.

Selasa, 26 Mei 2015

Mengkaji Nilai Ketabahan Rasulullah SAW



Rabi’ul Awal dikenal sebagai bulan kelahiran Rasulullah SAW. Sebab, beliau lahir tanggal 12 Rabi’ul Awal. Bagi umat Islam, memperingatinya seharusnya tak sekedar serimonial belaka. Harus bisa mengambil pelajaran dari sejarah kehidupan Rasulullah SAW. Meski mengkaji sejarah kehidupan Muhammad bin Abdullah tidak hanya di bulan Rabi’ul Awal saja.


Mengkaji sejarah kehidupan Nabi SAW sejatinya seperti kondisi kota Medan yang belakangan ini selalu dicurahi air hujan. Kondisi hati muslim yang mengkaji sejarah hidup Rasulullah SAW bak bumi ketika hujan pertama turun setelah musim kemarau panjang. Kegersangan yang membuat tanah kering, daun-duan kering berwarna cokelat, dan dinding-dinding rumah dipenuhi debu, lenyap seiring jatuhnya butir-butir air dari langit.


Kesejukan hadir dan menyentuh kulit, bau air yang segar mampir ke hidung, menghadirkan rasa nyaman tiada tara Hati yang panas menjadi dingin. Dunia seperti membara menjadi tentram.


Itulah gambaran hati seorang mukmin ketika mampu menikmati sisi-sisi kehidupan Rasulullah SAW. Apalagi sisi ketabahannya dalam menjalani kehidupan dan menyebarkan dakwah Islam. Tidak sedikit kita menemukan kisah-kisah memilukan yang dialami Nabi Saw. Laki-laki mulia itu mesti menjalani ketentuan pahit saat warga Thaif menzhaliminya sampai terluka. Darah segar juga mengucur dari wajah sucinya saat beliau terluka dalam perang Uhud. Belum lagi tangisnya yang suci tak mampu menghalangi ketentuan Allah mewafatkan orang-orang tercintanya. Yaitu, isteri terkasih, Khadijah; paman pembelanya, Hamzah dan Abu Thalib.


Namun Rasulullah SAW tidak pernah protes kepada Allah. Ketika disakiti dan dihadirkan musibah, ia tetap tabah. Apa kunci keistimewaan Rasulullah? Tak ada lain adalah iman kepada qadha dan qadar . Rasulullah SAW mampu ‘menaklukkan’ takdir, sehingga dirinya mampu sabar dan tabah menjalani kehidupan.


Dalam kehidupan nyata, beriman kepada takdir barangkali hal yang paling berat dilakukan, karena sifatnya yang konret. Hati manusia cenderung goyah jika dihadapkan pada takdir yang menghadirkan kepedihan. Allah dengan kuasa dan rahmat-Nya menghadirkan sekian banyak takdir dalam rentang hidup manusia sebagai hal yang mesti.


Makanya, Imam Asy-Saukani menyatakan, mengimani takdir adalah hal yang paling besar dalam keimanan. Pemahaman yang mendalam ihwal hal ini akan membuat keimanan seseorang bertambah tinggi. Hanya mukmin sejati dan hamba yang saleh yang mampu mengimaninya dengan sempurna. Mampu untuk ridha dan rela menerima ketentuan Allah yang baik dan buruk.


Keridhaan tersebut akan terus berserang dalam hati seorang mukmin sejati selama hatinya konsisten mengimani takdir. Kerelaan dan keridhaan tersebut tampak nyata saat mukmin tersebut tidak menyalahkan apa dan siapa pun ketika satu atau serentetan bencana menerpanya. Hati seorang mukmin sejati tetap lapang dan segala kesulitan tampak mudah, karena hatinya telah diteguhkan dengan iman kepada qadha dan qadar.


Itulah yang tampak pada diri Rasulullah Saw. Sosok yang begitu kuat dan tak pernah merasa tersakiti meski para sahabatnya ‘geram’ melihat pribadi yang menyakiti Nabi SAW. Tahukah kita mengapa Rasulullah SAW bisa sabar menghadapi kesulitan yang dialaminya? Semua kita tahu, tapi belum mampu atau belum mau menirunya.


Rasulullah SAW meyakini bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, sadar Allah adalah penciptanya, dan menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Nabi SAW juga mengerti hidupnya hak penuh Khaliknya. Apa yang dilakukan Rasulullah Saw ibarat filosofis, jika seorang pemilik kebun berhak menanam apa pun dan menjual kebun itu, tentulah Allah berhak menghadirkan apa pun tas hidup hamba-hamba-Nya.


Dari sini, kita belajar bahwa kemudahan dan kelapangan hati itu akan berbalik berganti rasa sempit dan susah jika keimanan mengendur. Hati bakal memberat dan dada seperti dihimpit batu besar, ketika tidak memiliki pemahaman yang totalitas terhadap takdir. Karena itu, agar memiliki iman kepada qadha dan qadar yang mantap, Rasulullah SAW mengajarkan doa, “Allahumma inni a’udzubuka min jahdil balaa-I wa darkisy syaqqa-I wa suu-il qadhaa-I wa syamaatatil a’daa-I” (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari qadha buru, kesedihan teramat sangat, himpitan bencana serta kegembiraan musuh-musuh)


Tidak ada pertentangan antara mengimani takdir dan doa agar diberi kekuatan atau permohonan agar dihindarkan dari takdir buruk. Sebab, hanya Allah SWT yang tahu tentang urusan detail takdir. Takdir-Nya memang sudah tertentu dan bersifat mutlak, tapi kasih sayang-Nya yang besar dan mampu mendamaikan.


Sehingga seburuk apa pun takdir yang dialami tak akan berefek sedikit pun bagi hamba-hamba yang terpilih sebagai kekasih-Nya. Itulah yang kita saksikan dalam kehidupan Rasulullah SAW. Ia tetap tabah menjalani dakwah, meski rintangan luar biasa. Namun akhirnya, karunia dan hal yang menggembirakan cepat datang menemui Rasulullah SAW. Di antaranya, melakukan isra’ dan mi’raj.


Di sini juga kita belajar tentang ihsan. Ketika pintu iman kepada qadha dan qadar telah mantap akan membuka pintu ihsan. Inilah yang diklaim oleh Rasulullah SAW sebagai puncak tertinggi spritualitas. Ketika sudah mampu membuka pintu ihsan, ia beribadah bagaikan langsung melihat Allah SWT. Apa pun yang terjadi tampak baginya ‘pekerjaan’ Allah. Sehingga, mau baik dan buruk yang dialaminya tidak menjadi permasalahan. Mau ada pujian atau tidak dari manusia, tidak menjadi pikirannya.


Bila sudah mampu menggapai pintu ihsan, Allah Swt sendiri melalui hadis qudsi memberikan gambaran tentang pribadi ihsan. Rasulullah SAW bersabda, Allah Swt berfirman, “Seorang hamba yang berusaha mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah yang Aku wajibkan dan Aku sunnahkan, maka Aku akan mencintainya. Bila aku mencintainya, Aku menjadi telinganya untuk mendengar, matanya untuk melihat, tangannya untuk digerakkan, dan kakinya untuk berjalan. Jika ia memanjatkan doa, Aku akan mengabulkan. Jika ia memohon perlindungan, Aku pasti melindunginya. Aku tidak pernah ragu untuk melakukan sesuatu seperti keraguank-Ku ketika mencabut nyawa seorang hamba-Ku yang mukmin. Aku membenci apa yang dibencinya.” (HR. Bukhari)


Walhasil, mengkaji sejarah Rasulullah SAW sejatinya menggiring kita untuk mengkaji sifat terpujinya yang selalu tabah dalam mengarungi hidup dan menyebarkan dakwah. Pelajaran ketabahan seperti ini layak untuk terus dikaji agar melahirkan pribadi ihsan seperti apa yang dimiliki Rasulullah SAW.


*Penulis adalah Anggota Komisi Informasi dan Komunikasi (INFOKOM) MUI Kota Medan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar