.

Selasa, 26 Mei 2015

Berusaha Jauhi Dosa, Hati Kan Bahagia




Manusia punya perasaan, perasaan senang dan sedih, takut dan berani, susah dan bahagia, gelisah dan tenang. Semua perasaan itu bisa tumbuh dan hilang sesuai dengan kondisi yang ada. Ketika ibadah yang kita lakukan dengan baik akan menimbulkan ketenangan bagi perasaan kita dan sebaliknya saat dosa dan maksiat kita lakukan maka resah, gelisah serta takut selalu membayangi kita hingga dosa itu diampuni dengan taubat dan ketaatan. Banyak hal yang menjadikan kita gelisah diantaranya karena sifat iri dan dengki terhadap kelebihan orang lain.


Sifat iri pasti akan menghampiri Anda kemudian membuat gelisah, lantasberuntunglah ketika ia mampu menyikapi atau mengolah rasa gelisah itu menjadi sesuatu yang berfaedah bagi dirinya, sebaliknya kerugianlah yang ia dapatkan manakala rasa galau tersebut ia tempatkan pada posisi yang tidak semestinya, sehingga bercampur polusi yang ditebarkan oleh syaitan hingga berujung pada dosa.


Gelisah atas kebahagiaan orang lain (iri) adalah penyakit kehidupan yang terlahir dari pandangan yang dangkal dan cara pengelolaan perasaan yang keliru. Dalam sebuah drama kehidupan seringkali kita memandang suatu masalah dengan baju milik kita sendiri sedangkan kita mengetahui tak semua baju akan cocok bagi orang lain. Seperti apa pandangan kita terhadap orang lain dalam diri kita akan sangat mempengaruhi terhadap bagaimana sikap kita. Kesalahan terbesar kita seringkali melihat suatu permasalahan dengan sudut pandang hanya satu titik, tanpa mencoba melihat dari sudut pandang yang lain, dan ini yang menjadikan titik gelap dalam hati kita.


“Sumber keburukan itu ada 2, yaitu, niat yang buruk dan cara pandang yang buruk” kata Ibnu Taimiyah. Dalam kalimat tersebut dapat kita simpulkan sejatinya permasalahan itu datang dari diri kita sendiri jika kita mau mengamati. Dan ini terkait bagaimana menyikapi sebuah masalah.


Kawan, sesungguhnya kita memiliki kebahagiaan tersendiri, yang kita bangun dari pola pikir dan sangka baik (khusnudzon) terhadap apa yang kita miliki yang telah Allah karuniakan kepada kita. Kenapa harus fokus pada kekurangan kita dan kebahagiaan orang lain? Cobalah kita lihat kelebihan yang Allah karuniakan terhadap kita. Dan perlu kita ketahui sebanyak apapun yang belum kita miliki, pasti sangat sedikit jika dibandingkan dengan yang sudah kita miliki. Jika kita belum memiliki apa yang kita kehendaki, dibanding orang lain yang sudah memilikinya.


Demikian pula halnya tentang dosa, secara jujur dengan hati nurani yang bersih, siapapun yang melakukan dosa pasti hidupnya gelisah, resah dan dikejar-kejar dengan kesalahan.


Secara umum perbuatan dosa terbagi menjadi dua, yang pertama adalah dosa besar. Rasulullah dalam beberapa haditsnya secara ekspisit menjelaskan sejumlah dosa yang termasuk dalam kategori dosa besar. Seperti syirik, sihir, memakan harta riba, durhaka kepada orangtua, saksi palsu dan sebagainya. Dosa seperti ini, bila sipelaku tidak sempat bertaubat, akan mendatangkan balasan yang berat dan pedih dari Allah SWT. Artinya, taubat dari dosa besar, masih mungkin dilakukan selama yang bersangkutan sungguh-sungguh meninggalkan perkara dosa tersebut.


Disamping dosa besar, ada pula dosa kecil. Umumnya sedikit orang yang memperhatikan dosa kecil ini sebagai suatu kemaksiatan. Padahal ampunan Allah terhadap hamba-Nya yang melakukan dosa, selama tidak dilakukan berulang, lebih besar kemungkinan terkabulnya dibandingkan ampunan terhadap dosa kecil yang dilakukan kembali secara berulang-ulang.


Dosa yang dilakukan dianggap kecil akan menjadi besar oleh Allah, sebaliknya bila dosa dianggap besar, maka ia akan menjadi kecil dalam penilaian Allah, Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya seorang mukmin itu melihat dosa-dosanya sepertinya ia berada di bawah gunung besar yang ia takut menimpa dirinya. Sementara orang yang banyak dosa itu adalah orang yang melihat dosanya seperti lalat yang ada di hidungnya. Kemudian ia katakan begini [meremehkan].


Anas bin Malik Ra, diriwayatkan oleh Bukhari menyebutkan hadist,”Sesungguhnya kalian akan melakukan suatu amal yang dalam pandangan kalian amalan tersebut lebih kecil dari rambut, sementara kami menganggapnya dizaman Rasulullah sebagai dosa besar”.


Bilal bin Rabah mengatakan,”Jangan memandang kecilnya suatu kemaksiatan, tetapi lihatlah pada kebesaran Zat yang engkau lakukan maksiat terhadap-Nya”.
Kita sering mendengar kata "Dosa" dalam perbincangan sehari-hari, namun pengertiannya adalah; ''Dosa adalah apa yang tergetar di hatimu dan engkau tidak senang kalau orang lain mengetahuinya' [HR.Muslim].


Dosa adalah akibat melanggar larangan Allah baik disengaja ataupun tidak, baik besar ataupun kecil. Larangan Allah yang dilakukan manusia dapat merusak pribadi, keluarga dan masyarakatnya. Manusia adalah makhluk Allah yang diberi beberapa kelebihan dibandingkan dengan makhluk lain. Kelebihan itu diantaranya; manusia adalah makhluk Allah yang terbaik dibandingkan makhluk yang lain;"Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya " [At Tin 95;4]


Manusia adalah makhluk Allah yang termulia dibandingkan makhluk ciptaan Allah yang, kemuliaan itu terbukti diberikan Allah fasilitas untuk hidup di dunia; "Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan" [Al Isra' 17;70]


Manusia adalah makhluk Allah yang dipercaya untuk memegang amanah sehingga keimanan dapat terjaga dengan baik, bila amanah sudah dikhianati karena mencampurkan iman dengan kekafiran dan kenifakan maka akan merendahkan posisi manusia. Posisi yang jatuh kepada kerendahan martabat karena berbuat dosa, akan kembali baik bila bertaubat dengan sungguh-sungguh. "Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima Taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ' [Al Ahzab 33;73]


Manusia adalah makhluk Allah yang tersayang dengan memberikan segala apa yang ada di langit dan di bumi untuk kesejahteraan hidupnya. Namun bila perbuatan yang dilarang Allah dilakukan maka posisi ini akan merendahkan derajatnya dihadapan Allah dan masyarakatnya;"Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan dia Maha mengetahui segala sesuatu" [Al Baqarah 2;29]


Manusia adalah makhluk Allah yang pintar, sehingga mampu untuk menaklukkan dunia ini dengan ilmunya itu, walaupun malaikat sudah lama diciptakan tapi mereka harus memberi hormat kepada nabi Adam yang diberikan ilmu pengetahuan sedangkan malaikat tidak mempunyai, demikian pula karena pentingnya ilmu sehingga ayat yang turun pertama kali adalah kata-kata Iqra' yang artinya baca, selidiki, teliti dan kaji ;"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"[Al Baqarah 2;30-31]


Walau status itu diberikan Allah kepada manusia, tapi bila melakukan dosa maka status itu akan direndahkan...."Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)''[At Tin 95;5]


Ibarat pepatah yang mengatakan "karena nila setitik maka rusaklah susu sebelanga". Artinya kelebihan manusia yang diberikan Allah sehingga mendapat posisi mulia akan hancur bilamana melakukan perbuatan dosa. Rasulullahpun telah berpesan,”Hati-hatilah terhadap dosa kecil, siapa tahu begitu kamu mengerjakan dosa kecil Allah mencatatmu sebagai penduduk neraka selama-lamanya dan hati-hatilah terhadap amal yang kecil, siapa tahu ketika kalian mengerjakan amal yang kecil itu dicatat Allah sebagai penghuni syurga selama-lamanya”.


Dr. Saad Riyadh dalam bukunya berjudul Jiwa Dalam Bimbingan Rasulullah Saw, menyatakan;


Diriwayatkan bahwa Washibah al Asadi berkata,”Saya adalah orang yang cukup antusias untuk mencari tahu macam-macm amalan baik dan buruk. Setiap ada satu perkara yang saya ragukan baik atau buruknya, saya akan lansung menghadap kepada Rasulullah saw. Suatu hari, ketika saya mendatangi Rasulullah saw, di sekeliling beliau telah berkumpul banyak orang yang juga ingin bertanya tentang berbagai masalah agama.


Ketika saya bermaksud melintasi kerumunan tersebut, orang-orang serentak berkata,”Wahai Washibah, jangan mendekat kepada Rasulullah saw.” Saya lalu berkata,”Izinkanlah saya mendekati Rasulullah saw, saya paling suka berada di dekat beliau.”


Tiba-tiba Rasulullah saw berkata,”Biarkanlah Washibah mendekat!” [Kalimat ini beliau ucapkan dua atau tiga kali]. Saya kemudian mendekat sampai berada tepat di hadapan Rasulullah saw, beliau lalu bertanya,”Wahai Washibah, apakah saya yang akan memberi tahumu sesuatu atau kamu yang mengajukan pertanyaan?”. Saya menjawab,”Engkau saja yang memberi tahu.”


Rasulullah saw, kemudian bersabda,”Kamu pasti datang untuk bertanya tentang amalan-amalan baik dan dosa?”. Saya menjawab,”Benar”. Rasulullah saw kemudian mengepalkan tangannya dan memukul dada saya dengan lembut seraya bersabda,”Wahai Washibah, tanyalah hati nuranimu, mintalah pendapat kepada batinmu! [kata-kata ini beliau ucapkan tiga kali]. Kebaikan [al birr] adalah sesuatu yang batin merasa tenang ketika mengerjakannya. Sebaliknya dosa [al itsm] itu adalah yang membuat perasaan gelisah [tidak tentram] dan hati ragu-ragu ketika melakukannya meski semua orang sepakat mengatakan [bahwa pekerjaan yang engkau lakukan itu adalah baik dan benar].” [HR. Ahmad]. [Gema Insani, 2007, hal 56].


Ustadz Mashadi menyebutkan sumber-sumber dosa yang dilakukan manusia sehingga dengan dosanya itu manusia berada pada posisi hina, apakah kehinaan itu datang dari manusia ataupun dari Allah Swt, lebih jauh Ustadz Mashadi menyebutkan;
Kemudian, dosa ini dibagi dalam tiga kategori, yang masing-masing mempunyai pengaruh dalam kehidupan seseorang. Diantaranya :


Dosa mulkiyah, adalah perbuatan atau sifat makhluk yang mengadopsi sifat-sifat Allah. Seperti merasa suci, kultus, kesombongan, kesemena-menaan, merasa tinggi, kezaliman, menjajah, dan memperbudak manusia. Perbuatan ini masuk dalam katagori syirik (menyekutukan) Allah.


Karena, yang sering menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan syirik, merasa suci, berlaku sombong dengan kekuasaan dan harta yang dimilikinya. Para penguasa, pemimpin gerakan, jamaah, partai, bisa berlaku sombong, disebabkan kekuasaan yang dimilikinya. Bisa mengatur, menentukan, memerintah, dan bahkan bertindak sewenang-wenang, dan tidak ada lagi yang berani mengingatkannya.


Dirinya bisa berlaku sebagai orang suci, yang kemudian dikultuskan pengikutnya, atau menciptakan tata-cara yang membuat para pengikutnya melakukan kultus, dan pemimpin itu seolah-olah berubah menjadi seorang tuhan, yang kemudian dapat menentukan nasib seseorang. Seseorang menjadi bergantung hidupnya kepada mereka yang memiliki kuasa. Entah itu para penguasa, pemimpin gerakan, jamaah, partai dan organisasi, jika tidak ada lagi yang dapat mengingatkan bisa berubah menjadi ‘tuhan’.


Barangsiapa yang menjadi pelaku jenis dosa ini, maka ia telah merampas ketuhanan dan kerajaan (kedaulatan) Allah dan menjadi tandingan bagi-Nya. Ini adalah dosa yang paling besar disisi Allah dan amal perbuatan yang baik tidak gunanya.
Betapa banyak manusia yang sekarang telah berlaku dan berubah dirinya menjadi tuhan, karena hanya sedikit memiliki kekuasaan, kekayaan, dan kesempatan (waktu), dan kemudian mereka mengubah sifat-sifat dasar mereka, dan mereka berubah menjadi ‘tuhan-tuhan’ yang sejatinya tidak layak.


Dosa syaithoniyah adalah dosa di mana palakunya menyerupai perilaku dan sifat setan, seperti melampui batas, penipuan, dengki, memakan harta yang haram, makar, memerintahkan perbuatan maksiat kepada Allah, menghiasi kemaksiatan dengan kebaikan, melarang melakukan ketaatan kepada Allah, melakukan bid’ah, serta mendakwahkan bid’ah dan kesesatan. Ini dosa yang akan menjerumuskan para pelakuknya ke dalam neraka jahanam.


Betapa banyak manusia yang berwujud manusia, tetapi perbuatan mereka seperti setan, dan menjadi hamba setan. Perbuatannya selalu durhaka dan melawan kepada Allah. Tidak mau bertahkim (berhukunm) dengan hukum Allah, dan hanya mengikuti hwa nafsunya, yang akhirnya menjerumuskan diri mereka ke dalam kesesatan yang nyata. Tetapi, mereka masih berani mengatakan yang mereka kerjakan adalah kebajikan. Inilah orang-orang yang sudah menjadi pengikut setan.


Dosa bahimiyah adalah binatang, yang menampakkan pelakunya berbuat kejam dan biadab, seperti menumpahkan darah, melakukan peperangan, menindas kaum yang lemah, dan menghancurkan kehidupan mereka. Dengan tanpa merasa menyesal atas perbuatan mereka.
Manusia berubah menjadi binatang buas, hanya mengikuti syahwat perut dan seksual. Dari sini lahir perzinahan, pencurian, memakan harta yang haram, memakan harta anak yatim, bakhil, pelit, penakut, keluh-kesah, yang menyebabkan manusisa sudah tidak lagi memiliki landasan hidup yang benar.
Manusia telah terjatuh ke dalam bentuk baru, sebagai binatang. Karena menjadi bahimiyah, dan menjauhkan dari perintah dan larangan dari Allah Ta’ala.[Sumber-Sumber Dosa Manusia? Eramuslim.com.Senin, 20/09/2010 13:59 WIB].


Sungguh tidak punya perasaan bila manusia selalu berbuat maksiat dan dosa kepada Allah tapi hatinya tenang saja bahkan mungkin merasa bahagia dengan dosa dan maksiat yang dilakukannya itu, sebenarnya yang merasakan gelisah terhadap dosa dan maksiat bukanlah sikap atau aktivitas fisik pelakunya, tapi hati nuraninya yang menyatakan demikian, tapi dia masih bisa menutupi kegelisahannya karena tidak sanggup untuk meninggalkan dosanya sebab syaitan masih menggelayuti nafsu dan syahwatnya.


Prof Dr Yunahar Ilyas menceritakan kisah seseorang pemabuk yang datang kepadanya menyatakan sudah terlambat taubat karena begitu rusaknya akibat perbuatan dosa yang dilakukan, lebih lanjut beliau menceritakan hal itu pada tulisannya di bawah ini;


Suatu hari, selesai memberikan pengajian di sebuah masjid, seorang jamaah mendekati dan menyalami saya. Tampaknya ada sesuatu yang mau disampaikan. Tetapi, karena masih ada jamaah lain maka pembicaraan kami bersifat umum saja. Setelah jamaah lain pamit dan tinggal kami berdua, barulah dia mulai menyampaikan persoalannya. "Sekarang saya baru sadar Ustaz."


Sambil melihat sekeliling, memastikan tidak ada jamaah yang datang, dia melanjutkan. "Begitu pandainya saya menyembunyikan, sehingga tidak ada yang tahu." Saya mulai menduga-duga ke mana arah pembicaraan. Sepertinya dia mau memberikan sebuah pengakuan. Barangkali dia berselingkuh, istri, mertua, orang tua, dan teman-temannya tidak tahu. Sekarang betapa banyaknya laki-laki berselingkuh dan pandai menyembunyikan perselingkuhannya.


"Menyembunyikan apa, Pak?" tanya saya. Karena dia tidak segera menjawab, saya sampaikan dugaan yang ada dalam pikiran saya. "Maaf, apa Bapak berselingkuh?" Dia malah tertawa. "Bukan Ustaz, saya tidak punya potongan untuk berselingkuh. Saya dulu peminum Ustaz." Dia diam sebentar, sepertinya mengingat masa mudanya. "Sejak muda saya sudah peminum. Bermacam-macam minuman keras sudah saya coba. Mula-mula yang berkadar alkohol rendah, lalu meningkat dengan kadar alkohol yang lebih tinggi. Sampai kemudian saya menikah."


"Apakah setelah menikah Bapak masih minum?" Dia menjawab masih minum. "Apakah mertua, terutama istri Bapak tidak melarangnya?" selidik saya. "Di situlah masalahnya Ustaz. Saya pandai sekali menyembunyikannya. Tidak ada yang tahu," jawabnya sambil sesekali melihat kiri kanan khawatir ada yang datang.


"Hebat sekali Bapak menyembunyikannya. Bertahun-tahun jadi peminum kok tidak ada yang tahu." Mendengar pujian saya bernada sinis itu dia tersenyum, tapi senyumnya kecut. Rupanya Bapak itu pandai mengatur kapan minum, di mana boleh minum, dan di mana tidak minum. Barangkali dia juga pandai mengatur di mana dan jam berapa boleh mabuk. Jarang peminum yang bisa menyembunyikan kebiasaan buruknya itu dalam waktu cukup lama dari keluarganya.


"Sekarang tentu Bapak sudah taubat kan?" tanya saya. Kalau orang sudah rajin shalat berjamaah di masjid dan mendengarkan pengajian, dapat dipastikan sudah bebas dari hal-hal semacam itu. Tidak mungkinlah peminum rajin ke masjid. Dengan anggukan dia menjawab, "Ya, Ustadz. Saya sudah taubat, tapi sudah terlambat." Segera saya yakinkan dia, bahwa tidak ada istilah terlambat untuk taubat. Selagi nyawa masih di kandung badan tetap dapat bertaubat. "Betul Ustaz," jawab dia.


"Kalau hubungannya dengan dosa, mudah-mudahan dosa saya diampuni oleh Allah SWT. Tetapi dari kesehatan, saya sudah terlambat sadar. Dokter menyatakan liver saya sudah berlobang akibat sering minum minuman keras. Beberapa waktu lalu saya dirawat di rumah sakit, karena perut saya bengkak." Saya kemudian membesarkan hatinya, semoga penyakitnya segera disembuhkan Allah SWT.


Itulah pertemuan saya yang terakhir dengan jamaah tersebut. Beberapa waktu kemudian dia meninggal dunia setelah kembali dirawat karena sakit livernya. Sering orang baru sadar dengan larangan Allah SWT setelah mengalami akibatnya sendiri.[Terlambat Sadar, Republika.co.id.Minggu, 15 Januari 2012 04:30 WIB].


Hidup akan gelisah bila selalu berbuat dosa dan maksiat, kemanapun akan lari, pada satu masa pelarian itu akan berakhir, sampai kapanpun juga, satu ketika pengakuan akan diucapkan bahwa dosa-dosa dan maksiat yang dilakukan itu membuat hati gelisah sehingga perlu adanya taubat kepada Allah Swt, taubat yang disampaikan kepada Allah mendatangkan ketenangan hati karena dosa-dosanya telah diampuni Allah. Sebagai contoh Nabi Adam As, selalu mohon ampun kepada Allah karena telah melakukan kesalahan yaitu memakan buah khuldi di syurga, padahal Allah telah menyampaikan pesan, silahkan memakan semua buah-buahan yang ada di syurga tapi jangan dekati satu pohon itu, surat Al Baqarah 2;35-38 Allah berfirman;


“dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu Termasuk orang-orang yang zalim.”


“lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu[38] dan dikeluarkan dari Keadaan semula[39] dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan."


“ kemudian Adam menerima beberapa kalimat[40] dari Tuhannya, Maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”


“Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, Maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati".


Dosa yang diampuni akan menjadikan manusia hidupnya tenang, tidak khawatir lagi dengan bayangan dosa yang selalu mengejarnya sehingga tidurnya tidak nyenyak dan makannya tidak enak. Orang yang bertaubat yang kemudian taubatnya diterima Allah maka dia akan tenang, tidak bersedih hati sebab kesalahan dan dosanya telah diampuni oleh Allah, taubat yang sebenar-benarnya taubatlah yang disebut dengan taubat nasuha yang akan diampuni Allah. Untuk itulah sebelum melakukan kesalahan, dosa dan maksiat selayaknya disadari bahwa semua itu akan membuat hati tidak tenang, gelisah, resah dan penuh ketakutan, apalagi saat kematian mendekatinya kelak. Wallahu A’lam 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar