.

Selasa, 07 Januari 2014

KADERISASI SEDERHANA DAKWAH KAMPUS



Dakwah merupakan suatu keniscayaan. Gerbong kereta dakwah yang berhenti dari stasiun satu kestasiun lain, ketika menaikan penumpag atau menurunkan penumpang itu akan bergerak kembali jika waktu pemberhentian distasiun telah habis baik kita ikut dalam kereta itu ataupun tidak.
Karakteristik dakwah kepada Allah adalah jalannya panjang, pengikutnya sdikit, jalannya berat karena penuh rintangan. Tapi satu yang wajib kita yakini, jika kita ikhlas dan bersunguh-sungguh dalam aktifitas ini maka kita akan mendapatkan akhir yang manis karena Allah telah menjanjikan surga bagi kita di akhirat kelak.

“Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (syurga).” (An-Najm : 31)
Aktifitas dakwah merupakan aktifitas yang panjang dan berat sehingga memerlukan persiapan ekstras, baik secara ruhiyah maknawiyah, fikriyah tsaqofiyah, amaliah harokyah serta persiapan jasadiyah. Dalam sisi kaderisasi, karakeristik jalan dakwah yang panjang dan berat itu harus diimbangi dengan sumberdaya manusia yang cukup dan berkualitas. Keterbatasan waktu para da’i untuk tetap berada dijalan dakwah adalah sesuatu hal yang tidak mungkin, karna semua orang termask para da’i akan mengalami kematian.

Dalam konteks dakwah kampus, keterbatasan waktu studi juga menjadi hal yang harus diperhatikan. Setiap tahunnya para aktifis dakwah kampus ada yang dipindah tugaskan ke tempat lain, entah itu dipindah mengurusi dakwah masyarakat dilingkungan yang dekat dengan kampus ataupun dipindah untuk mengurusi dakwah masyarakat yang ada di daerahnya atau lingkungan kerjanya. Sehingga perlu ada penyiapan kader baru (pengganti) yang bisa kita transfer akan perkembangan dakwah kampus pada generasi penerus yang akan melanjutkan estafet dakwah ini agar dakwah kampus ini berkesinambungan dan terus berjalan.
Agar dakwah tidak berjalan ditampat (stagnan) atau bahkan mundur, maka perlu adanya proses penyiapan pengganti yang terencana.

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (An-Nisa : 9)
Dalam konteks kaderisasi, Firman Allah diatas menyuruh kita agar tidak menjadikan generasi setelah kita itu adalah orang-orang yang lemah, tidak tahu apa-apa akan medan dakwahnya atau akan tugas dan fungsinya dalam dakwah tesebut, sehingga prores pewarisan kepada generasi setelah kita adalah hal yang wajib.

Memaksimakan persiapan
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Al-Anfaal : 60)

Dalam konteks kaderisasi kita bukan hanya mebicarakan angka rekrutmen, tetapi kualitas dari rekrumen juga menjadi sesuatu yang penting. Sehingga perlu ada langkah-langkah yang terencana demi terciptanya kader yang berkualitas.

Langkah yang umum digunakan, yang pertama adalah rekrutmen. Rekrutmen merupakan simpul awal dari proses kaderisasi yang bertujuan untuk mencari calaon yang akan diikutkan dalam proses kaderisasi. Rekrutmen bisa dilakukan secara farhi (individu) yang kita lakukan dengan aktifitas dakwah fardiyah, atau secara jama’i (bersama-sama) yang mana rekrutmen tersebut diselenggarakan oleh golongan atau kelompok.
Setelah berhasil melaksanakan rekrutmen maka kita akan mendapatkan data berupa jumlah orang yang tertatik dengan aktifitas kita, yang mana orang-orang tersebut harus kita follow-up-i lebih jauh untuk menguatkan keberadaannya agar senantiasa yakin untuk terus berada dalam barisan kita. Langkah kedua yang kita laukukan adalah tansyi’ah wal tanmiyah (pembentukan dan pengembangan). Membentuk kemampuan dasar sebagai calon penerus amanah dakwah dan memaksimalkan potensi. Proses ini harus memperhatikan aspek ruhiyah maknawiyah, fikriyah tsaqofiyah, amaliyah harokiyah serta aspek jasadiyah.

Dalam proses pembentukan dan pengembangan, kita juga perlu memelihara (ri’ayah) keberjalan proses itu. Pengeontrolan terhap aktifitas tersebut (pembentukan dan pengembangan) berujung pada proes takwin (evaluasi) dari keempat aspeknya. Apakah ada yang perlu diperbaiki dan apakah ada yang perlu ditingkatkan.

Langkah terakhir adalah taujih wal tauzhif (pengarahan dan pendayagunaan). Pengembangan tidak berhenti pada aspek pribadi saja. Pada langkah ini, ada pendayagunaan (pengarahan dan penempatan) aktifis dakwah pada ranah-ranah lain sesuai dengan kemampuan (kelebihan-kekurangan) yang dimiliki, yang harapannya dapat menularkan kepada yang lain. Sehngga dalam aktifitasnya diapun berusaha untuk mengambil hati orang-orang disekitar untuk bisa bergabung bersama kita, dan proses itupun terus berulang.
Proses terakhir yang juga perlu menjadi perhatian adalah terkait pendataan. Dengan melihat data maka kita dimudahkan dalam pembacaan dari aktifitas yang kita lakukan, baik yang berhunbungan dengan aktifitas kaderisasi ataupun yang berhubungan dengan hasil akhir dari proses kaderisasi.
Semoga Allah memudahkan pekerjaan kita dalam menyiapakan bahan bakar dakwah kampus tahun dengan.
Allahu’alam bishowab

http://bakhtiaribrahim.wordpress.com/2012/04/28/kaderisasi-sederhana-dakwah-kampus/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar