.

Jumat, 31 Agustus 2012

Air Mata Kerinduan



Suatu hari, Rasulullah saw sedang duduk dengan air mata yang berurai. Melihat keadaan beliau, para sahabat pun bertanya, "Apa yang membuatmu menangis, wahai Rasulullah? Beliau menjawab, "Aku rindu kepada saudara-saudaraku?

"Bukankah kami ini saudara-saudaramu, wahai Rasulullah," sergah para sahabat beliau. "Bukan. Kalian adalah sahabatku. Sedangkan saudara-saudaraku adalah kaum yang datang setelah (kepergian) ku, mereka beriman kepadaku dan tidak pernah melihat aku," tegas Rasulullah saw. (Sirah Ibnu Hisyam)

Rasulullah saw telah menitikkan air mata karena kerinduan beliau pada umatnya yang tak pernah dilihatnya, pada semua manusia yang beriman kepada beliau hingga di akhir zaman, pada kita yang telah bersaksi atas kerasulan dan kenabiannya. Namun, pernahkah kita membalas kerinduan itu dengan deraian air mata? Adakah kita menitikkan air mata karena merindukan pertemuan dengan beliau. Kapan terakhir kali mata kita basah dengan air mata karena cinta dan rindu yang mendalam kepada beliau?

Beliau menangis karena rindu kepada kita, tapi kita mungkin tak pernah sekali pun menangis karena rindu kepada beliau. Bilal bin Rabah ra, sahabat beliau saw yang berasal dari negeri Etopia, yang berkulit hitam namun berhati salju, punya banyak kenangan spesial pada beliau mulia yang menjadi panutannya. Kenangan itu melekat dan mendarah daging dalam dirinya, hingga jauh setelah Rasulullah saw wafat. Agar hatinya taktercabik-cabik oleh kenangan bersama beliau, Bilal ra memutuskan untuk tak lagi melantunkan adzan setelah kepergian beliau saw. Sampai suatu ketika, rindu itu tak tertahankan, dan ia pun lalu mengumandangkan adzan.

Kisah itu diawali dengan cerita Bilal ra tentang mimpinya di suatu malam, bertemu dengan lelaki terkasih itu. Lelaki yang pernah jadi budak itu, melihat Rasulullah saw dalam tidurnya, bertemu dengannya, dan mengatakan "Wahai Bilal, betapa rindu aku padamu.

Bilal menceritkan mimpi yang sangat indah itu kepada seorang sahabat. Lalu, sahabat itu bercerita pula ke sahabat yang lain. Dan selanjutnya, cerita itu terus berpindah dari satu orang ke orang yang lain. Tak butuh waktu lama, cerita sudah merebak. Menjelang sore, nyaris seluruh penduduk Madinah, kota yang sudah lama ditinggalkannya, tahu tentang mimpinya itu. Maka penduduk Madinah pun bersepakat meminta Bilal ra untuk mengumandangkan adzan di masjid Rasulullah saat waktu shalat Maghrib tiba.

Tak kuasa Bilal menolak keinginan sahabat-sahabatnya. Di saat senja mulai memerah, Bilal mengumandangkan adzan, dengan lantunan suaranya yang khas. Penduduk Madinah seketika tercekam kerinduan. Rasa dalam dada membuncah, detik-detik bersama Rasulullah, manusia tercinta itu, kembali terbayang di pelupuk mata. Akhirnya, pendudukMadinah pun menitikkan air mata rindunya. Tak terkecuali Bilal ra, muadzin pertama Rasulullah itu diliputi keharuan dan kerinduan pada kekasihnya, Muhammad saw, nabi akhir zaman.

Dalam rindu pada Nabi saw ada pahala dan ada tangis. Tapi kadang kita tak mampu menghadirkannya disini. Entah kapan terkahir kali kita menitikkan air mata karena rindu kita pada Rasulullah.

Source: Tarbawi Edisi 235 telah diedit tanpa menghilangkan makna aslinya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar