahwasanya ia mengalami kelumpuhan otak. 95 persen organ otaknya telah rusak. Kejadian ini sangatlah menyedihkan kami, terlebih lagi kedua orang tuanya lanjut usia. Dan semakin menambah kesedihanku adalah pertanyaan putri kami (Asmaa’) tentang ayahnya yang sangat ia rindukan kedatangannya. Ayahnya telah berjanji membelikan mainan yang disenanginya…

Kami senantiasa bergantian menjenguknya di Rumah Sakit, dan ia tetap dalam kondisinya, tidak ada perubahan sama sekali. Setelah lima tahun berlalu, sebagian orang menyarankan kepadaku agar aku cerai darinya melalui pengadilan, karena suamiku telah mati otaknya, dan tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya. Yang berfatwa demikian sebagian syaikh -aku tidak ingat lagi nama mereka- yaitu bolehnya aku cerai dari suamiku jika memang benar otaknya telah mati. Akan tetapi aku menolaknya, benar-benar aku menolak anjuran tersebut. Aku tidak akan cerai darinya selama ia masih ada di atas muka bumi ini. Ia dikuburkan sebagaimana mayat-mayat yang lain atau mereka membiarkannya tetap menjadi suamiku hingga Allah melakukan apa yang Allah kehendaki.

Akupun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah putri kecilku. Aku memasukannya ke sekolah tahfiz al-Quran hingga akhirnya iapun menghafal al-Qur’an padahal umurnya kurang dari 10 tahun. Dan aku telah mengabarkannya tentang kondisi ayahnya yang sesungguhnya. Putriku terkadang menangis tatkala mengingat ayahnya, dan terkadang hanya diam membisu. Putriku adalah seorang yang taat beragama, ia senantiasa sholat pada waktunya, ia sholat di penghujung malam padahal sejak umurnya belum 7 tahun. Aku memuji Allah yang telah memberi taufiq kepadaku dalam mentarbiyah putriku, demikian juga neneknya yang sangat sayang dan dekat dengannya, demikian juga kakeknya rahimahullah.

Putriku pergi bersamaku untuk menjenguk ayahnya, ia meruqyah ayahnya, dan juga bersedekah untuk kesembuhan ayahnya. Pada suatu hari di tahun 1410 H, putriku berkata kepadaku : Ummi biarkanlah aku malam ini tidur bersama ayahku… Setelah keraguan menyelimutiku akhirnya akupun mengizinkannya.

Putriku bercerita : Aku duduk di samping ayah, aku membaca surat Al-Baqoroh hingga selesai. Lalu rasa kantukpun menguasaiku, akupun tertidur. Aku mendapati seakan-akan ada ketenangan dalam hatiku, akupun bangun dari tidurku lalu aku berwudhu dan sholat –sesuai yang Allah tetapkan untukku-. Lalu sekali lagi akupun dikuasai oleh rasa kantuk, sedangkan aku masih di tempat sholatku. Seakan-akan ada seseorang yang berkata kepadaku, “Bangunlah…!!, bagaimana engkau tidur sementara Ar-Rohmaan (Allah) terjaga??, bagaimana engkau tidur sementara ini adalah waktu dikabulkannya doa, Allah tidak akan menolak doa seorang hamba di waktu ini??”

Akupun bangun…seakan-akan aku mengingat sesuatu yang terlupakan…lalu akupun mengangkat kedua tanganku (untuk berdoa), dan aku memandangi ayahku –sementara kedua mataku berlinang air mata-. Aku berkata dalam do’aku, “Yaa Robku, Yaa Hayyu (Yang Maha Hidup)…Yaa ‘Adziim (Yang Maha Agung).., Yaa Jabbaar (Yang Maha Kuasa)…, Yaa Kabiir (Yang Maha Besar)…, Yaa Mut’aal (Yang Maha Tinggi)…, Yaa Rohmaan (Yang Maha Pengasih)…, Yaa Rohiim (Yang Maha Penyayang)…, ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kemi beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya… Ya Allah…, sesungguhnya ia berada dibawah kehendakMu dan kasih sayangMu.., Wahai Engkau yang telah menyembuhkan nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan nabi Musa kepada ibunya…Yang telah menyelamatkan Nabi Yuunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim…sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya… Ya Allah…sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh…Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…”

Lalu rasa kantukpun menguasaiku, hingga akupun tertidur sebelum subuh. Tiba-tiba ada suara lirih menyeru.., “Siapa engkau?, apa yang kau lakukan di sini?”. Akupun bangun karena suara tersebut, lalu aku menengok ke kanan dan ke kiri, namun aku tidak melihat seorangpun. Lalu aku kembali lagi melihat ke kanan dan ke kiri…, ternyata yang bersuara tersebut adalah ayahku… Maka akupun tak kuasa menahan diriku, lalu akupun bangun dan memeluknya karena gembira dan bahagia…, sementara ayahku berusaha menjauhkan aku darinya dan beristighfar. Ia barkata, “Ittaqillah…(Takutlah engkau kepada Allah….), engkau tidak halal bagiku…!”. Maka aku berkata kepadanya, “Aku ini putrimu Asmaa'”. Maka ayahkupun terdiam.

Lalu akupun keluar untuk segera mengabarkan para dokter. Merekapun segera datang, tatkala mereka melihat apa yang terjadi merekapun keheranan. Salah seorang dokter Amerika berkata –dengan bahasa Arab yang tidak fasih- : “Subhaanallahu…”. Dokter yang lain dari Mesir berkata, “Maha suci Allah Yang telah menghidupkan kembali tulang belulang yang telah kering…”. Sementara ayahku tidak mengetahui apa yang telah terjadi, hingga akhirnya kami mengabarkan kepadanya. Iapun menangis…dan berkata, الله� خ�يْرًا حًا��ظًا وَه�وَ يَتَوَلَّى الصَّال�ح�يْنَ Sungguh Allah adalah Penjaga Yang terbaik, dan Dialah yang Melindungi orang-orang sholeh…, demi Allah tidak ada yang kuingat sebelum kecelakaan kecuali sebelum terjadinya kecelakaan aku berniat untuk berhenti melaksanakan sholat dhuha, aku tidak tahu apakah aku jadi mengerjakan sholat duha atau tidak..??

Sang istri berkata : Maka suamiku Abu Asmaa’ akhirnya kembali lagi bagi kami sebagaimana biasnya yang aku mengenalinya, sementara usianya hampir 46 tahun. Lalu setelah itu kamipun dianugerahi seorang putra, Alhamdulillah sekarang umurnya sudah mulai masuk tahun kedua. Maha suci Allah Yang telah mengembalikan suamiku setelah 15 tahun…, Yang telah menjaga putrinya…, Yang telah memberi taufiq kepadaku dan menganugerahkan keikhlasan bagiku hingga bisa menjadi istri yang baik bagi suamiku…meskipun ia dalam keadaan koma… Maka janganlah sekali-kali kalian meninggalkan do’a…, sesungguhnya tidak ada yang menolak qodoo’ kecuali do’a…barang siapa yang menjaga syari’at Allah maka Allah akan menjaganya. Jangan lupa juga untuk berbakti kepada kedua orang tua… dan hendaknya kita ingat bahwasanya di tangan Allah lah pengaturan segala sesuatu…di tanganNya lah segala taqdir, tidak ada seorangpun selainNya yang ikut mengatur…

Ini adalah kisahku sebagai ‘ibroh (pelajaran), semoga Allah menjadikan kisah ini bermanfaat bagi orang-orang yang merasa bahwa seluruh jalan telah tertutup, dan penderitaan telah menyelimutinya, sebab-sebab dan pintu-pintu keselamatan telah tertutup… Maka ketuklah pintu langit dengan do’a, dan yakinlah dengan pengabulan Allah….

Demikianlah….Alhamdulillahi Robbil ‘Aaalamiin (SELESAI…) Janganlah pernah putus asa…jika Tuhanmu adalah Allah… Cukup ketuklah pintunya dengan doamu yang tulus… Hiaslah do’amu dengan berhusnudzon kepada Allah Yang Maha Suci. Lalu yakinlah dengan pertolongan yang dekat dariNya

Kesaksian Dokter: “Kisah Meninggalnya Seorang Ahli Qur’an”



Pada suatu hari, tepatnya pukul tujuh pagi, saya datang ke ruang pemulihan, tiba-tiba ada beberapa orang datang menghampiriku, mereka adalah anak dari salah seorang pasien yang telah lanjut usia yang baru saja menjalani operasi jantung, pasien tersebut mengalami pembekuan yang parah di otaknya sehingga ia kehilangan kesadarannya sejak menjalani operasi tersebut, aktifitas jantungnya sangat lemah sekali, dan kedua ginjalnya sudah tidak berfungsi.

Mereka mendatangiku seraya berkata, “Ayah kami sedang menghadapi sakaratul maut, kami harap anda berkenan untuk mentalqininya membaca dua kalimat syahadat.”

Saya pergi bersama mereka, saat itu tekanan jantungnya lemah sekali yakni sekitar empat puluh, sedangkan detak jantungnya hanya sekitar tiga puluh lima permenit.

Saya mendekatinya dan berkata kepadanya, “Ucapkanlah Asyhadu alla ilaha illallah,’ sekonyong-konyong lidah dan tangan kanannya bergerak, dan yang lebih mengejutkan lagi, adalah tiba-tiba tekanan darahnya mencapai seratus tigapuluh per delapan puluh dan detak jantungnya mencapai seratus dua puluh permenit.

Saya katakan kepada anak-anaknya, “Seluruh organ tubuh ayah kalian telah bereaksi dengan dua kalimat syahadat, ia bisa merasakan bacaan dua kalimat syahadat tersebut, saat ini ia sedang menghadapi sakaratul maut, kenapa kalian tidak membacakan Al-Qur’an untuknya sampai ruhnya keluar?”

Enam orang anak dari pasien tersebut saling bergantian membacakan Al-Qur’an selama empat hari tiga malam, hingga akhirnya pasien tersebut menghadap Tuhan-nya.

Selama itu tekanan darahnya bertahan sekitar seratus tiga puluh dan detak jantungnya bertahan di atas seratus detakan permenit.

Saya bertanya kepada mereka mengenai sisi-sisi kehidupan ayahnya sewaktu masih hidup. Mereka mengatakan, “Ia termasuk ahli Al-Qur’an, seluruh ucapannya adalah Al-Qur’an dan dzikir, ia selalu menghatamkan Al-Qur’an dalam waktu tiga hari atau lima hari, paling lama ia menghatamkan Al-Qur’an dalam seminggu.”

Sewaktu hidupnya ia banyak menyebut asma Allah, hingga akhirnya Allah Ta’ala menutup usianya dengan husnul khatimah, ia telah menjadikan empat hari terakhir dari usianya untuk mendengar bacaan al Qur’an yang mulia, dzikirnya tidak pernah terputus. Alangkah indahnya husnul khatimah itu, saya yakin semua orang muslim pasti mengharapkannya.

Akan tetapi pernahkah terbayang oleh anda jika saja ternyata penutup usia anda adalah mendengarkan musik dan nyanyian? Alangkah buruknya su’ul khatimah itu, yaitu mereka yang hatinya telah diracuni setan sehingga ia tidak bisa mendengarkan kecuali musik dan nyanyian, dan akhirnya itulah penutup usianya.

Pada suatu hari, tepatnya ba’da Subuh di bulan Ramadhan tahun 1418H. Saya keluar rumah untuk satu keperluan, daam perjalanan tersebut di jalan Al-Malik Fahd saya melihat satu mobil terbalik, saya segera turun dari mobil untuk memberikan bantuan, di sana saya temukan seorang pemuda yang telah tewas diiringi dengan suara penyanyi sedang mengalun.

Ia tewas dan usinya ditutup dengan iringan suara musik dan penyanyi yang haram, siapa yang ingin menutup usianya seperti ini?

Sumber: Buku “Kesaksian Seorang Dokter”, dr.Khalid bin Abdul Aziz al-Jubair, SpJP (dokter spesialis bedah dan jantung), Hal.55-57.

Kisah Mengharukan, Istri Sahabat Nabi Menangis Tak Punya Kain Kafan Kisah Nyata



Wanita itu menyadari bahwa suaminya akan wafat, tak lama lagi. Butir-butir air mata mulai membasahi pipinya.

“Mengapa engkau menangis?” tanya lelaki itu, yang tak lain adalah Abu Dzar Al Ghifari radhiyallahu ‘anhu.

“Bagaimana mungkin aku tidak menangis, sementara engkau akan wafat dan aku tidak punya kain untuk dijadikan kafan…” jawabnya sesenggukan.

“Jangan menangis, bergembiralah. Sebab saya mendengar Rasulullah bersabda, ‘Akan wafat seorang laki-laki diantara kalian di tanah gersang, disaksikan sekelompok orang beriman.’ Para sahabat yang mendengar hadits ini, semuanya telah meninggal di kota, di kampung, atau di tempat lain. Tinggallah aku yang kini akan meninggal di tanah gersang ini.”

Abu Dzar sengaja mengasingkan diri di tanah gersang perbatasan Madinah dan Rabdzah. Sebab, sahabat yang zuhud ini tak mau terkena fitnah dunia. Umat Islam saat itu telah mencapai kemenangan dan perluasan wilayah. Ia melihat banyak orang hidup mewah dan meninggalkan kesederhanaan. Ia telah berdakwah dan mengajak khalifah untuk menggerakkan umat Islam kembali hidup sederhana seperti pada zaman Nabi, namun dakwahnya yang ‘tegas’ dipandang sahabat lain tidak tepat dengan kondisi masyarakat. Akhirnya ia pun mengasingkan diri, demi persatuan umat Islam.

Beberapa saat kemudian sang istri keluar dari gubuk mereka dan melihat ke kanan dan ke kiri. Dan dengan izin Allah, rupanya ada rombongan musafir yang melintasi tempat itu.

“Tolong, lelaki muslim meninggal, kafanilah dia.”
“Siapa laki-laki ini?” tanya para musafir.
“Abu Dzar Al Ghifari.”
“Sahabat Rasulullah?”
“Iya..”

Dengan penuh haru mereka pun mendatangi Abu Dzar Al Ghifari. Salah seorang pemuda kebetulan membawa kain pemberian ibunya. Kain itulah yang dipakai untuk mengkafani Abu Dzar Al Ghifari.

Bukan hanya Abu Dzar Al Ghifari yang kesulitan mendapatkan kain kafan saat wafat. Mush’ab bin Umair pun mengalami hal yang sama. Saat ia syahid pada perang uhud, hanya ada sebuah kain pendek sebagai kafannya. Ketika ditutupkan ke kepalanya, kakinya kelihatan. Ketika ditutupkan ke kakinya, kepalanya kelihatan. Dengan penuh haru Rasulullah memutuskan, “tutupkan ke kepalanya.” Rasulullah tak mampu menahan air matanya. Dan para sahabat… tangis mereka juga pecah menyaksikan pemakaman pemuda yang rela meninggalkan kekayaannya demi Islam itu.

Tentu ada sahabat lain yang seperti mereka. Yang hidup sederhana, bahkan secara materi kekurangan. Namun mereka adalah sosok-sosok mulia yang banyak berjasa bagi Islam sekaligus begitu dekat dengan Allah Azza wa Jalla. Sahabat-sahabat yang kaya seperti Utsman bin Affan iri kepada mereka. Karenanya menjelang akhir hayatnya Utsman banyak menangis. “Mush’ab bin Umair lebih baik dari kita, tetapi ia hanya dikafani dengan kain yang tak cukup menutup seluruh tubuhnya. Sementara kita… dunia dihamparkan kepada kita…” [Muchlisin BK]

MENIKAHLAH, DAN LIHATLAH KEAJAIBAN

Jaminan Allah adalah kepastian. Dia mustahil mengingkari apa yang telah menjadi janji suci-Nya. Semua yang tersebut di dalam al-Qur’an, diperjelas oleh banyak sabda sang junjungan, adalah garansi pasti yang tak terbatas jenis kerusakan dan masanya. Maka merugilah mereka yang masih meragukan Allah Swt dan apa yang telah diikrarkan-Nya dalam kalam suci.

Menikah, dijanjikan oleh Allah Swt sebagai salah satu pembuka pintu rezeki. Difirmankan dalam kalam-Nya, jika kalian fakir, maka menikahlah. Lanjutannya, kelak Allah Swt akan membuatmu menjadi kaya.

Inilah kebenaran firman-Nya. Sebab Dia Mahatahu, meski terjamin, akan banyak hamba-Nya yang ragu dalam melangkah dan menjalani ikatan suci bernama pernikahan itu. Meskipun, lagi-lagi, sudah amat banyak bukti dari mereka yang telah mengambil jalan kebaikan itu.

Si Ayah, sebutlah demikian, disibukkan dengan ritual pekanan, Senin. Si Sulung dan adiknya kembali ke kampus, anak ke tiga bersekolah di tingkat akhir Sekolah Menangah Atas. Sedianya, Ibunya harus ke sekolah juga. Sebab sedang menjenguk anak ke lima dan enam di pesantren, kali ini rumah sepi tanpa kehangatannya.

Maka sibuklah ia yang disebut Ayah dalam cerita. Mulai menyiapkan minuman untuk buah cinta, mengantarnya ke sekolah, hingga membeli sarapan untuk mertua dan anaknya yang lain.

Sejak malamnya, listrik rumahnya sudah berteriak-teriak; mengeluarkan bunyi mirip alarm yang menandakan bahwa kuota pulsa hampir habis. Sehingga harus diisi agar lampu dan perangkat listrik lain di rumah yang baru dikontrakanya itu tidak padam seketika.

Setelah anak-anak berangkat semua, datanglah Ibu Mertuanya. Berkunjung sembari bertanya tentang listrik yang hampir habis kuotanya itu, “Nak, pulsa listrik akan diisi kapan? Uangnya sudah ada?”

Dengan senyum, si Ayah menjawab santai, penuh keyakinan, “Insya Allah siang ini, Mah. Insya Allah, uangnya ada.”

Maka setelah sedikit bincang ringan, Ibu Mertua beranjak kembali ke kediamannya. Semoga jawaban Ayah barusan, bisa membuatnya tenang.

Waktu pun berjalan. Si Ayah melanjutkan aktivitas seperti biasanya. Di sepanjang pagi itu, ada banyak hal yang harus dirampungkan. Mulai diskusi di forum yang menjadi spesialisasi pekerjaannya, hingga urusan domestik yang sudah biasa menjadi kesukaannya; wujud cintanya yang belum sempurna.

Ternyata, Sang Mertua bolak-balik untuk memastikan. Diulanglah beberapa kali pertanyaan serupa. Kemudian dijawab dengan redaksi yang tak berubah. Hanya satu niat Ayah, “Agar mertuanya tidak khawatir.” Sama sekali; bukan berbohong.

Ketika kunjungan Mertua terakhir kalinya, saat terdengar salam khasnya, Si Ayah tengah mendirikan Dhuha’. Sebagai wujud menjalankan sunnah dan amalan yang tengah didawamkannya. Berharap, menjadi amal unggulan dan bisa menolong pelakunya kelak di surga.

Selepasnya, beranjaklah ia melihat ponselnya. Di sanalah ia bisa beraktivitas. Mulai berkarya hingga belajar berbisnis. Meski, kecil-kecilan.

Seperti diantarkan, meski tak ada angin atau hujan, terbelalaklah mata Ayah ketika menabrak sebuah pesan yang menunjukkan bukti pembayaran salah satu kliennya. Hal itu sama sekali tak direncanakan, dia sendiri tak pernah mengerti akan diantarkan rezekinya lewat jalur itu.

Selepas ucap hamdalah dan terus berdzikir, datanglah ia ke rumah mertuanya. Seraya mengunci pintu dan menitipkan kuncinya, ia berpamit, “Mah, keluar sebentar ya? Mau ngisi pulsa listrik.” Sang Mertua, tersenyum lebar sembari memberi izin, “Iya, Nak. Hati-hati.”

Maka berjalanlah ia dalam syukur tak terukur. Rupanya, yakinnya hari itu diganjar tunai oleh Sang Maha Pemberi rezeki. Sesampainya di tempat pengecekan uang, tersebutlah angka tertentu seperti yang dikabarkan oleh sang klien. Ternyata, jumlahnya dua kali lipat dari niat yang dia bisikkan dalam hati ketika hendak mengisi pulsa listrik di pagi hari tadi.

Ketika sore harinya Sang Mertua kembali bertandang, dikisahkanlah riwayat tersebut. Sang Mertua terlihat menggerakkan mulut seraya bertahmid. Katanya, “Masya Allah, alhamdulillah ya, Nak. Padahal Mamah juga ada uang.”

Hanya tersenyum, Si Ayah yang merupakan menantunya itu menjawab, “Alhamdulillah, Mah. Kan, tadi pagi bilang, ‘Insya Allah, ada.’ Dan benar-benar ada di siangnya.”

Demikianlah keajaiban itu. Ketika dibincang, akan semakin banyak daftar dan berbagai jenisnya. Inilah pelajaran hidup, bagi siapa yang mau memungut dan memanfaatkannya. Intinya bukan hanya pada seberapa banyak membaca dan memahami. Lebih jauh, ini adalah terkait seberapa beranikah diri untuk menjalankannya.

Karena, anda tidak akan benar-benar tahu sebelum mencobanya sendiri. Tak percaya? Buktikan saja sendiri! [Pirman/Keluargacinta.com]