.

Kamis, 23 Oktober 2014

Sejenak Merenungi Takdir




Sebagian besar orang mengatakan takdir ya takdir, ia merupakan ketetapan Allah yang tidak bisa diganggu gugat. Saya mulai berpikir apakah kita tidak salah kaprah menyamakan takdir sebagai nasib? Seseorang yang bernasib miskin berarti dia sudah ditakdirkan menjadi miskin. Apakah benar seperti itu? Jika takdir ditetapkan oleh Allah apakah berarti Allah memilih-milih siapa yang ditakdirkan miskin atau siapa yang ditakdirkan kaya. Saya pikir tidak demikian, saya yakin Allah Maha Bijaksana dan Pengasih. Dalam surat al-Maidah ayat 54 dikatakan bahwa “Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya” Bahkan Nabi Muhammad Saw. mempertegas dengan bersabda “Bahwa jika Allah mencintai seorang hamba maka Allah akan meletakkan cintanya di segala sesuatu termasuk menaruh cintanya di benda mati”. 

Pemahaman tentang takdir bagi saya sangat penting. Betapa tidak, takdir dapat menghentikan langkah seseorang dalam mengejar cita-citanya. Seseorang yang bagi dia sudah ‘ditakdirkan’ miskin akan menerima apa adanya tanpa pemberontakan sedikitpun atas apa yang sudah ‘ditakdirkan’ baginya. Bayangkan berapa banyak rakyat miskin di Indonesia dan apabila pemahaman tentang takdir terus-menerus keliru, maka jutaan anak Indonesia akan malas melanjutkan sekolah untuk meraih mimpinya. Ketika kita menanyakan alasan mengapa banyak anak-anak miskin berhenti sekolah ternyata alasanya bukan hanya kemiskinan, kebanyakan dari mereka menjawab, “Orang tua saya miskin, maka buat apa sekolah karena saya sudah ditakdirkan menjadi miskin sampai kapanpun.” 

Jika kita membuka mata maka kita akan melihat betapa takdir sebagai belenggu telah menghentikan langkah seseorang untuk maju. Belennggu dari motivasi si kaya untuk bekerja dan belenggu dari si miskin untuk berusaha. Seharusnya setiap manusia di atas bumi ini bergerak berdasarkan dua hal, yaitu mimpi dan inspirasi. Semua bergerak melepas belenggu, berlari dan berlomba untuk mencapai tujuan yang berbeda dengan cara yang sama atau tujuan yang sama dengan cara yang berbeda. Katakanlah dua orang yang hendak memetik buah rambutan, seorang memanjat, seorang diam. Keduanya memiliki tujuan yang sama namun caranya berbeda. Orang pertama menggerakkan ototnya untuk memanjat, sementara orang kedua,tidak hanya diam, ia menggerakkan akal untuk mencapai tujuannya. 

Inspirasi dan mimpi ataupun sebab dan akibat menjadi sebuah mata rantai yang tidak bisa dipisahkan. Mereka merupakan bahan bakar yang menggerakkan manusia untuk meraih tujuannya. Namun mereka tidak bisa berdiri sendiri. Banyak variabel yang mempengaruhi keeksistensian keduanya. Salah satunya takdir. Takdir menjadi kunci keberhasilan bila pemahamannya benar, sekaligus menjadi biang kerok pematah semangat bila pemahannya salah. Maka dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang mari kita memahami takdir yang semoga dapat menjadi motivasi positif seseorang untuk bergerak mencapai tujuannya. 

Salah satu ungkapan yang sering kita dengar mengenai takdir adalah “ Rizki, jodoh dan kematian di tangan Allah”. Ketiganya merupakan ketetapan Allah yang kita tidak bisa mengejarnya ataupun merubahnya. Inilah yang membudaya di masyarakat bahwa manusia tidak punya andil apapun dalam mengatur dan menggerakkan kehidupan. Namun saya rasa tidak demikian, seorang yang terlahir kaya dan serba berkecukupan lalu baginya tidak ada motivasi lagi untuk bekerja sehingga ia menghabiskan waktu hidupnya dengan bermalas-malasan, apakah ada jaminan dia akan tetap kaya? Apalagi Allah berfirman dala surat At Taubah ayat 54 bahwa Dia amat membenci orang yang malas, berikut ayatnya : 

Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka melainkan dengan rasa enggan. (QS. At Taubah : 54) 

Lalu apa yang dimaksud dengan takdir sesungguhnya? Kekeliruan kita selama ini tentang persepsi takdir adalah kita selalu menyamakannya antara takdir dengan nasib. Nasib adalah sesuatu yang sudah ditetapkan ketentuannya. Karena itu jika kita menyamakan keduanya maka manusia tidak mempunyai peranan bebas dan independen dalam menjalani hidup. Ketika persepsi takdir dan nasib disamakan maka kita akan melihat dalam keseharian orang-orang yang bingung dalam bersikap. Segala hal menjadi kontradiktif dan amat sulit dalam menentukan sikap. 

Pemahaman tentang takdir harus segera diubah. Takdir memberikan motivasi positif sedangkan nasib cenderung memberikan motivasi negatif. Konsep takdir mengajarkan agar kita tegar, dinamis dan kreatif dalam menyikapi kehidupan. Sedangkan nasib cenderung mendorong kita bersikap pasrah, statis dan malas. Takdir memotivasi kita hidup produktif sedangkan nasib mengarahkan kita hidup kontraproduktif. 
Bagaimana takdir bisa menjadi motivasi perlu pemahaman yang mendalam. Motivasi seringkali diartikan dengan istilah dorongan. Dorongan atau tenaga tersebut menggerakkan jiwa dan jasmani untuk berbuat. Jadi motivasi merupakan suatu driving force yang menggerakkan manusia untuk bertingkah- laku, dan di dalam perbuatanya itu mempunyai tujuan tertentu. Menurut Caplin (1993) motivasi adalah suatu keadaan di dalam individu yang membangkitkan, memelihara dan mengarahkan tingkah laku menuju pada tujuan atau sasaran. Motivasi juga dapat diartikan sebagai tujuan jiwa yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu dan untuk tujuan-tujuan tertentu terhadap situasi disekitarnya (Woodworth dan Marques dalam Mustaqim, 1991). Motivasi disini bukan hanya sebagai pendorong dalam mencapai tujuan tetapi juga merupakan suatu aksi mengatasi rintangan yang dapat menghambat tercapainya tujuan. 

Takdir dapat dikatakan sebagai motivasi apabila kita memahaminya sebagai rule of the game. Kehidupan adalah sebuah permainan dan takdir adalah aturan mainnya. Kalau ingin sukses maka kita harus paham peraturannya dan kalau tidak patuh aturan maka bersiaplah menerima problematika. Mari kita perhatikan firman Allah berikut, 

Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertaqwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak meminta harta-hartamu. (QS. Muhammad : 36) 

Hidup adalah suatu permainan. Siapa yang mengikuti aturannya maka dialah pemenangnya. Lalu jika manusia adalah pemain dan kehidupan berjalan atas apa yang ‘dimainkan’ manusia, dimana letak takdir atau ketetapan Allah? Mari kita cermati firman-firman Allah berikut, 

Dan kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu ummat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya. Lalu diberitahukannya kamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. (Al Maidah : 48) 

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, dibawah mereka engalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan. (QS. Yunus : 9). 

Bila kita mencermati ayat-ayat diatas, kita dapat memahami bahwa kahidupan, petunjuk, dan takdir merupakan aturan yang memang sudah ditetapkan oleh Allah. Aturan dan petunjuk itu akan menghampiri kita apabila kita terlebih dahulu melakukan suatu aksi untuk mendapatkannya. Apabila kita ingin mendapat petunjuk maka kita harus beriman dan mengerjakan amal saleh. Apabila kita menginginkan aturan dan jalan yang terang maka kita harus berlomba-lomba dalam kebajikan. 
Jadi, takdir adalah keputusan Allah atas apa yang telah diusahakan manusia untuk mencapai tujuan yang diinginkannya. Untuk itu terlebih dahulu Allah memberitahukan aturan permainannya. Supaya tercipta permainan yang fair play, jujur, bersih dan adil. 

Begitulah pemahaman takdir yang optimis dan produktif. Semoga dengan pengertian dan pemahaman yang baik takdir bukan menjadi sebuah belenggu atau dead lock dalam berusaha. Takdir harusnya menjadi motivasi agar kita berlomba-lomba dalam kebaikan untuk menang dalam permainan. 

Ditulis oleh Rahma A. Larasati 
Untuk generasi muda generasi brilian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar