.

Minggu, 31 Agustus 2014

Baru Talaq Satu dan Dua, Jangan Segera Berpisah, Ia Masih Istrimu!


Masih ada salah kaprah di masyarakat kita, yaitu ketika seorang suami menjatuhkan talak ra'jiy atau menceraikan istrinya. Maka statusnya langsung bukan suami istri . Maka baru saja talak terjadi dan belum habis masa iddah, semua sudah dipisahkan. Istri langsung
pulang ke rumah orang tua, barang-barang punya istri langsung diangkat dan harta langsung dipisahkan.


Syaikh Muhammad bin Shalih AL-'Utsaimin rahimahullah berkata,


ﻭﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻵﻥ ﻣﻦ ﻛﻮﻥ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺇﺫﺍ ﻃﻠﻘﺖ
ﻃﻼﻗﺎً ﺭﺟﻌﻴﺎً ﺗﻨﺼﺮﻑ ﺇﻟﻰ ﺑﻴﺖ ﺃﻫﻠﻬﺎ ﻓﻮﺭﺍً ، ﻫﺬﺍ
ﺧﻄﺄ ﻭﻣﺤﺮﻡ
"Manusia pada saat ini (beranggapan) status istri jika ditalak dengan talak raj'iy (masih talak satu dan dua), maka istri langsung segera pulang ke rumah keluarganya. Ini adalah kesalahan dan diharamkan." [1]


Talak satu dan dua masih bisa balik rujuk (talak raj'iy)


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,


ﻟﻄَّﻼﻕُ ﻣَﺮَّﺗَﺎﻥِ ﻓَﺈِﻣْﺴَﺎﻙٌ ﺑِﻤَﻌْﺮُﻭﻑٍ ﺃَﻭْ ﺗَﺴْﺮِﻳﺢٌ ﺑِﺈِﺣْﺴَﺎﻥٍ
"Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang baik atau menceraikan dengan baik" (Al-Baqarah: 229)


Dan selama itu suami berhak merujuk kembali walaupun tanpa persetujuan istri.
Allah Ta'ala berfirman,


ﻭَﺍﻟْﻤُﻄَﻠَّﻘَﺎﺕُ ﻳَﺘَﺮَﺑَّﺼْﻦَ ﺑِﺄَﻧْﻔُﺴِﻬِﻦَّ ﺛَﻠَﺎﺛَﺔَ ﻗُﺮُﻭﺀٍ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺤِﻞُّ
ﻟَﻬُﻦَّ ﺃَﻥْ ﻳَﻜْﺘُﻤْﻦَ ﻣَﺎ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓِﻲ ﺃَﺭْﺣَﺎﻣِﻬِﻦَّ ﺇِﻥْ ﻛُﻦَّ
ﻳُﺆْﻣِﻦَّ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻟْﺂَﺧِﺮِ ﻭَﺑُﻌُﻮﻟَﺘُﻬُﻦَّ ﺃَﺣَﻖُّ ﺑِﺮَﺩِّﻫِﻦَّ ﻓِﻲ
ﺫَﻟِﻚَ ﺇِﻥْ ﺃَﺭَﺍﺩُﻭﺍ ﺇِﺻْﻠَﺎﺣًﺎ
" Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru' (masa 'iddah). Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang
diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu (masa 'iddah), jika mereka (para suami) menghendaki ishlah " (Al Baqarah: 228).


Jangan segera berpisah


Suami istri bahkan diperintahkan tetap tinggal satu rumah. Demikianlah ajaran islam, karena dengan demikian suami diharapkan bisa menimbang kembali dengan melihat istrinya yang tetap di rumah dan mengurus rumahnya.
Demikian juga istri diharapkan mau ber- islah karena melihat suami tetap memberi nafkah dan tempat tinggal.


Dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟﻨَّﻔَﻘَﺔُ ﻭَﺍﻟﺴُّﻜْﻨَﻰ ﻟِﻠْﻤَﺮْﺃَﺓِ ﺇِﺫَﺍﻛَﺎﻥَ ﻟِﺰَﻭْﺟِﻬَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ
ﺍﻟﺮَّﺟْﻌَﺔُ .
" Nafkah dan tempat tinggal adalah hak istri, jika suami memiliki hak rujuk kepadanya." [2]


Allah Ta'ala berfirman,


ﻟَﺎ ﺗُﺨْﺮِﺟُﻮﻫُﻦَّ ﻣِﻦْ ﺑُﻴُﻮﺗِﻬِﻦَّ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺨْﺮُﺟْﻦَ ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻥْ ﻳَﺄْﺗِﻴﻦَ
ﺑِﻔَﺎﺣِﺸَﺔٍ ﻣُﺒَﻴِّﻨَﺔٍ
" Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang." QS. Ath Thalaq: 1.


Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan,


ﻭَﻗَﻮْﻟُﻪُ : } ﻟَﺎ ﺗُﺨْﺮِﺟُﻮﻫُﻦَّ ﻣِﻦْ ﺑُﻴُﻮﺗِﻬِﻦَّ ﻭَﻻ ﻳَﺨْﺮُﺟْﻦَ { ﺃَﻱْ :
ﻓِﻲ ﻣُﺪَّﺓِ ﺍﻟْﻌِﺪَّﺓِ ﻟَﻬَﺎ ﺣَﻖُّ ﺍﻟﺴُّﻜْﻨَﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺰَّﻭْﺝِ ﻣَﺎ
ﺩَﺍﻣَﺖْ ﻣُﻌْﺘَﺪَّﺓً ﻣِﻨْﻪُ، ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻟِﻠﺮَّﺟُﻞِ ﺃَﻥْ ﻳُﺨْﺮِﺟَﻬَﺎ، ﻭَﻟَﺎ
ﻳَﺠُﻮﺯَ ﻟَﻬَﺎ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﺍﻟْﺨُﺮُﻭﺝُ ﻟِﺄَﻧَّﻬَﺎ ﻣُﻌْﺘَﻘَﻠَﺔٌ ‏( 3‏) ﻟِﺤَﻖِّ ﺍﻟﺰَّﻭْﺝِ
ﺃَﻳْﻀًﺎ .
"Yaitu: dalam jangka waktu iddah, wanita
mempunyai hak tinggal di rumah suaminya selama masih masa iddah dan tidak boleh bagi suaminya mengeluarkannya. Tidak bolehnya
keluar dari rumah karena statusnya masih
wanita yang ditalak dan masih ada hak suaminya juga (hak untuk merujuk)." [3]


Istri yang ditalak raj'iy berdosa jika keluar
dari rumah suami


Al-Qurthubi rahimahullah menafsirkan,


: ﺃﻱ ﻟﻴﺲ ﻟﻠﺰﻭﺝ ﺃﻥ ﻳﺨﺮﺟﻬﺎ ﻣﻦ ﻣﺴﻜﻦ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﻣﺎ
ﺩﺍﻣﺖ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺪﺓ ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻬﺎ ﺍﻟﺨﺮﻭﺝ ﺃﻳﻀﺎً ﺍﻟﺤﻖ
ﺍﻟﺰﻭﺝ ﺇﻻ ﻟﻀﺮﻭﺭﺓ ﻇﺎﻫﺮﺓ؛ ﻓﺈﻥ ﺧﺮﺟﺖ ﺃﺛﻤﺖ ﻭﻻ
ﺗﻨﻘﻄﻊ ﺍﻟﻌﺪﺓ
"yaitu tidak boleh bagi suami mengeluarkan istrinya dari rumahnya selama masih masa iddah dan tidak boleh bagi wanita keluar juga karena (masih ada) hak suaminya kecuali pada keadaan
darurat yang nyata. Jika sang istri keluar maka ia berdosa dan tidaklah terputus masa iddahnya." [4]


Dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah dijelaskan,


ﺗﺄﺛﻢ ﺍﻟﻤﻌﺘﺪﺓ ﻣﻦ ﻃﻼﻕ ﺭﺟﻌﻲ ﺇﺫﺍ ﺧﺮﺟﺖ ﻣﻦ ﺑﻴﺖ
ﻣﻄﻠﻘﻬﺎ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺇﺧﺮﺍﺝ ﻟﻬﺎ ، ﺇﻻ ﺇﺫﺍ ﺩﻋﺖ ﺇﻟﻰ
ﺧﺮﻭﺟﻬﺎ ﺿﺮﻭﺭﺓ ، ﺃﻭ ﺣﺎﺟﺔ ﺗﺒﻴﺢ ﻟﻬﺎ ﺫﻟﻚ
" Mendapat dosa jika wanita yang ditalak raj'iy jika keluar dari rumah suaminya , asalkan tidak dikeluarkan (diusir). Kecuali jika ada keperluan darurat yang membolehkannya." [5]


Semoga bisa menimbang kembali
Mengenai ayat,


ﻟَﺎ ﺗَﺪْﺭِﻱ ﻟَﻌَﻞَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳُﺤْﺪِﺙُ ﺑَﻌْﺪَ ﺫَﻟِﻚَ ﺃَﻣْﺮًﺍ
" Kamu tidak mengetahui barangkali Allah
mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru " (Ath- Thalaq: 1).


Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan,


ﺃﻱ : ﺇﻧﻤﺎ ﺃﺑﻘﻴﻨﺎ ﺍﻟﻤﻄﻠﻘﺔ ﻓﻲ ﻣﻨﺰﻝ ﺍﻟﺰﻭﺝ ﻓﻲ ﻣﺪﺓ
ﺍﻟﻌﺪﺓ، ﻟﻌﻞ ﺍﻟﺰﻭﺝ ﻳﻨﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﻃﻼﻗﻬﺎ ﻭﻳﺨﻠﻖ ﺍﻟﻠﻪ
ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻪ ﺭﺟﻌﺘﻬﺎ، ﻓﻴﻜﻮﻥ ﺫﻟﻚ ﺃﻳﺴﺮ ﻭﺃﺳﻬﻞ .
"Istri yang dicerai tetap diperintahkan untuk tinggal di rumah suami selama masa 'iddahnya. Karena bisa jadi suami itu menyesali talak pada istrinya. Lalu Allah membuat hatinya untuk
kembali rujuk. Jadilah hal itu mudah". [6]




Disempurnakan di Lombok, Pulau seribu Masjid 11 Shafar 1434 H


Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel www.muslimafiyah.com


___________


[1] Fatawa Asy-Syar'iyyah dinukil dari: http://islamqa.info/ar/ref/122703
[2] Hadits shahih. Riwayat An-Nasa'i (VI/144)
[3] Tafsir Ibnu katsir 8/143, Darut Thayyib,
cet. III, 1420 H, syamilah
[4] Tafsir Qurthubi 18/154, Darul Kutub Al-
Mishriyah, Koiro, cet. II, 1384 H, syamilah
[5] Fatwa Al-Lajnah 20/224 no. 9097, syamilah
[6] Tafsir Ibnu katsir 8/144, Darut Thayyib,
cet. III, 1420 H, syamilah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar